Rumah Pengasuh Anak Kanker Aceh

0
54

Oleh: Adi Warsidi

Dua anak santai bercanda ditemani dua ibu di halaman rumah yang sempit. Satu dipanggil Azrina (4 tahun) dan satu lagi Dila (8 tahun). Tak seperti anak biasa, Azrina bertubuh kurus dan Dila dengan benjolan dan bekas luka di bagian matanya.

Saat sya datang bersama empunya rumah, Ratna Eliza, Rabu sore 27 Juli 2016, mereka menghampiri. “Ayo salami tamu,” kata Ratna. Mereka patuh.

Di dinding depan rumah, sebuah spanduk bertulis ‘Rumah Singgah C-Four (Children Cancer Care Community) Aceh’, di bawahnya ada tulisan ‘Salurkan Donasi Anda’ lengkap nomor rekening.

Hampir setahun, rumah itu menjadi tempat singgahan bagi penderita kanker, terutama anak-anak dari seluruh wilayah Aceh, yang berobat di rumah sakit paling lengkap di Aceh, Rumah Sakit Umum Dr Zainoel Abidin (RSUZA).

Letaknya tak berjauhan dengan rumah sakit, hanya satu kilometer. “Ini memudahkan mereka bolak-balik rumah sakit untuk pengobatan,” kata Ratna, pengagas Rumah Singgah C-Four.

Ratna akrab dengan penderita kanker sejak awal Januari 2014, saat menggagas Komunitas Peduli Anak Kanker. Pada 12 Agustus nama itu berganti C-Four yang fokus membantu anak-anak penderita kanker.

Rumah singgah sendiri baru dicetus pada 1 Desember 2015. “Dengan adanya rumah singgah, membantu keluarga pasien dan memudahkan urusan mereka di rumah sakit. Tidak harus bolak-balik ke daerah sebentar-sebentar,” katanya.

Ide awalnya adalah pada rasa kemanusiaan. Pada akhir 2013, Ratna pindah dari Riau ke Banda Aceh dan berkerja di salah satu SMU. Dia tinggal di Gampong Beurawe. Kala itu, Annisa (4 tahun) anak tetangganya diketahui mengindap kanker getah bening dan sedang dalam perawatan. Ratna rutin mengikuti perkembangan Annisa.

Orangtua si anak mengabarkan, Annisa dirujuk untuk pengobatan lanjut ke RS Dharmais, Jakarta. Biaya obat dan perjalanan ditanggung BPJS. Tentu biaya lain seperti penginapan dan makan keluarga tidak ditanggung.

Muncul inisiatif Ratna untuk mengumpulkan uang lewat media sosial. Kawan-kawannya banyak yang simpati dan sejumlah uang sedikit membantu keluarga pasien. Saat Ratna berniat untuk menjenguk Annisa ke Jakarta, ada pesan yang masuk ke Handphonenya, meminta bantuan untuk perawatan satu anak lagi penderita kangker, bernama Airan (1,5 tahun).

Ratna urung ke Jakarta. Dia mengumpulkan lagi bantuan untuk Airan dan mendampinginya ke RSUZA. Dia menjalani perawatan kemoterapi. Tetapi Tuhan berkehendak lain, Airan yang menderita kangker mata, meninggal 23 Maret 2014.

Tak lama berselang, Annisa juga meninggal dalam perawatan di RS Dharmais pada 6 April 2014. “Setelah kedua anak yang saya dampingi meninggal, saya down, kegiatan membantu anak-anak kangker vakum sebentar,” kata Ratna.

Di penghujung 2014, Ratna dihubungi ayah dari Azizi, penderita kangker dari Kabupaten Bireuen, untuk minta bantuan dan didampingi. Setelah melihat kondisi anak di RSUZA, Ratna terenyuh. Dia membantu menggalang lagi dukungan.

Azizi pun akhirnya dipanggil Tuhan, dia meninggal pada 13 Februari 2015. Ratna kembali trauma. Tapi ayah Azizi memberinya semangat. “Tolong ibu jangan berhenti, masih banyak Azizi-Azizi lain yang membutuhkan bantuan,” katanya menirukan ucapan orangtua si anak.

Selanjutnya, Ratna terus meluangkan waktu untuk membantu. Pasien yang didampingi selanjutnya berasal dari Meukek, Aceh Selatan, bernama Rahmat yang yatim piatu dan menederita kangker tulang ganas. Rahmat juga meninggal pada Mei 2015.

