Syekh Abdurrauf pada Sebuah Masa

0
126

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) baru saja menggelar seminar publik tentang Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili, mengenalnya sebagai tokoh dalam perkembangan Pendidikan di Aceh. Tiga pemateri; Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, Sejarawan Unsyiah Dr. Adli Abdullah dan Akademisi UIN Ar Raniry Prof Misri memaparkan pengetahuannya tentang ulama besar abad ke-17 di Kampus Unsyiah, Banda Aceh, Kamis 8 November 2018.

Nama Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili atau Tgk Syiah Kuala besar hingga kini, ditabalkan sebagai nama universitas terbesar di Aceh. Selain menjadi nama kampus, juga sebagai nama kecamatan dan nama jalan di Banda Aceh. Makamnya masih abadi di Gampong Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala.

Kata Rektor Samsul Rizal, Syekh Abdurrauf berpengaruh di masanya bagi Kesultanan Aceh. Keberadaannya membuat Aceh dikenal sebagai pusat pendidikan di Asia Tenggara. Dia ulama besar dan banyak fatwanya dipakai hingga kini.

Diskusi tentang Syekh Abdurrauf di Unsyiah | Dok. Humas Unsyiah

Adli Abdullah memaparkan Syekh Abdurrauf juga penulis hebat yang mengarang sejumlah kitab. Salah satunya kitab fatwa perempuan bisa menjadi Raja. Ini pula yang belakangan menjadi rujukan Benazir Bhutto saat meraih Perdana Menteri Pakistan. Padahal saat itu, negara tersebut masih ribut soal pemimpin perempuan. Beliau juga yang pertama menerjemahkan Alquran dalam bahasa Melayu, yang selanjutkan menjadi rujukan terjemahan bahasa Indonesia.

Produktif menulis pula, kata Prof. Misri membuat Tgk Syiah Kuala dikenal luas. Dalam catatanya, ulama itu menulis 37 buku sepanjang hidupnya. Beliau juga punya banyak murid yang menyebarkan ilmunya ke seluruh dunia. “Ini harus menjadi teladan buat kita.”

Syekh Abdurrauf arau Syiah Kuala lahir pada 1591 M ini. Keluarganya berasal dari Persia yang menetap di Singkil sejak abad ke-13. Saat muda, dia dikirim ayahnya belajar ke Saudi Arabia. Lalu pulang dan menetap di Bandar Aceh, pusat Kerajaan Bandar Aceh Darussalam.

Syiah Kuala menjadi Kadhi Malikul Adil Kerajaan setelah Iskandar Muda mangkat. Dia membantu menjaga istana Darud Donya semasa empat Sultanah memimpin Aceh; Ratu Safiatuddin (1641-1645), Ratu Naqiatuddin (1675-1678 ), Ratu Zakiatuddin Syah (1678-1688) dan Ratu Kamalat Syah (1688-1699).

Dia wafat di masa Kamalat Syah, tahun 1696 dalam usia 105 tahun. Dia mewariskan sebuah pengajian kepada para muridnya, di Deyah Raya, tempat makamnya hingga kini berada.

Makamnya tak pernah sepi dari penziarah, sama seperti kampus yang mengambil nama besarnya, Universitas Syiah Kuala. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here