Yang Lawas di PKA

0
91

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 menjadi ajang mengenal aneka barang lawas, peninggalan para leluhur dulunya. Benda itu dipamerkan pada stand-stand di arena PKA yang digelar sejak 5 Agustus sampai 15 Agustus mendatang, di Banda Aceh.

Lokasi dihelatnya PKA menyebar di beberapa tempat, seperti di Blang Padang, Taman Ratu Safiatuddin, Museum Aceh dan Taman Sari. Bukan hanya pameran benda, ada juga kuliner dan ragam atraksi budaya Aceh lainnya.

Manuskrip Kuno | Foto-foto: Pusat Informasi Sekretariat PKA-7

Benda sejarah dipamerkan di Museum Aceh, di lantai tiga gedung tersebut misalnya dapat ditemukan manuskripo kuno dan lukiaan ‘Istana Darud Donya’ masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ada juga batu-batu nisan masa silam, aneka keramik dan manuskrip kuno dengan ragam bahasan, dari ilmu pemerintahan, tentang obat-obatan sampai kitab ramalan perjodohan dan bencana. Juga ada Alquran yang ditulis tangan dan berusia ratusan tahun.

Selain di Museum Aceh, benda-benda lawas dipamerkan pada berbagai anjungan di komplek Taman Ratu Safiatuddin. Di anjungan Aceh Timur misalnya, ada sejumlah benda peninggalan Kerajaan Peureulak, sisa kolonial Belanda sampai pedang samurai saat Jepang menguasai nusantara.

Salah satunya adalah keris milik Kerajaan Peurelak yang masih awet. Senjata itu konon adalah hadiah dari salah satu raja di Pulau Jawa pada abad ke 15. Juga ada samurai Jepang yang dipamerkan, pemberiaan pasukan negara itu saat masuk Peureulak dulunya.

Ada juga sebuah miniatur Meriam milik Portugis bertarikh 1651 Masehi dan meriam hadiah Sultan Turki kepada Kerajaan Peureulak di anjungan Aceh Timur. Kisah-kisah benda itu mampu dijelaskan oleh pemandu di sana dengan baik.

Yang unik lainnya ada di anjungan Kota Langsa. Sebuah alat tukar rupiah setelah warga tak lagi memakai mata uang Belanda, usai kemerdekaan republik. Alat tukar itu bernama bon kontan, bukan seperti uang kertas saat ini.

Bon itu diikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia sebelum mencetak uang kertas, nilainya beragam dari Rp 100 sampai Rp 250. Bayangkan, kalau misalnya masih dipakai sekarang, maka semua orang bisa memalsukannya dengan mudah. Tanda bayar di anjungan Langsa tertulis dicetak pada Januari 1949. Percetakannya dilakukan di Balee Juang Langsa, yang kini menjadi museum di sana.

Masih ada waktu lima hari lagi bagi sesiapa yang ingin mengunjungi PKA ke-7, atau harus menunggu lima tahun lagi pada PKA selanjutnya. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here