“Peutua Amin” Kearifan Lokal Terlupakan

0
57
Dok Pribadi

Dikisahkan kembali oleh Yusri Yusuf, pemerhati budaya Aceh tentang kearifan lokal terlupakan, tentang Peutua Amin yang hidup semasa kesultanan. Kisah ini diulasnya untuk Aceh Magazine edisi Februari 2008, majalah terbitan Aceh yang kupimpin saat itu. Kutemukan dan kutuliskan kembali.

Namanya Muhammad Amin Al Bagdadi, kata orang indatunya berasal dari Negeri Bagdad yang datang ke Aceh bersama rombongan Turki zaman Lada Sicupak. Mereka menetap di Gampong Aceh yang terletak di Lembah Gunung Seulawah. Beliau terpilih menjadi keuchik (kepala desa) melalui pilihan raya yang demokrasi. Setelah menjadi pemimpin dan karena kearifannya, beliau diberi gelar oleh Raja dengan ‘Peutua Amin”.

Postur Petua Amin kekar, tidak terlalu pendek, rambutnya ikal, mudah senyum, namun suka pada tantangan, terkesan urakan, taat menjalankan syariat Islam. Mampu menjadi imam dan ulung saat menyampaikan khutbah, pintar mengaji. Lobi-melobi keahliannya.

Gampong Aceh yang dipimpinnya punya alam kaya, namun rakyatnya miskin karena sumber daya manusianya rendah. Maklum saja, wilayahnya terletak jauh dari ibu kota kerajaan, Bandar Aceh Darussalam. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Peutua Amin. Karena itu, beliau harus berfikir serius tentang bagaimana memakmurkan rakyatnya. Lebih dari itu, beliau juga harus mengembalikan semangat hidup rakyatnya yang bertahun-tahun kehilangan martabat, kehilangan adat dan syariat.

Dok. Pribadi

Setiap hari, setelah ashar, dia bermunajat kepada Allah Swt, ”Ya Allah tunjukilah jalan-Mu agar hamba dapat memimpin gampong ini dengan kearifan, agar rakyat makmur sejahtera, gampong aman dan damai.”

Setelah tiga bulan beliau memimpin, rakyat diajak membangun dayah. Menurutnya, pendidikan merupakan kunci bagi kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Pendidikan merupakan leading sektor pembangunan. Guru Dayah didatangkan dari Gampong Yan, Malaysia, tempat beliau pernah menuntut ilmu. Semua anak negeri laki-laki dan perempuan wajib mengaji di dayah itu. Mereka tidak hanya belajar agama, tetapi juga belajar ilmu pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, ekonomi, perdagangan, botani, sejarah, matematika, hukum, kimia, teknik, politik, pengobatan, serta ilmu-ilmu lain secara terpadu dan sesuai dengan bidang yang diminati.

Tiap pagi Peutua Amin berjalan mengelilingi Gampong, mengontrol warganya jangan sampai ada yang menganggur. Jika ada warga yang tidak ada pekerjaan, beliau mencarikan dan memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka. Untuk itu, beliau memakai keahlian lobi mencari investor untuk memodali warganya. Mencari pemilik modal yang dapat membuka sawah baru dan membuka perkebunan. Sawah-sawah baru dan perkebunan itu dikerjakan oleh warga dengan cara ‘mawah’, yaitu bagi hasil dengan pemilik modal. Beliau juga mengundang investor peternakan yang dapat memberikan lembu, kerbau, kambing, ayam, bebek untuk dipelihara oleh warganya. Selain itu, beliau juga mencari kemungkinan pemasaran hasil produksi warganya.

Satu terobosan ringan terpikirkan oleh Peutua Amin, mengundang orang-orang ahli dan terampil untuk menetap dan membuka usaha di Gampong Aceh itu. Beliau mengundang ahli masak ter-enak untuk membuka warung, mengundang ahli urut (dukun patah) untuk membuka praktik, mengundang ahli nujum untuk meramal, mengundang tabib terkenal untuk mengajarkan pengobatan, mengundang pandai emas dan pandai besi untuk membuka usaha di gampongnya, mengundang tukang pangkas terbaik untuk membuka lapak di gampongnya.

