Rindu itu, Sungguh Licik

0
37

Aku jarang melihat orang-orang sebagai ‘manusia’ tapi ‘Manusia’ dengan ‘M’ besar. Itu pula ketika mereka tak bisa kutemui atau telah pergi, aku rindu. Entah dari mana datang rasa itu, padahal mereka bukan kerabatku.

Ini bukan seperti rindu pada kampung halaman, pada sawah, pada gunung dan sungai-sungai yang mengalir jernih di hulu-hulu sana. Tak juga seperti rindu pada kekasih lama, tapi mungkin hampir sama. Ini seperti candu, seperti ganja campur rokok commodore kesukaan dulu.

Suatu hari kusampaikan rasa itu kepada kawan dekat. “Persetan,” katanya. “Dia juga bukan kekasihmu. Hanya karena kau merasa dekat, sementara dia tidak,” sambungnya.

Aku tak berkutik pada kata kawanku yang licik ini. Kendati kutahu dia tak ikhlas mengucapkan, mungkin untuk membesarkan hati ku saja. Dia lebih tua sekitar lima tahun di atasku. Kualihkan bicara pada rencana kawin lagi -hanya gurauan- dan si licik menyambut riang.

Kawanku atau lebih tepat sahabat, kusebut licik karena lihai dalam segala urusan. Orang jenius saja bisa diolahnya dengan kata. Apalagi orang tak bersekolah tinggi, yang kemudian kaya mendapat beberapa proyek. Mudah saja dipengaruhinya.

Bagiku, licik berada satu tingkat di atas jenius. Dua tingkat di atas pandai, dan seterusnya sampai tingkatan bodoh dan tolol.

Berkawan dekat dengannya karena satu hal saja, aku tak pernah membantahnya. Dan aku tahu beberapa rahasia konyolnya, saat dia belum selicik sekarang.

Mengalihkan bicara tentang kawin lagi, adalah caraku membaca kelemahannya. Dan ini lebih bagus, mendengar kebodohan yang dikisahkan daripada harus mendengar ceramah yang membuatku merinding, nasehat-nasehat yang kuakui benar.

Lalu, dia menerawang dengan Tajol Mulok-nya tentang sifat perempuan yang dilihat dari nama dan bentuk fisiknya. Cara dia bercerita kadang memuakkan, tapi kudengar saja karena sedikitnya aku bisa membuang rindu. “Sekarang kau tahu, perempuan mana yang cocok jika kau mau kawin lagi?” Aku tertawa saja, pura-pura senang.

Dia meneruskan kisah tentang mantra ‘sir ka sir’ yang mujarab untuk menjerat hati pasangan. “Jika kau mau, akan kuajarkan kepadamu,” serunya. Aku menggeleng, semakin muak dengan ceritanya.

Si licik paham. Dia melihatku dengan pandangan yang mencurigakan. “Kau masih rindu, pada orang yang telah jauh itu?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.

[source]
“Jangan menertawaiku, ini tak seperti rindu Dilan ke Milea-nya,” ujarku gusar, setelah melihatnya menyengir seperti kuda menahan libido seksnya. Lalu, Aku tak menyangka jawabannya kemudian, dan ini benar-benar licik. “Aku juga.” Dan kami diam. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here