Wartawan TNI atau GAM? Meliput Konflik #3

0
48
[Dok Pribadi]

12 Desember 2004, aku berangkat dari Tapaktuan, Aceh Selatan setelah liputan kondisi pengungsi konflik di Lhok Bengkuang. Tujuan berikutnya, masuk ke kamp pengungsi di Keutapang, Calang, Aceh Jaya. Warga mengungsi karena terpaksa, diusir Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau tentara pemerintah Indonesia karena kampung mereka selalu terjadi kontak senjata.

Aku menumpang mobil L-300, tujuan Tapaktuan – Banda Aceh. Di dalammya telah ada beberapa penumpang, aku menempati deretan ketiga bersama yang lain. Mobil tersebut kemudian singgah sebentar di Gampong Dalam atau Meunasah Dalam di Kecamatan Sama Dua, sopir mengatakan akan mengambil seorang penumpang di sana.

Sesampai di sana, seorang penumpang naik bersama anaknya. Ada yang aneh di rumahnya, tertulis dengan cat merah ‘GAM’ disertai sebuah nama. Tanda itu lazim ditemukan saat konflik Aceh, penanda yang dibuat aparat pemerintah kepada rumah yang anggota keluarganya terlibat GAM. Kulihat, penumpang di mobil memelototi rumah dan perempuan baru naik itu.

Dia duduk pada deratan di depanku. Sambil keluar dari kampung tersebut, kuperhatikan ada beberapa rumah di sana yang bertanda sama. Kukeluarkan kamera dan memotretnya, salah satunya seperti gambar di atas, data foto bertanggal 12 Desember 2004 pukul 10.39 WIB.

Perempuan itu tak banyak bicara, sesekali menenangkan anaknya yang masih kecil. Kesempatan bicara bicara dengannya tak mungkin bisa kudapat di dalam mobil. Aku sabar saja sampai di mobil berhenti di Blang Pidie, Aceh Barat Daya untuk memberikan kesempatan kepada kami rehat dan makan siang.

Dia tidak turun karena membawa bekal, kesempatan bagiku bertanya. Mengaku bernama Nur, dan aku memanggilnya Kak Nur. Setelah beramah tamah, lalu bertanya tentang makna tulisan di dinding rumahnya. Dia balik bertanya, “adik anggota ya?”

Anggota merujuk pada sebutan untuk TNI atau Polisi. Aku heran, karena penampilanku jauh dari mirip dengan aparat. Hanya saja rambutku yang panjang melewati bahu, mungkin saja dicurigai sebagai intelijen atau mata-mata.

“Saya wartawan kak, asal banda Aceh,” kataku menebar senyum seramah mungkin. Dia kembali mengajukan pertanyaan, “wartawan TNI atau wartawan GAM?” Aku tercekat seperti sedang diinterogasi. Kujelaskan posisiku yang independen dan tak berorientasi ke pihak manapun. Kak Nur masih membantah karena keyakinannya ada wartawan yang memihak. Aku tak berdebat dan diam sambil menghela nafas panjang.

Sejenak kemudian sepertinya dia percaya kepada ku. Kak Nur kemudian bercerita ihwal tanda merah di rumahnya. Adiknya adalah anggota GAM yang bermarkas di hutan-hutan Aceh Selatan. Dia tak pernah pulang lagi ke rumah setelah TNI/Polisi mengencarkan operasi besar-besaran di sana.

Sulit juga menghadapi pertanyaan “wartawan TNI atau GAM” seperti itu. Tapi setidaknya aku telah mendapatkan jurus bahwa tidak terlalu ngotot saat menghadapi orang-orang yang curiga seperti Kak NUr, akan membuatnya percaya kepada kita. [Bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here