Sepanjang kerja kemanusiaannya, Ratna telah mendampingi 45 anak penderita kangker dari seluruh wilayah Aceh. Dalam catatan lengkap di bukunya, sebanyak 20 anak meninggal dunia karena penyakitnya. Selebihnya sembuh dan masih dalam pengobatan.

Selain anak-anak, ada 5 orang pasien dewasa yang dibantu. Satu di antaranya telah meninggal.

Selain mendampingi pasien, menurut Ratna, C-Four juga membantu biaya makan dan tempat tinggal bagi anak dan keluarga pendamping selama perawatan di RSUZA. Banyak yang datang dari wilayah yang jauh dari Banda Aceh. “Tidak ada batasan waktu mereka mau tinggal di sini sampai kapan, artinya sampai sembuh,” ujarnya.

Pasien anak yang biasanya ditemani ibunya, datang siling berganti ke Rumah Singgah C-Four yang terdiri dari 3 kamar. Biasanya siklus seminggu dan dua minggu sekali selama perawatan di RSUZA. Di Rumah Sakit pun, Ratna sudah dikenali sebagai pendamping pasien kanker.

Donasi umumnya datang dari personal dengan menyebarkan nomor rekening dan kampanye melalui media sosial. Banyak juga pejabat yang ikut serta membantu secara pribadi. Sejauh ini, donasi selalu ada. “Belum ada kebijakan pemerintah untuk membantu,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah dapat membantu membangun rumah singgah karena memang dibutuhkan. Pengelolaannya bisa dilakukan mereka. “Rumah ini sewa tahunan.”

Selain kesibukannya di C-Four, Ratna juga kerap mengisi sosialiasi dan seminar terkait kangker anak, yang diadakan LSM maupun lembaga pemerintah. “Juga sosialisasi ke ibu-ibu arisan misalnya.”

Ratna tak sendiri mendampingi anak kangker. Saat ini C-Four punya 20 relawan yang membantunya sehari-hari. Misalnya membeli keperluan rumah singgah dan mendampingi pasien saat menjalani kemoterapi di RSUZA.

Salah satunya Muhammad Fadhil, mahasiswa yang tergerak menjadi relawan. Tugasnya membantu membawa pasien ke rumah sakit dan mengurus kebutuhan sehari-hari di Rumah Singgah.

Sejumlah kendala memang dialami.”Kendala biasanya di rumah sakit. Saat bawa kadang lama harus nunggu waktu. Kadang juga cepat,” ujarnya.

Lainnya tak ada kendala berarti. “Yang penting dijaga juga bagaimana membuat anak penderita kanker senang di sini dalam menjalani pengobatan,” kata Fadhil.

***
Azrina tak berhenti menangis di gendongan ibunya, Laila Wati (45 tahun). “Dia baru selesai di-kemoterapi tadi, mungkin masih kurang nyaman,” katanya.

Anak penderita kanker Rhabdom Sarcoma terlihat kurus. Pada usianya yang empat tahun, beratnya hanya 9,5 kilogram. Banyak tumbuh benjolan-benjolan kecil di sekujur tubuhnya. “Selama sakit, jalanya susah,” kata Laila.

Azrina adalah pasien lama yang telah ada sejak keberadaan Rumah Singgah C-Four. Dia dan ibunya berasal dari Kabupaten Bener Meriah, kerap bolak-balik ke RSUZA Banda Aceh untuk perawatan.

Dia mengakui, keberadaan rumah singgah sangat membantu. Segala keperluan makan dan tempat tinggal tak perlu dipikirkan lagi. “Sangat membantu kami,” ucapnya.

Hal sama dikatakan Ratnawati (30 tahun), ibu dari Dila yang berasal dari Aceh Tamiang. Dila mengalami tumor ganas di matanya. “Sekarang sudah lumayan sembuh setelah operasi dan kemoterapi, dulunya besar sampai setengah kilogram,” katanya.

Dila sudah menjani perawatan selama delapan bulan. Keluarganya berkenalan dengan Ratna, saat di rumah sakit. “Ibu Ratna mengajak kami, kalau lagi perawatan ke rumah sakit, bisa menginap di rumah singgah,” kata Ratnawati.

Di rumah singgah, mereka merasa nyaman karena selalu merasa didampingi saat berurusan dengan rumah sakit. Saat ini, rumah singgah ditumpangi oleh 8 pasien anak penderita kangker, bersama ibu mereka. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here