Petuah Bisul Penyintas Tsunami Aceh

    0
    45
    Baharuddin menunjukkan puisinya, Mei 2006 | Dok Pribadi

    Kisah Baharuddin, penyintas tsunami Aceh yang kini menjabat sebagai Panglima Laot Aceh Besar. Tentang kiprahnya kembali ke tanah lahir, setelah tsunami meleburkan kampungnya.   

    Rumah itu sederhana saja, type 36 bantuan dari sebuah NGO Internasional. Ruang tamu terisi foto-foto kisah tsunami. Ada juga sebuah puisi yang dipajang, kisah tsunami yang membawa pergi orang di selilingnya. Baharuddin pemilik rumah itu, Keuchik Desa Lamtutui, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

    Seperti dalam puisi, istri dan anaknya menjadi korban bersama ratusan warga yang dipimpinnya. Hilang dan ada yang datang berganti. Dua tahun sesudahnya, Baharuddin telah membina keluarga baru, mengambil istri yang juga janda tsunami. “Rosma Wardani namanya, kami menikah 4 November 2006,” kisahnya kepadaku, November 2007 silam

    Lahir 12 Desember 1954, Baharuddin memimpin Lamtutui sejak lama. Dia menjadi satu-satunya kepala desa yang tersisa di Kemukiman Lam Teungoh setelah tsunami menggada, 26 Desember 2004. Otomatis setelah itu, dialah yang menjadi motor pada tujuh desa di kemukiman tersebut. Termasuk saat mengajak mereka kembali, membangun desa lagi kelahiran. “Kami yang pertama sekali kembali ke desa setelah tsunami,” dia mengenang kisah.

    Tak mudah, ada tantangan dari masyarakat dan pejabat pemerintahan sendiri. Daerah itu dalam blue print pertama menjadi area buffer, tak boleh ditempati. “Ada warga yang bilang, empat tahun pun itu daerah belum bisa ditempati,” kata Baharuddin.

    Dia tak perduli, warga terus dipompa semangatnya untuk kembali membangun desa. Petuahnya yang paling sering diucapkan adalah petuah bisul. Katanya, bisul tak akan tumbuh di tempat yang sama. Artinya, tsunami tak akan datang pada wilayah yang telah dikunjunginya.

    Satu persatu bergabung untuk menjenguk desa, awalnya hanya pembersihan sambil mencari mayat dan melihat barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan. Februari 2005, sebagian warga muda sudah mulai menginap dengan mendirikan tenda-tenda.

    Semua bantuan yang datang dikoordinir Baharuddin dengan baik, semua bagi rata. Hingga tak ada yang komplain. “Kami mengutamakan musyawarah untuk mengatasi semua masalah,” katanya.

    Rekontruksi di Kemukiman Lamteungoh pascatsunami, Mei 2006 | Dok. Pribadi

    Dia jagoan memimpin, selain keuchik, dia juga Panglima Laot Lhok setempat. Dia sempat menjenguk Kolombo, Srilanka setelah sebuah NGO mengajaknya serta, melihat wilayah itu yang juga sempat diamuk ombak gergasi. Daerah itu benyak menginspirasinya untuk membangun kembali wilayahnya.

    Sebulan setelah dari Kolombo, Kuntoro Mangkusubroto (Kepala BRR) sempat menjenguk desanya. “Kalau air laut naik (pasang), sampai kemana?” tanya Kuntoro saat itu.

    “Sampai ke sini,” kata Baharuddin menunjuk.

    “lalu bagaimana membangun?” kata Kuntoro lagi

    “Saya punya solusi, semua pantai di Kolombo dibangun pemecah ombak, alangkah baiknya kita buat pembatas di pantai,” sambung Baharuddin lagi. Kuntoro mengangguk.

    Sri Mulyani, Ketua Bappenas saat itu, juga sempat singgah ke sana, membujuk meninggalkan wilayahnya, karena masuk buffer zone. “Pak Keuchik gak takut tinggal di kampung,” kata Sri.

    “Saya nelayan, buat apa takut,” kata Baharuddin.

    “Kalau kita pindah ke Jantho,” tawar Sri.

    “Tidak bisa bu, kami biasa di pesisir, tidak bisa hidup di gunung. Apapun ceritanya tidak bisa,” sahut Baharuddin lagi, sambil bercerita soal petuah bisul.

    Dan Baharuddin masih tetap di sana membangun desanya, warga dan kehidupan. Hidup mereka bergantung pada laut dan sawah.

    Aku terakhir bertemu dengannya Mei 2015 lalu, dalam sebuah diskusi tentang potensi kelautan dan perikanan di Aceh. Baharuddin sudah menjabat sebagai Panglima Laot Aceh Besar, sebuah lebaga adat nelayan di Aceh. []

    Note: Sebagian laporan ini pernah tayang di Tabloid Seumangat, BRR Aceh Nias, Desember 2007

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here