Riwayat Balee Inong #4: Potret Sukses Perempuan Banda

0
43
Gallery Balee Inong Lampulo

Tak pernah sepi, para wisatawan datang menikmati objek wisata Kapal di Atas Rumah, Gampong Lampulo Banda Aceh. Di sana, mereka dilayani para pemandu yang menjelaskan tentang sejarah objek yang berkaitan erat dengan peristiwa tsunami Aceh, hampir 13 tahun silam. Kapal itu adalah bukti kedahsyatan tsunami, yang diseret ombak dari perairan dan tersangkut di sebuah rumah warga.

[Akhir 2017 lalu, saya merekam aktivitas perempuan yang sukses dengan sebuah program di Banda Aceh, Balee Inong. Tulisan menjadi bahan untuk buku “Mencipta Inovasi” bergabung dengan cerita dari 6 wilayah inovasi lainnya di Indonesia terkait pembangunan berkelanjutan. Buku terbitan Pusat Data dan Dokumentasi TEMPO (PDAT), Desember 2017]

Beberapa kedai kecil tampak di lokasi, menawarkan buku-buku bacaan, minuman, makanan sampai oleh-oleh khas Aceh yang bisa dibawa pulang. Salah bernama Gallery Balee Inong, terletak persis di sisi objek Kapal di Atas Rumah.

Gallery Balee Inong memakai sebuah rumah, yang difungsikan menjual segala kerajinan tangan dan makanan oleh-oleh khas Aceh. Sekilas tak ada yang istimewa di gallery itu, saat saya berkunjung. “Di sini, semua kerajinan tangan dan makanan untuk oleh-oleh yang dijual, adalah hasil produksi para perempuan yang tergabung dalam Balee Inong seluruh Banda Aceh,” kata Fauziah, Ketua Balee Inong Mufakat, Lampulo.

Fauziah, Ketua Balee Inong Lampulo

Dia sendiri punya bisnis pribadi membuat ‘Keumamah’ atau ikan kayu (makanan khas Aceh) yang dijual ke seluruh Aceh bahkan kerap menjadi oleh-oleh bagi pengunjung. Produksinya dikenal luas, bahkan menjadi menu bawaan jamaah Haji Aceh yang akan ke Tanah Suci.

Fauziah mengakui keberadaan Musrena maupun Balee Inong mampu membuat perempuan lebih aktif dari sebelumnya. Dia selalu mengikuti Musrena dan Musrembang untuk memperjuangkan aspirasi perempuan di gampongnya. Kegiatan yang kerap diajukan perempuan misalnya pelatihan keahlian, public speaking, manajeman usaha dan lainnya. “Kami selalu disarankan untuk tidak mengajukan kegiatan fisik dan infrastruktur.”

Hampir saban bulan mengadakan pertemuan di gedung Balee Inong setempat. Mereka membahas berbagai macam pengetahuan terkait perempuan. Sukses membina lembaga di gampongnya, Fauziah kerap mendapat undangan untuk menjadi pemateri maupun peserta dalam kegiatan perempuan di kabupaten/kota lain di Aceh maupun wilayah lainnya di Indonesia. Dia juga berkewajiban menurunkan ilmu bagi Balee Inong di kecamatan lainnya di Banda Aceh.

Balee Inong Mufakat Lampulo membawahi 6 gampong dengan jumlah pengurus 35 orang. Anggotanya otomatis semua kaum hawa di wilayah tersebut. Balee Inong Mufakat paling sukses di Banda Aceh dalam urusan pemberdayaan perempuan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Prof Yohana Susana Yembise, pernah mengunjungi tempat itu pada 27 April 2015 silam.

Kantor Balee Inong Mufakat | Dokumen Illiza

Idawati Ishak, Angota Balee Inong Lampaseh mengakui manfaat Balee Inong sangat besar buat mereka. Dia menyebut, lembaga itu di gampongnya menjadi wadah berkumpul para ibu membangun diskusi, belajar guna mengembangkan potensi. “Kami kerap mendapatkan pelatihan seperti public speaking dan pelatihan terkait kesehatan dan Pendidikan dari dinas kota.”

Hal sama diakui oleh Ketua Balee Inong Gemilang, Kecamatan Jaya Baru, Cut Yusnita. Dia mengatakan perempuan di desanya mulai aktif setelah Balee Inong ada. Anggotanya selalu diundang berbagai lembaga, jika ada pelatihan peningkatan kapasitas.

Balee Inong di gampongnya aktif membina perempuan dalam berbisnis, seperti usaha bordiran mukena, membuat aneka kue dan makanan untuk dijual. Produk dijual secara tradisional dan setelah mengikuti pelatihan membuat website, mereka akan mencoba memasarkan secara online.

Balee Inong mencatat sukses setelah lebih sepuluh tahun berkiprah di Banda Aceh. Sampai akhir 2017, tercatat 400-an usaha kecil yang didominasi perempuan. Pemerintah kota Banda Aceh juga punya kebijakan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi perempuan dengan mengadakan kredit bergulir melalui Bank Pengkreditan Rakyat. [Bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here