Peusijuek Calon Haji, Semoga Mabrur

0
38

Musim haji, aku menerima beberapa undangan kenduri peusijuek calon jamaah. Sebagian aku penuhi meniatkan silaturrahmi dan sebagian lagi karena kesibukan tak bisa menghadiri. Ini adalah tradisi di Aceh yang telah mengakar sejak lama. Sebagian menyebutnya walimatus safar.

Pagi tadi, aku menghadiri undangan peusijuek calon jamaah di salah satu kantor di Banda Aceh. Ada dua orang yang akan berangkat ke tanah suci, dan aula kantor dipenuhi seratusan pegawai di sana, acara internal.

Sama seperti umumnya, setelah ritual berakhir ada salam-salaman sambil mengucapkan selamat. Selanjutnya diakhiri makan bersama. Ini kesukaan ku, kuah belanggong yang selalu menggoda. “Minggu depan ada peusijuek lagi gak ya,” kata seorang teman kepada temannya di sana.

Yang ditanya malah celoteh, “Andai tiap Minggu seperti ini,” kami yang mendengar tertawa saja.

Menu usai peusijuek

Tapi bukan itu intinya aku menulis ini. Ada satu hal yang menarik dan jarang kutemukan saat menghadiri walimatus safar, ada ceramah yang disampaikan oleh Ustad Umar Ismail, berisi pesan-pesan tentang haji mabrur dan doa-doa yang dilafalkan di Tanah Suci.

Menjalankan ibadah haji, maka jangan lupakan doa-doa untuk diucapkan di sana. Doa bisa dalam berbagai bahasa, Arab, Indonesia bahkan Aceh. “Allah maha mengetahui semua bahasa,” katanya.

Doa-doa itu di antaranya: [Ya Allah, aku meminta kepada-Mu lisan yang selalu berzikir], [Ya Allah, berikan hati yang selalu bersyukur] dan [Yang Allah, berikan aku badan yang selalu bersabar].

Doa-doa itu dengan segenap keyakinan mampu memberikan semangat dan kekuatan dalam menjalankan segala rukun Haji di Saudi Arabia.

Lalu, kata Ustad Umar Ismail, tak semua jamaah yang telah menunaikan ibadah Haji mendapatkan haji Mabrur. Menyelesaikan rukun Haji, hanya mendapatkan 50 persennya, sementara setengah lagi didapatkan setelah pulang, ada perubahan pada tingkah lakunya. Mabrur tak didapat semudah membalik telapak tangan.

Indikasi Haji Mabrur, katanya dilihat dari jamaah yang ketika pulang selalu membawa kesejukan bagi orang lain, menebarkan senyum dan senantiasa mengucapkan salam saat berjumpa sesama muslim.

Mabrur juga terlihat dari sikap semakin dermawannya jamaah haji, memperbanyak sedekah dan tidak kikir alias pelit. “Kalau ada tetangga yang meminta satu manga, maka ikhlaskan, jangan pelit sambil berkata tanam seperti orang tanam,” katanya memisalkan.

“Jangan sebelum naik haji dermawan, waktu pulang menjadi sebaliknya,” sambung Ustad Umar.

Ustad menyampaikan ceramah

Satu lagi, ciri mabrur adalah melekatnya cinta masjid pada jamaah setelah pulang. Selalu meramaikan masjid dengan shalat jamaah, seperti kebiasaan yang dijalankan saat menjalankan ibadah.

Begitulah pesan-pesannya, selamat kepada calon jamaah haji musim ini, semoga mabrur. Doakan kami menyusul. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here