PKA Usai, Cara Aceh Menjaga Budaya

0
50

Rabu malam, 15 Agustus 2018 bertepatan dengan peringatan 13 tahun damai Aceh, Pekan Kebudayaan Aceh yang telah berlangsung 10 hari, resmi ditutup. Ragam pesan disampaikan dalam agenda lima tahunan itu, menjaga adat dan budaya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia, Sofyan Jalil yang putra Aceh hadir menutup resmi PKA ke-7 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Pesannya, jaga adat dan budaya Aceh dan buatlah lebih meriah lima tahun ke depan.

Ini pesan sarat makan. PKA dinilainya mampu mendongkrak wisatawan lebih banyak ke Aceh, setelah tahu lewat promosi-promosi. “PKA ini cukup bergema hingga ke pelosok Aceh,” katanya.

Gelar PKA telah mampu mengingatkan sejenak generasi muda tentang sejarah dan budaya Aceh. Mereka dipaksa mengetahui ragam kegiatan lewat arus informasi yang mengalir pada gadget yang mereka pegang saban hari. Membaca ragam berita media dan media sosial yang digempur info PKA.

[Sumber foto-foto]
Siswa ditemani orang tua mendapat pengetahuan lebih tentang ragam benda pusaka peninggalan leluhurnya. Semua stand memamerkan keunikan daerah masing-masing, dari kuliner sampai Meriam bekas Portugis yang tertinggal dulunya.

Ada benarnya ketika Sofyan Jalil menyebut PKA sebagai cara Aceh untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai pengetahuan turun termurun. Kendati modernisasi secara tak sadar telah mengikis budaya, PKA mampu sesaat mengembalikan marwah adat istiadat Aceh.

Tanpa PKA misalnya, anakku yang masih SMP tak akan paham apa itu geulayan tunang, gasing, debus, rapai sampai manuskrip kuno dalam aksara arab jawi. Belum lagi catur harimau sampai tarian langka yang dipamerkan kembali dalam ragam kegiatan selama PKA.

Sekadar informasi, PKA ke-7 dibuka pada 5 Agustus 2018 lalu di di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy. Saat pembukaan, ada seribuan orang yang tampil membawa tarian ‘Aceh Lhee Sagoe’.

Dalam pesannya, Muhajir menyebut pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2017 tentang Kebudayaan, sebuah aturan yang menempatkan budaya pada posisi penting. Dan dia berjanji, pemerintah pusat akan mengucurkan anggaran khusus untuk agenda PKA ke depan.

PKA tak hanya soal menjaga budaya dan memajukan pariwisata. Menurut Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, PKA juga ajang promosi pembangunan, menumbuhkan ekonomi rakyat sekaligus promosi investasi dunia usaha di Aceh.

PKA di Aceh telah dilaksanakan sebanyak 7 kali. PKA ke-1 digelar pada Agustus 1958, selanjutnya PKA ke-2 pada Agustus 1972, PKA ke-3 pada Agustus 1988, PKA ke-4 pada Agustus 2004, PKA ke-5 pada Agustus 2009 dan PKA ke-6 pada September 2013. Selanjutnya PKA ke-7 yang baru berakhir kemarin.

Mempertahankan budaya tidak semudah membalikkan telapak tangan atau bicara saja. Dan ini perlu dorongan selanjutnya, agar adat tak hanya saat di PKA atau di Museum. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here