Pesona Air Terjun Kuta Malaka

0
18

Ini pertama kali kusinggahi, air terjun di Kuta Malaka yang indah mempesona. Tempat tersembunyi dan terjamah semasa konflik Aceh, di situlah para mantan kombatan pernah membuka markas menyusun strategi perang.

Usai damai, kawasan itu dibuka untuk umum dikelola oleh warga dan Pemerintah Aceh Besar sebagai lokasi wisata, sejak tahun 2009. Fasilitasnya sudah memadai, tapi kurang maksimal karena tak diurus serius. Pengunjung yang ke sana pun hanya ramai di akhir pekan.

Ahad pagi tadi, aku dan keluarga bergerak ke sana untuk liburan sekaligus meramaikan “Kemah Jurnalistik” yang digelar beberapa lembaga. Aku menolak tawaran menginap bersama para peserta. Kepada Davi, salah seorang inisiator acara kusampaikan akan bergabung pagi hari.

Dari atas perbukitan Kuta Malaka | Photos: Adi Warsidi

Untuk sampai ke sana, kita harus menempuh jalur sekitar 35 kilometer dari Banda Aceh. Sepanjang 25 kilometer adalah jalan nasional Banda Aceh – Medan yang mulus. Lewat Masjid Samahani, harus berbelok ke arah kanan menempuh jalan 10 kilometer lagi.

Jalan masih mulus dengan pemandangan kebun-kebun warga dan peternakan sapi, sepanjang enam kilometer. Selanjutnya adalah jalan berbatu, mendaki dan melewati dua alur air yang bisa dilewati kenderaan bermotor.

Tibalah kami di sana. Ada beberapa bangunan di pingir jalan yang tak terurus. Sebagian peserta kemah jurnalistik baru siap melakukan aktivitas belajar lapangan terlihat di sana. Sebagian lagi masih menikmati mandi air terjun. Dari puncak bukit Kuta Malaka itu, terlihat samar pemukiman penduduk di bawah sana.

Kami naik turun anak tangga dalam rindangnya hutan, kuperkirakan sekitar 500 meter untuk sampai ke air terjun yang dikenal mempunyai tujuh tingkatan. Aku dan anak-anak memilih tingkatan paling bawah, lelah untuk naik lagi ke atas.

Tak kubiarkan lama untuk merasakan dinginnya air, segar berendam di dalam. “Dingin sekali airnya ayah,” seru anakku.

Kami menghabiskan waktu selama satu jam lebih merasakan sensasi air terjun itu. Cahaya matahari menembus masuk dari celah-celah pohon-pohon rindang. Beberapa pengunjung tampak mandi pada tingkatan di atas kami.

Setelah satu jam mandi, kami naik bergabung dengan peserta kemah jurnalistik untuk makan siang bersama dan bersiap pulang usai dhuhur. Puasnya menikmati pemandian air terjun tujuh tingkatan. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here