Untuk itu beliau menyediakan dan menata tempat di pasar menjadi teratur, indah, nyaman, tidak semberaut. Pada mulanya, dari usaha mereka tidak dipungut pajak. Beliau berharap agar orang-orang dari gampong lain akan datang ke sana dengan berbagai keperluan dan efeknya akan menghidupkan perekonomian masyarakatnya.

Dia mewajibkan kepada semua warga untuk menanam bermacam jenis tanaman obat-obatan dan palawija di pekarangan rumah, menanam bermacam jenis pohon di kebun-kebun mereka, sehingga tidak ada tanah yang kosong. Kepada semua warga yang pergi ke pasar gampong diwajibkan membawa sesuatu yang bisa dijual. Jika ada yang melanggar akan diberikan hukuman berupa kerja paksa menanam pohon di hutan lindung dan di daerah aliran sungai. Akibatnya, setiap warga terbiasa bekerja keras, berusaha untuk mengasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi.

Untuk meningkatkan hasil pertanian, beliau mengajak warga bergotong royong membangun irigasi yang dimulai dari gunung sampai ke sawah-sawah dan menunjuk seorang keujerun yang mengurus pengaturan air sawah. Air sungai itu tidak hanya digunakan untuk bersawah, tetapi juga digunakan untuk air minum. Tenaga air di hulu sungai digunakan untuk pembangkit energi. Di sepanjang aliran irigasi warga mendirikan kincir-kincir untuk menumbuk padi, tepung, dan keperluan lainnya. Irigasi yang mengairi sawah-sawah dibiarkan berbelok-belok, bertikungan agar warga dapat membuat ‘mon eungkot’, dapat memelihara bebek dan memandikan kerbau.

Ibu-ibu dan para perempuan dewasa dianjurkan untuk belajar menjahit pakaian, membuat kue, menganyam tikar dan karung, agar mereka dapat membantu ekonomi keluarganya. Warga yang berbakat untuk berdagang, difasilitasi oleh Peutua Amin untuk memiliki modal, sehingga mereka dapat membeli hasil alam gampong mereka dan menjualnya sampai ke ibukota.

Dok. Pribadi

Peutua Amin bersama warga masyarakat juga sepakat bahwa saat magrib tidak boleh berkeliaran, tidak boleh bertamu, tidak boleh berjualan, dan tidak boleh melakukan kegiatan apa pun selain shalat magrib dan mengaji. Terdenagrlah suara orang baca Al-Quran di setiap rumah setelah magrib sampai isya tiba.

Anak-anak muda yang berbakat untuk menjadi laskar tentara dibiayai oleh Peutua Amin dengan anggaran gampong. Beliau menyadari bahwa tentara atau aparat adalah abdi negara dan masyarakat. Karena itu, sejak rekrutmen mereka harus ditanggung negara. Jika mereka dibiayai oleh orang kaya dikhawatirkan dia akan menjadi abdi orang kaya. Jika mereka harus menjual tanah dan kebun untuk masuk laskar dikhawatirkan dia akan mencari uang untuk membeli kembali tanah dan kebun itu. Akibatnya, mereka tidak memiliki persepsi dan komitmen yang sama tentang abdi negara dan abdi masyarakat.

Anak-anak yang berprestasi juga diberikan beasiswa agar mereka dapat melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dan melanjutkan studinya ke Malaysia, Mesir, Arab Saudi, Turki dan Cina.

Setiap ada perselisihan, kesalahan, sengketa, baik pidana maupun perdata antarwarga dan dengan aparat gampong diselesaikan secara adat. Ternyata sangat efektif karena penyelesaian secara adat tidak menjatuhkan martabat pelaku dan keluarganya, tetapi mendamaikan agar persaudaraan tetap terjaga. Tidak ada pihak yang kalah atau yang menang dalam hukum adat, yang ada adalah pihak yang meminta maaf dan yang memaafkan. Dari mulut Sang Peutua selalu keluar kata-kata yang menyejukkan hati, menyenangkan jiwa, menyadarkan rasa, meskipun beliau sangat jengkel.

Lima tahun kemudian, Gampong Aceh yang dipimpinnya menjadi maju dalam segala segi. Masyarakatnya makmur, aman, damai dan sejahtera. Tiap hari orang-orang dari berbagai daerah mengunjungi Gampong Aceh dan tiap minggu para investor datang ke kampung mereka. Peutua Amin pun dipilih untuk kedua kalinya dan Sultan memberikan penghargaan padanya berupa gelar adat, Tanglong Nanggroe. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here