Petuah Para Senior: Meliput Konflik #1

0
49

Berulang kali kata ini kudengar dari para senior dalam berbagai pelatihan untuk bekal meliput konflik Aceh. “Nyawa lebih penting dari berita.” Itu bukan untuk perbandingan, hanya penekanan untuk hati-hari.

Konflik Aceh disebut periode kelam peberontakan di Republik Indonesia. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mendeklarasikan perjuangan kemerdekaan pada 4 Desember 1976. Banyak korban nyawa dan harta benda, Aceh terpuruk. Damai 15 Agustus 2005 perlahan menghadirkan perubahan.

Aku hidup di masa itu dan menuliskan sebagian kisah-kisahnya saat menjadi jurnalis di periode akhir perang. Media acehkita.com dan Majalah Acehkita yang selalu mengampanyekan perdamaian kala itu menjadi tempat belajar dan menulis liputan konflik.

Awalnya liputan koflik kujalani secara otodidak, tanpa bekal ilmu yang memadai. Hanya mengandalkan naluri dan keberanian masuk ke pelosok-pelosok gampong di Aceh, menuliskan peristiwa kontak senjata, suara korban maupun warga yang kesusahan.

Pelatihan pertama tentang meliput konfilk kudapat akhir Maret 2004 di Jakarta. Saat itu, acehkita.com mengumpulkan beberapa jurnalisnya untuk dibekali, seperti Imran MA, (Alm) Fakhrurradzie Gade, (Alm) Helmi, Murizah Hamzah, Maimun Saleh dan steemian @ayijufridar serta @munaa. Sementara @rismanrachman menjadi salah seorang pengurus media itu.

[Bersama jurnalis usai pelatihan meliput konflik di Jakarta, Maret 2004]

Materi Ombudsman Acehkita, Stanley Adi Prasetyo (saat ini Ketua Dewan Pers) kuikuti tekun, tentang kontra intelijen dan menjalankan liputan di wilayah konflik. Satu kata yang masih tergiang hingga kini, “Nyawa kita lebih penting dari satu berita, maka hati-hatilah.”

Menulis di acehkita.com, dinilai membahayakan saat itu. Media itu fokus kepada akibat perang yang menimpa warga secara umum, penganut jurnalisme damai. Para jurnalis diajak untuk mengindari tulisan yang berbau perang opini antara pihak yang bertikai, aparat pemerintah dan pasukan GAM. “Munculkan suara-suara warga dalam setiap liputan, mereka narasumber utama,” Pemimpin Redaksi acehkita.com, Dandhy Dwi Laksono memberi petuah.

Oleh penguasa, acehkita.com dinilai tak mendukung operasi penumpasan pemberontakan, padahal yang dikampanyekan adalah menghentikan perang. Saat itu, TNI/Polri sedang melancarkan operasi besan-besaran setelah Aceh berstatus Darurat Militer pada 19 Mei 2003. Media itu lahir 19 Juli 2003, menjadi media online pertama yang khusus memberitakan imbas konflik Aceh. Kantornya hanya satu, di Menteng, Jakarta.

Jurnalis acehkita.com juga dibekali kartu pers, tapi tak seorangpun berani memakainya di lapangan. Kecuali aku, 40-an jurnalis yang menyumbang berita untuk media ini memiliki media lain, lokal maupun nasional. Mereka punya kartu pers lain, kartu acehkita.com disimpan rapi di lemari. Belakangan demi keamanan, aku dibuatkan kartu pers Tabloid Lacak, sebagai penyamaran. Tabloid itu sendiri dimiliki oleh @jkfarza, yang kala itu juga mengurus acehkita.

Aku masih ingat saat meliput kedatangan pasukan Raider di Kabupaten Bireuen, 30 Januari 2004. Saat itu dengan gagahnya kupakai kartu acehkita.com. Tapi (alm) Helmi yang menulis untuk Harian Analisa dan acehkita.com menegur dan memintaku menyembunyikan kartu. “Saya begitu terima (kartu) langsung membakarnya. Ini membahayakan karena media ini dianggap mendukung GAM,” katanya. Aku langsung turut perintahnya.

[Dokumen Majalah Acehkita]

Masih muda dan belum banyak pengalaman, aku selalu mendapat wejangan dari para senior kala itu, tentang meliput perang. Beberapa pelatihan kemudian kuikuti terkait safety jurnalis, misalnya yang digagas lembaga Kippas Medan pada Oktober 2004. Lagi-lagi soal kudengar soal nyawa dan berita. Hati-hati menjadi penekanan dalam melakukan penyamaran, tak mencolok saat meliput maupun menghindar jika terjebak kontak tembak.

Salah satu penyamaran adalah menulis dengan nama alias, untuk laporan yang membahayakan cukup ditulis Tim Acehkita. Aku memakai nama Adward untuk liputan feature, dan AK-9 untuk berita pendek. Beberapa kawan malah memakai nama sesuai bulan, seperti Mai, Agus, Juli dan Juni.

Masalah dan was-was tentu ada, bahkan beberapa anggota TNI berpangkat tinggi mengetahui penyamaran kami. Tapi berbagai alasan dikemukakan kawan-kawan saat bertemu, misalnya mengatakan berita yang dinilai memberatkan aparat ditulis awak redaksi di Jakarta. Sebagian kami juga membina kedekatan dengan tentara, dalam kapasitas jurnalis dan narasumber. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here