Rindu Terobati di Markas Bireuen

0
84
Dok. Misbah

Malam terakhir di kampung halaman, Bireuen, aku menyempatkan diri singgah di Star Black Coffee. Warung yang terletak di pusat Kota Juang itu menjadi tempat kumpul para steemian, menjadi tuan rumah bagi rekan lain yang kebetulan singgah atau lewat kawasan itu.

Salasa malam lalu, aku bergerak ke sana setelah mengabarkan kepada beberapa kawan. Silaturahmi dalam suasana lebaran adalah tujuan utama, sekaligus mengobati rindu bersama mereka. Bulan lalu, aku sempat singgah di sana, tapi tak kutemukan siapapun. Baca: Salah Jadwal

Sekitar pukul delapan lewat sedikit, aku sudah memesan Sanger atau minuman kopi dicampur sedikit susu. Tak lama bergabung @jubagarang yang memang tinggal di Bireuen. Selanjutnya datang @nasir83 yang masih berada di sana, dia beraktivitas di Banda Aceh, sama seperti ku.

Tak ada @albertjester, sang pemilik tempat. “Bang Albert masih di kampung, di Pidie,” kata seorang pelayan saat kutanya. Hanya ada dua bahasan yang kami bincangkan, soal #steemit dan gese.io, sebuah media sosial baru yang mirip.

Dok Misbah

Setelah @jubagarang membagikan gambar kami di grop WhatsApp Komunitas Steemit Indonesia (KSI) Chapter Bireuen, maka ramailah suasana. Datang bergabung @misbahjuli dan @tinmiswary. Sesaat memesan minuman dan bicara lagi.

Dua kawanku, @jubagarang dan @nasir83 bertanya tentang #steempress yang selama ini selalu kupakai untuk memposting tulisan. Plugin yang tertanan di WordPress ini telah berhasil mengawinkan blog dengan steemit. Menariknya, @steempress-io memberikan vote yang lumayan tinggi saat plugin ini digunakan.

Aku dan @tinmiswary bergantian menjelaskan. @jubagarang tertarik dan berencana membuat blog untuk menjalankan program baru ini. Sementara @nasir83 langsung meminta ku mengajari sesampai di Banda Aceh nanti. “Ada blog lembaga, nanti kita pakai saja untuk materi yang cocok,” katanya.

Source: https://wordpress.org/plugins/steempress/

Tak lama kemudian, Ketua KSI Bireuen @bahagia-arbi datang, disusul @juni-s yang merupakan kawan dekatku saat kuliah dulu. Suasana semakin ramai dalam silaturahmi yang kental. Kami pindah ke meja yang lebih lempang, ternyata di sana ada @yahqan yang kebetulan singgah sebentar untuk ngopi, dalam perjalanannya dari Banda Aceh ke Lhokseumawe.

Sampai pukul sembilan malam, suanana makin riuh beberapa yang lain ikut bergabung. Sempat kutanyakan keresahan kepaad @bahagia-arbi tentang kemungkinan nilai tukar SBD naik lagi, seperti akhir tahun lalu. “Naik bang, tenang saja. Pertengahan tahun lalu, kondisinya lebih buruk dari sekarang,” katanya menyakinkan kami.

Saat ini, nilai SBD memang sedang terpuruk. Saat menulis ini, nilai tukarnya ke Rupiah hanya Rp 17.739 per SBD. Kenyataannya,  kondisi ini mengendorkan semangat sebagian kawan dalam membuat postingan. “Maka jangan beban, terus hasilkan konten,” Ketua @bahagia-arbi. Di sinilah kadang kebersamaan penting, saling memberi semangat.

Source: https://www.coingecko.com/id/grafik_harga/steem-dollars/idr

Malam itu, rinduku terobati setelah lama tak berjumpa dan hanya berhubungan lewat pesan-pesan pendek di grop WA. Sampai aku meninggalkan Star Black Coffee pukul sepuluh lewat, mereka masih berkumpul berbagi cerita. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here