Tanpa Tambo, Tarawih Akhir di Meunasah Tuha

0
24
Meunasah Tuha kampung kami

Setelah lima jam perjalanan dari Banda Aceh, tibalah aku di kampung halaman, jelang berbuka puasa 13 Juni 2017. Nanti malam tarawih terakhir Ramadan tahun ini dan besok hari puasa terakhir disusul Hari Raya Idul Fitri.

Gampong (desa) Pante Baro Gle Siblah, Kabupaten Bireuen tak bisa lepas dari kehidupanku. Di sanalah tempat tumbuh dari kecil dibesarkan kedua orangtua. Mereka masih ada, kewajiban ku sebagai anak adalah menjenguknya di hari suci, lebaran Idul Fitri. Maka ramailah rumah kami, abang dan adik-adikku beserta keluarganya berkumpul bersama.

Perubahan kebiasaan terlihat jelas dalam perilaku warga di bulan Ramadan. Saat berbuka puasa, tak ada lagi suara Tambo (bedug) yang dipukul pemuda pemberi tanda waktu di meunasah (tempat ibadah), beralih ke tombol sirene memakai dipancarkan melalui toa pengerasa suara.

Syukur, masih ada tradisi iftar di meunasah. Warga secara bergilir menyiapkan makanan berbuka secara bergiliran, berbagi rezeki dan membangun kebersamaan. Pengurus gampong, pemuda berbaur di sana. Aku tak berbuka di meunasah, memilih di rumah bersama orangtua.

Memasuki waktu isya dan tarawih, aku bergegas ke meunasah. Beberapa sahabat kecil menyapa ramah, sebagian yang di perantauan seperti ku juga telah mudik. Suasana ramai, kami bicara sejenak sebelum salat.

Tahun ini, kondisi komplek meunasah berantakan. Sebuah bangunan belum siap terlihat di bagian depan, kayu-kayu pancang dan batu bata masih berserak. Bangunan yang rencananya sebagai meunasah baru itu diapit kantor PKK dan kantor desa. Meunasah Tuha (lama) ada di bagian belakangnya, hampir tak terlihat.

Meunasa Tuha, hanya bangunan panggung seluas 12 x 12 meter. Tempat itu dipertahankan tak dirusak sejak lama, kendati di halaman dan sekitarnya telah dilakukan revovasi berkali-kali. Malam itu kami tarawih di bawahnya. Aku terbayang suasana berpuluh tahun lalu saat kecil di sana.

Keberadaan Meunasah Tuha telah ada sejak masa kemerdekaan. Kayu-kayu meranti lama menyokong bagian atasnya dirancang sistem pasak. Kayu lat untuk penopang atap diikat memakai tali ijuk, bukan paku. Belakangan atapnya telah diganti seng, sebelumnya daun rumbia.

Pak Husen, tetua gampon bercerita, meunasah itu telah mengalami beberapa kali renovasi. “Bagian tiang dan atapnya tak berubah, masih seperti dibangun dulu,” katanya. Renovasi pernah dilakukan beberapa kali, seperti pada tahun 1957, lalu pada tahun 1975 dengan mengganti beberapa papan kayu dinding. Dulu salat jamaah masih memakai bagian atas, sementara bagian bawah untuk ragam kegiatan warga.

Selanjutnya periode 1980-an, bagian bawah direhap dengan memperluas tempat salat. Bagian atas kerap dipakai para pemuda tidur pada malam harinya. Tradisi lama, anak muda menginap di meunasah sambil menjaga keamanan kampung.

Kurasa ada lagi perbedaan kini dan dulu di meunasah kami. Ketika bicara dengan Keuchik Muliadi dan beberapa pemuda gampong sampai tengah malam, kukatakan tentang tidak terdengar tadarus (membaca Alquran) sampai sahur di meunasah. “Kalau masa kita dulu, tadarus sebuah kebanggaan anak desa,” kata Effendi, sepupuku yang juga baru mudik.

Kami juga bicara perubahan, tentang tak ada lagi Tambo yang membangunkan sahur warga. Dulu, usai tadarus, kami menambuh tambo bergantian sebelum pulang ke rumah untuk menyantap makanan. Irama tambo diatur baik sehingga enak didengar. Dum… dum … dum … dak dum… dak dum… dak dum dum. Lagi-lagi, Tambo berganti sirene.

Penasaran, siang tadi aku menuju meunasah untuk melihat masih adakah Tambo kami. Benda itu masih terletak di sana, hanya tak bisa dipukul lagi karena bagian depannya dari kulit lembu sudah robek. Tak diperbaiki lagi, karena sirene dinilai lebih praktis.

Setelah Tambo usang, tahun depan Meunasah Tuha juga tidak digunakan lagi untuk salat, menyusul siapnya meunasah baru yang lebih mentereng. Kata Pak Keuchik, Meunasah Tuha tetap dipertahankan sebagai tempat pengajian. Harus dijaga sebagai warisan benda.

Malam saat memposting konten ini, bulan Ramadan pergi meninggalkan kita. Syawal menjenguk, lalu dengan setulus hati izinkan saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah. Minal aizin wal faizin, Mohon maaf Lahir dan Batin. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here