Ziarah Iman Bekas Tahanan

0
39

Peresensi : Adi Warsidi

“Penangkapan oleh Taliban menandai titik balik dalam hidup Yvonne Ridley: awal perjalanannya menuju Islam dan keputusannya untuk berkomitmen menjadi aktivis perdamaian.” – The Guardian

Judul Buku : Dari Penjara Taliban Menuju Iman
Penulis : Anton Kurnia
Penerbit : Mizan Media Utama (MUU)
Tebal : 190 halaman

Bisakah status bekas tahanan membelokkan iman? Membuat sorang wartawati yang kritis membela korban perang berubah menjadi mualaf dalam dua tahun sesudahnya. Lalu kemudian berjuang untuk keadilan bagi Islam di Eropa. Yvonne Ridley telah melakoninya dalam sebuah kisah panjang ziarah iman.

Kisah ini ditulis oleh Anton Kurnia dengan rapi, untuk kosumsi lokal di Indonesia. Cerita bermula saat Yvonne Ridley mendapatkan tugas meliput perang di Afganistan, beberapa hari setelah serangan 11 September 2001, serangan teroris yang menghancurkan menara World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat (AS).

AS menuduh Osama Bin Laden dengan Al-Qaida ada dibalik itu. Dan Afganistan di bawah rezim Taliban diduga melindungi Osama. AS pun merencanakan serangan balasan ke sana. Ivonne mendapat tugas berat dari medianya kala itu, Sunday Express dan Daily Express yang berpusat di Inggris. Liputan langsung dari medan yang bakal perang.

Yvonne adalah senior di jajarannya, diapun berangkat via Pakistan dan masuk dengan menyamar sebagai perempuang Afganistan ke wilayah itu. Yvonne terpaksa harus memakai burka (pakaian wanita Afganistan) yang panas dan tak bebas.

Di sinilah awal petualangannya, Anton sang penulis mulai memainkan ketegangan bagi pembaca. Yvonne tertangkap saat kedapatan memotret diam-diam, ketika hendak keluar dari Afganistan setelah melakukan liputan. Pemerintah Taliban melarang pemotretan di wilayahnya.

Sial baginya, mereka menuduhnya sebagai mata-mata Amerika atau Inggris. Dia pun ditahan di sebuah penjara yang jauh dari layak. Di luar sana, peluru-peluru kendali dijatuhkan dari pesawat pem-bom untuk serangan balasan bagi Afganistan yang menolak memberikan Tuan Osama.

Sepuluh hari ditahan adalah petualangan tersendiri bagi Yvonne. Dia diperlakukan dengan baik oleh Taliban, kendati balasan darinya sungguh buruk. Yvonne memberontak dengan meludahi dan mogok makan. Dia tak disentuh sampai akhirnya dibebaskan.

Perlakuan baik itulah yang menimbulkan kesan baginya terhadap Islam, dan diapun mempelajarinya kemudian di Inggris. “Aku terpukau oleh apa yang kubaca… menurutku kata-kata di Alquran amat menakjubkan dan masih relevan di zaman sekarang…,” kutipan Yvonne pada halaman 125.

Petualangan pun membuncah setelah dia kembali lagi ke Afganistan untuk tugas selanjutnya. Dan setelah dua tahun ditahan oleh Taliban, dia membaca syahadat menyatakan keislamannya. Ada juga pertentangan dari rekan-rekannya saat itu. Tekadnya bulat dan penuh intrik. Sampai rela meninggalkan kebiasaan buruk merokok, diskotik dan seks bebas.

Setelah Islam hiasi hatinya, Yvonne masih terus menulis sebagai aktivis pembela Islam atau setidaknya meluruskan pandangan dunia barat terhadap agama ini.

Anton meracik bukunya dengan baik, kendati tak bertemu langsung dengan Yvonne. Kisah utamanya diambil dari tulisan Yvonne sendiri dalam bukunya: In The Hands of Taliban dan Ticket of Paradise.

Penulis juga menyajikan info-info detail tentang Afganistan pada saat itu, dari jalan dan kondisi kota. Tetapi masih saja dengan memakai referensi buku-buku lain. Inilah salah satu kelemahan dari buku ini, Anton adalah orang ketiga dalam petualangan Iman Yvonne.

Lainnya, Anton kadang terlalu beropini lewat tulisannya. Memuji terlalu lambung sang wartawati muslimah itu. Misalnya pada halaman 133, Anton menulis: “… betapa dia telah menemukan ziarah yang menakjubkan. Dia akhirnya menemukan akar spriritualitasnya ribuan kilometer dari negeri kelahirannya saat disekap di sebuah negeri asing…”

Tapi apapun, Anton telah memulainya dengan bagus. Layak dibaca semua kalangan sebagai referensi bagi keteguhan iman bagi yang Islam, atau sekedar pengetahuan tentang dunia Islam bagi yang non Islam. Selamat membaca petualangan iman sang wartawati Inggris.

ACEHKINI, Maret 2008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here