Permainan Tradisional Catur Aceh, Warisan Indatu

0
39

Kerap memainkan saat luang puluhan tahun lalu, Catur Harimau (Cato Rimueng) kulihat menjadi salah satu yang tradisional dibangkitkan kembali di ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 di Banda Aceh. Warisan indatu yang perlu dirawat, kekayaan budaya Aceh.

Sebagian orang menamakannya Catur Aceh, ditampilkan untuk lomba dalam agenda Aceh Story Expo yang digelar Panitia PKA di Museum Aceh, Selasa kemarin. Permainannya gampang-gampang susah, dengan pola garis lintang, bujur dan miring pada sebuah papan kecil atau triplek.

Photos: Pusat Informasi Sekretariat PKA-7

Bidaknya hanya batu atau rumah keong yang berwarna hitam dan putih. Permainnya dua orang, satu memegang bidak harimau dengan warna hitam dan satu lagi menggunakan bidak kambing dengan warna putih. Harimau hanya dua, kambing banyak. Harimau berhak melompati kepungan kambing yang berusaha menutupi jalannya. Melompat bisa ke kiri, kanan maupun miring ke segala arah, dengan syarat bidak penutupnya harus ganjil, satu-tiga-lima dan seterusnya.

Jika harimau mampu ‘memakan’ semua kambing dalam lompatannya, maka dia menang. Tetapi jika kambing berhasil menutup jalan harimau, maka kambinglah yang menang. Permainan normal biasanya berakhir dalam sepuluh menit. Dan untuk adil, maka kedua pemain berganti posisi dari memainkan kambing dan memainkan harimau bergantian.

Koordinator Permainan Rakyat di Arena PKA ke-7, Suhirman mengatakan peserta tanding diikuti 16 Kabupaten/Kota seluruh Aceh dari lintas generasi, tua dan muda. “Ini untuk melestarikannya,” katanya. Banyak pengunjung yang melihat permainan itu.

Beberapa permainan tradisional rakyat Aceh diperlombakan untuk memeriahkan PKA ke-7. Selain ‘Cato Rimueng’, ada gasing, genteut, lombang laying dan lomba perahu di Krueng Aceh. Agenda PKA sendiri berlangsung dari tanggal 5 Agustus sampai 15 Agustus mendatang. Even budaya terbesar di Aceh itu digelar setiap lima tahunan.

Puluhan tahun lalu, aku kerap memainkan Catur Harimau di meunasah terutama saat ramadan atau hari libur bersama kawan-kawan. Tempatnya bisa di meunasah atau di warung-warung. Seiring zaman, permainan ini berganti ke catur yang lazin sekarang, dengan papan hitam-putih dan bidak-bidak pion, kuda, luncur, banteng, pion. Kambing dan harimau semakin tergusur.

Generasi kini perlu melestarikannya, kendati tak memerlukan wadah papan atau triplek. Belum kutemukan penciptaan aplikasi permainan ini di aplikasi berbasis teknologi seperti di android. Semetara ludo dan catur sudah. Ini adalah peluang, untuk membuat permainan tradisional Catur Harimau dikenal seluruh dunia. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here