Smong, Kearifan Bencana di Simeulu

0
388
Nandong di Desa Dihit, Maret 2013 | Dok Adi Warsidi

Jika di pesisir Aceh daratan mengenal Ie Beuna, Kepulauan Simeulu mengenal tsunami dengan Smong. Cerita-cerita rakyat tentang smong masih terus diwariskan hingga kini di kepulauan yang berbatasan dengan Samudera Hindia.

Kendati masuk wilayah Aceh, karakter sosial budaya dan politik di Simeulu berbeda dengan wilayah Aceh daratan. Bahasa yang digunakan di sana juga berbeda. “Sampai kini, masyarakat di sini menjaga kearifan itu,” kata Abdul Karim, Kepala Dinas Pariwisata Simeulu kepada saya, 14 November 2018.

Menurutnya, selain disampaikan melalui syair Nandong (dendang) yang diiringi alat musik, kearifan lokal tentang smong mulai dituliskan untuk menjadi bahan pembelajaran bagi siswa-siswa di Sekolah yang ada di Simeulue.

Addul Karim mengisahkan, Smong telah dikenal sejak lama, setelah tsunami di Simeulu yang terjadi pada 4 Januari 1907. Oleh warga, kisah itu kemudian dituturkan dalam cerita dan syair bahkan untuk mengantar tidur anak-anak. Sampai kini, semua orang di sana paham jika gempa dan membuat air laut surut, bergegaslah ke bukit-bukit karena berpotensi terjadinya tsunami.

Salah satu bait syair yang dituturkan sejak lama, paling dikenal adalah sebagai berikut; Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli, Maheya mihawali fano me singa tenggi, Ede smong kahanne. (Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat kalian yang lebih tinggi, Itulah smong namanya).

Kata ‘smong’ dan kejadian tsunami 1907, pernah ditulis dalam buku Martinusnijhof,  S-Gravenhage, tahun 1916, oleh penulis Belanda. Saat itu Simeulu masih di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Karena kearifan lokal itu, saat gempa dan tsunami Desember 2004 melanda Aceh, hanya enam warga Simeulue yang menjadi korban.

Foto: Adi Warsidi

 

Seiring waktu, syair-syair dikarang lebih banyak memasukkan unsur kekinian. Awal Maret 2013 lalu, saya mengunjungi kawasan itu merekam kisah-kisah yang terserak tentang Simeulu yang berdiri di atas wilayah bencana linon (gempa) dan ancaman smong (tsunami) yang datang tak tentu masa. “Kami punya kearifan lokal, jika gempa bergegaslah ke bukit,” kata Kepala Desa Dihit, Labuan Sani kala itu.

Dia menggagas sebuah sanggar seni, Maredem Maso yang bertugas merawat kisah turun temurun tentang smong, setelah tsunami besar Desember 2004 silam. Berdendang seperti lagu untuk lebih dikenal di pesta dan pentas-pentas, tak sekadar dendang penidur anak.

Menurutnya, kisah-kisah smong masih terus diceritakan dengan baik hingga kini. “Begitulah cara kami merawat kearifan lokal dan pengetahuan mitigasi bencana.”

Saya sempat melihat aktivitas mereka ber-Nandong diiringi gendang, Labuan Sani menggeleng-geleng kepalanya dengan urat leher membesar, bernandong dalam bahasa Simeulu. Begini kutipan sebagian syairnya;

Aher tahon duo ribu ampek (Akhir tahun dua ribu empat) // Akduon mesa singa mangila (Tak seorangpung yang mengetahui) // Pekeranta rusuh masarek (Pikiran kita kalut semua) // Aceh fulawan nitimpo musibah (Aceh emas ditimpa musibah).

Sumeneng bano tandone linon (Senyap alam tandanya akan gempa) // Huru-hara ata bak kampong (Huru hara orang dalam desa) // Mataot ata mangida smong (Takut akan datang tsunami) // Bakdo nga tantu bano humoddong (Tidak tentu arah berlarian).

Huru-hara ata bak kampong (Huru hara orang dalam desa) // Mataot ata smong ne mali (Takut orang tsunami besar) // Molo ngang tantu bano humoddong (Sudah tentu tempat berlari) // Delok sibau rok tanggo basi (Gunung Sibao di tanggo basi). []

Note: Sebagian naskah ini dimuat di Koran Tempo Edisi 17 November 2018 dan Majalah Tempo edisi khusus 10 tahun tsunami, Desember 2014.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here