Susuri Hutan Aceh, Kiprah Pasukan Gajah dari Trumon

0
18

Adi Warsidi

Banda Aceh – Empat gajah berjalan beriringan. Tuah melangkah gagah di depan, disusul Siska lalu Nani dan terakhir Bayu. Di atasnya masing-masing Mahout memandu berjalan dari Corservation Response Unit (CRU) Trumon ke sebuah sungai. Ingin mandi pagi.

Tempo bermalam di rumah mereka Sabtu dua pekan lalu, 16 April 2016, Desa Naca, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, sekitar 500 kilometer dari Banda Aceh. Kawasan itu berada dalam Koridor Alam Leuser, penghubung Suaka Marga Satwa dengan areal Taman Nasional Gunong Leuser (TNGL).

Pasukan gajah jinak itu kerap dipakai untuk mengusir gajah liar di seluruh Aceh. “Yang terbaru adalah mengusir gajah yang masuk pemukiman di Kota Subulussalam,” kata Koordinator Mahout CRU Trumon, Fransisco Sirait alias Koko.

Ada dua gajah yang mendatangi wilayah perumahan di sana, satu induk dengan satu anaknya. Gajah itu terjebak kembali di pemukiman, setelah melintasi perkebunan sawit. Gajah Tuah dan rekannya kemudian dipakai untuk menggiring mereka kembali ke hutan.

Koko mengisahkan, pengalamannya yang menegangkan adalah saat menghadapi kawanan gajah di sebuah desa berbatas hutan Kabupaten Bener Meriah, November 2015. Ada 48 gajah liar yang masuk pemukiman, mengganggu dan memaksa warga mengungsi.

Gajah Tuah yang terbesar di seluruh CRU di Aceh memimpin pasukan. Koko Mahoutnya. Juga bergabung Bayu, Nani dan Siska. Beberapa gajah jinak dari CRU lainnya di Aceh ikut memback-up.

Tuah dan Bayu yang punya gading semeter adalah gajah petarung yang dilatih untuk tempur mengusir gajah liar. Tuah sempat berkelahi dengan salah satu pemimpin gajah liar saat penggusiran. Mahout Koko mengendalikan di atasnya. Karena terlatih, Tuah menang. “Gajah itu tahu perasaan Mahoutnya. Kalau kita ragu memerintah serang, maka gajah juga akan ragu,” kata Koko.

Alhasil, kawanan gajah liar berhasil diusir dari kawasan perumahan. Warga dan pemerintah setempat kemudian membangun parit barier agar gajah liar tak masuk kampung lagi.

Menurut Koko, Gajah Tuah dan Bayu awalnya liar yang ditemukan pada 2007 dan 2008. Keduanya kemudian dilatih di pusat pelatihan gajah Aceh di Seulawah, Aceh Besar. Dua tahun dilatih, gajah menguasai ragam ilmu bertarung maupun atraksi sampai 60 persen. Kemudian dipindahkan ke CRU dan dilatih lebih mantap lagi. Mahout sepenuhnya bertanggung jawab.

Keberadaan CRU Trumon banyak membantu meredakan konflik gajah dan manusia di Aceh.

Peutua Desa Naca Trumon, Azuhri mengatakan sebelum keberadaan CRU di sana, beberapa kali terjadi gangguan gajah di wilayahnya. Disebabkan oleh lahan sawit dan adanya kilang kayu yang terus merusak hutan. Pada tahun 2005 misalnya, “ada puluhan gajah yang masuk kampung, merusak kebun-kebun.”

Warga kemudian menyambut baik ketika CRU dibangun di sana pada 2012. CRU Trumon berdiri atas inisiatif Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Yayasan Leuser Internasional, Tropical Forest Conservation Act, USAID, dan Tim Indonesia Forest and Climate Support (IFACS).

CRU Trumon dengan pasukan gajahnya, kini tak hanya menjaga Trumon, tapi juga membantu mengusir gajah-gajah liar di seluruh Aceh yang mengganggu kampung. “Mereka masuk kampung karena manusia merusak wilayah mereka, yang terpenting adalah bagaimana menjaga hutan,” nasihat Koko. *** [tempo.co]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here