Riwayat Balee Inong #2: Kala Perempuan Bicara Membangun

0
24
Foto: bandaacehkota.go.id

Musyawarah Rencana Aksi Perempuan (Musrena) didaulat menjadi forum tersendiri yang terpisah dari laki-laki. Mereka lebih leluasa dalam menyampaikan aspirasinya tanpa harus merasa segan atau takut dibantah oleh kaum bapak. Pemerintah Kota Banda Aceh mendukung penuh, Illiza telah menjadi Wakil Wali Kota hasil Pilkada 2006.

[Akhir 2017 lalu, saya menulis tentang gerakan pemberdayaan perempuan yang dinilai sukses di Banda Aceh. Tulisan ini bagian dari buku “Mencipta Inovasi” berkisah tentang tujuh wilayah inovasi di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan. Buku diterbitkan TEMPO, Desember 2017]

Jelang Musrembang Banda Aceh 2007, Musrena dimunculkan dengan mengumpulkan perempuan di gampong-gampong untuk diberikan pelatihan, pemahaman terkait perencanaan pembangunan. Setelahnya, mereka diminta mengusulkan program pembangunan sesuai kebutuhan perempuan. Musrena pertama disupport penuh sebuah lembaga donor asal Jerman.

Usulan perencanaan digabungkan dan dipilah sesuai skala prioritas dan kebutuhan kota secara umum. Selanjutnya, keinginan para perempuan dibawa dalam Musrembang 2007 di tingkat Kecamatan lanjut ke kota. Perwakilan perempuan dari Musrena yang ikut Musrembang berjuang mempertahankan aspirasinya.

Selanjutnya Musrena menjadi bagian tak terpisahkan dengan Musrembang yang telah diatur sistemnya sedemikian rupa oleh pemerintah. Dalam praktiknya, usulan dari Musrena maupun Musrenbang disatukan menjadi usulan strategis Kota Banda Aceh. Alokasi dana diatur berdasarkan prioritas dan kebutuhan warga. Pembangunan tidak melulu pada fisik, namun juga bidang sosial kemasyarakatan.

Setahun berjalan, inovasi Kota Banda Aceh itu mendapat penghargaan Gender Award dari Pemerintah Jerman. “Keberadaan Musrena terbukti memperkuat posisi perempuan dalam porses pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan yang selama ini didominasi oleh laki-laki,” kata Illiza.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Banda Aceh, Badrunnisa (dulu masih staf di Bappeda Banda Aceh), yang ikut membidani lahirnya Musrena mengisahkan banyak usulan perempuan yang masuk untuk perencanaan pembangunan. Usulan umumnya bukan berbentuk fisik dan infrastuktur, tapi lebih kepada pemberdayaan dan penataan kota yang lebih baik. Misalnya pengelolaan sampah, akses air bersih, lampu penerangan jalan sampai kepada pemberdayaan ekonomi perempuan di gampong-gampong.

Salah satu usulan pada Musrena 2007 misalnya adalah terkait pengelolaan sampah di Banda Aceh. Pemerintah menyambut baik ide itu dan salah satu lembaga Jerman bersedia membantu. Sampah di gampong kemudian dikelola menghasilkan kompos, yang dibeli Pemerintah Kota Banda Aceh untuk pupuk bagi taman kota. “Ide ini sangat menarik dan menambah pemasukan bagi warga,” kata Badrunnisa.

Dokumen pribadi

Tantangan dan Solusi

Di awal program, banyak kendala muncul. Para pengambil kebijakan di gampong bahkan di Pemerintah Kota Banda Aceh belum terlalu paham terkait kesetaraan gender. “Apalagi bicara pembangunan, perempuan selalu dinilai tidak mampu. Di bawah terus,” kata Illiza.

Masalah itu terpecahkan dengan memberi pemahaman kepada pengambil kebijakan secara umum tentang pentingnya keikutsertaan perempuan dalam merencanakan pembangunan. Illiza, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Wali Kota ikut menyampaikan hal tersebut ke dinas-dinas. Bahkan dalam rapat pemerintahan terkait pemberdayaan perempuan, Illiza meminta yang hadir harus kepala dinas, tak diwakili bawahannya.

Kendala lain muncul di kalangan perempuan sendiri, banyak yang tak paham dalam perencanaan pembangunan. Pada Musrena pertama misalnya, ketika mereka diminta usulan program, ide yang muncul sama dengan laki-laki pada umumnya, seperti pembangunan jalan, saluran dan usulan infrastruktur. Padahal usulan itu selalu mendapat tempat dalam Musrembang.

Setelah mereka mendapatkan pemahaman kembali terkait usulan. Barulah perubahan terjadi, muncul usulan pemberdayaan ekonomi perempuan, pelatihan kapasitas perempuan, pelayanan kesehatan, pendidikan, toilet khusus perempuan di tempat umum, adanya ruang menyusui di tempat umum sampai kepada lampu penerangan di jalan-jalan.

Pemberdayaan perempuan terus menerus menjadi solusi, mengingat Musrena hanya dijalankan secara tahunan. Sesuai rekomendasi Musrena pertama, maka dibentuklah Balee Inong (Balai Perempuan) di desa-desa sebagai tempat berkumpul para perempuan. Di sana perempuan berdiskusi rutin untuk memberdayakan dirinya. “Balee Inong adalah tempat perempuan perencana berdiskusi, sementara Musrena menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi,” kata Badrunnisa. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here