Perintah ke Zona Merah: Meliput Konflik #2

0
73
[Arsip acehkita.com]

Tak tahu anaknya masuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seorang ibu ikhlas pada perjuangan anaknya setelah meninggal ditembak tentara. Dia menyebutnya dengan syahid dan mendukungnya.

Ini kisah meliput konflik Aceh saat GAM masih berjuang menuntut kemerdekaan, sebelum penandatangan damai 15 Agustus 2005. Demi keamanan narasumber, aku membuang keterangan penting dalam tulisan yang tayang di acehkita pada 22 Oktober 2004.

20 Oktober 2004 bertepatan dengan Ramadan, aku dihubungi Pemimpin Redaksi acehkita.com, Dandhy Dwi Laksono untuk menelusuri penembakan di kawasan Gampong Manggra, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Dia mendapat informasi dari salah seorang aktivis HAM di Aceh yang memberi info, seorang warga mati ditembak.

Gampong Manggra dan tetangganya, Gampong Mureu tempat makam Deklarator GAM Tgk Hasan Di Tiro, dulunya dikenal sebagai daerah jalur logistik bagi kombatan. Kontak tembak sering terjadi di daerah itu dan masuk zona merah konflik.

Menerima informasi, aku tak langsung berangkat ke sana tapi berusaha mencari informasi tambahan dari informan yang tersebar di gampong-gampong. Aku mendapat kepastian, yang meninggal bukanlah warga biasa, tapi anggota GAM yang sedang bertugas mengatur logistik untuk pasukan di perbukitan Aceh Besar.

Aku mengabarkan Dandhy, sambil berharap tak perlu berangkat ke sana karena khawatir wilayah itu sangat mencekam. Lagipula dalam pikiranku, kenapa harus sibuk menelusuri lebih jauh, karena yang mati dari salah satu pihak yang bertikai. Laporannya tetap bisa dibuat dengan menghubungi sejumlah narasumber lewat telepon.

Dandhy tak memaksa, tapi memberi sedikit pengetahuan, “kendati yang mati salah satu pihak bertikai, tapi tindakan itu termasuk extrajudicial killing yang juga melanggar hukum.” Aku tak berdebat dengan guru, takut durhaka.

[Arsip acehkita.com]

Besoknya, aku berangkat sendiri ke lokasi Gampong Manggra dengan sepeda motor. Tujuan pertama adalah mencari rumah anggota GAM yang meninggal, bernama Safrani. Rambut gondrong kututupi helm agar tak mencolok. Warga yang kutanya menaruh curiga, aku pura-pura santai berharap tak bertemu langsung dengan gerilyawan dan tentara.

Aku tiba di rumah model panggung atau Rumoh Aceh, disambut hangat oleh kedua orangtua Safrani, bernama Adam dan Fatimah. Mereka menceritakan kisah anaknya yang meninggal setelah ditembak usai tarawih di jalan desa. “Saya sedang tadarus,” kata Fatimah.

Ketika bertanya apakah si ibu tahu anaknya masuk GAM? saya mendapat jawaban penting yang tak menyangka, saya selalu mengingatnya. “Saya tak tahu anak saya masuk GAM, saya tak dimintai izin. Tapi saya yakin bahwa dia syahid dan saya ikhlas pada jalan yang ditempuhnya.”

“Untuk perjuangan dan saya mendukungnya,” sambungnya. Kutipan penting itu tak ku tulis dalam berita. Saat itu hati nurani berkata, jika jawaban Fatimah muncul dan terbaca ke publik, dapat saja mengancam nyawanya dan keluarga. Dalam konflik Aceh, mendukung GAM juga sebuah kesalahan versi Pemerintah Indonesia dan segala kegilaan mungkin saja terjadi. [Bersambung]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here