Perempuan Tiram, Penyintas Tsunami Aceh

    0
    32
    Faridah (kanan) dan Nuraini, Agustus 2005 | Dok. Pribadi

    Agustus 2005, belum setahun tsunami melanda Aceh. Aku merekam aktivitas perempuan penyintas tsunami di Alue Naga, menggantung hidup dari mencari tiram. Rumah dan tanah mereka telah diratakan gelombang.

    Air di bawah jembatan Krueng Cut tenang. Tak ada arus deras. Pada dasar sungai, bongkahan beton dan tiang listrik bertumbangan. Sepanjang tanggul menuju Desa Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh tumbuh rumah dan tenda-tenda darurat. Daerah itu menjadi tempat tinggal sementara warga Alue Naga yang kehilangan kampungnya, dibabat tsunami. Beberapa boat nangkring di bantaran tanggul. Sebagian warga sibuk dengan aktivitas masing-masing: menambal  jaring, memperbaiki boat sambil bercengkrama.

    Di sungai yang lengang, enam perempuan itu berendam. Pakaian yang dikenakan menutupi seluruh tubuh, kecuali muka. Sesekali mukanya menengadah ke atas sambil memungut sesuatu dari dasar sungai. Sesaat kemudian sebuah benda hitam serupa karang dimasukkan ke keranjang yang tergantung di punggung mereka.

    Perempuan pencari tiram. Berjam-jam di tengah sungai, enam perempuan itu kemudian naik ke bantaran. Isi keranjang lalu ditumpahkan di tanah. Mereka pun mulai memecah kulit tiram, lalu memungut isinya.

    Tak semua tiram terpecahkan sore itu. Keesokan harinya, perempuan tiram memulai kembali pekerjaannya. Di depan rumah darurat, parang terayun, membuka bongkahan karang tempat kerang kecil itu tersembunyi, “Satu bambu-nya kami jual sepuluh ribu,” sebut Faridah, 42 tahun.

    Faridah tampak lebih tua dari umurnya. Ada garis keriput di wajahnya. Faridah mengaku sudah lama mencari tiram. Ketika tsunami datang, pekerjaan itu terpaksa ditinggalkan beberapa bulan. “Dulu, cukup banyak yang mencari tiram di sini, sekarang tinggal sedikit, kawan-kawan kami banyak yang menjadi korban tsunami,” ujarnya.

    Daerah Alue Naga memang terkenal dengan tiramnya. Areal yang digunakan untuk mencari kerang kecil itu, membujur sepanjang muara sungai dan areal tambak milik warga. Umumnya para perempuan yang turun ke sungai untuk bekerja, membantu ekonomi keluarga. Sedangkan sang suami, pergi melaut. Maklum, sebagian besar warga Alue Naga bekerja sebagai nelayan.

    Sebelum tsunami, Faridah hanya sesekali mencari tiram. Itu dilakukan hanya untuk mencari kegiatan sambil menambah penghasilan keluarga. Tapi itu cerita dulu. Sekarang, pekerjaan itu rutin saban hari. Pascatsunami, suaminya belum bisa bekerja maksimal. Boat yang dulu dimiliki suaminya sudah bolong dan harus ditambal. “Itu suami saya sedang memperbaiki boat,” sebutnya sambil menunjuk seorang pria yang sedang memaku boat.

    Faridah, rutin mencari tiram saat air di muara sungai surut. Pekerjaan itu baru terhenti jika angin kencang. Baru baru kembali turun ke sungai sejak empat bulan lalu.

    Nuraini di sampingnya, tampak kaku mengikuti gerakan Faridah. “Saya baru melakukan pekerjaan ini pascatsunami,” sebutnya. Dulunya, Nuraini masih gadis dan tentu saja menjadi tanggungan orang tuanya. Berumah tangga pascatsunami, dia memulai pekerjaan mencari tiram, membantu ekonomi keluarga. “Suami saya bekerja sebagai tukang bangunan,” sebutnya.

    Pekerjaan yang mereka lakukan adalah sebuah upaya menopang hidup. Apalagi, akhir-akhir ini bantuan pascatsunami sudah mulai menipis. “Kalau kami tidak bekerja dan mengharap bantuan, sampai kapan kami bisa mengharap,” sebut Nuraini.

    Di masa rehabilitasi, Faridah dan Nuraini menuntut agar pemerintah memperhatikan mereka. Bukan berarti mereka tidak bisa mandiri, tapi, “bagaimana kami bisa mandiri kalau pemerintah tidak membantu modal usaha. Mencari tiram? Sampai mati pun, tidak cukup untuk hidup,” jelas Faridah. “Kalau bisa pemerintah membantu memberikan boat kecil, untuk bisa maksimal mencari tiram. Atau berikan modal buat kami,” tambahnya.

    Sungai di kawasan Alue Naga, Agustus 2005 | Dok. Pribadi

    Tsunami menyebabkan banyak wanita kehilangan suami. Nursiah, 22 tahun, misalnya, bersama bayinya yang baru berusia dua bulan terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tirinya di rumah darurat yang dibangun di atas tanggul sungai Krueng Cut. Ketika tsunami datang, ia sedang hamil. Kehilangan suami membuat hidupnya kian susah. Bantuan sembako dari pemerintah dan LSM tak bisa menutup kebutuhannya

    Kegiatan mencari tiram sudah dilakoni Nursiah sejak gadis. Bahkan, saat hamil 8 bulan, Nursiah masih berendam di air mencari tiram, sambil menunggu si bayi lahir. “Ini saya lakukan untuk mencari uang, karena tak bisa mengharap bantuan,” sebutnya.

    Saat itu, Nursiah masih berdiam di rumah menunggu si bayi besar, sambil memulihkan kesehatannya pasca melahirkan. Tetapi tak berarti dia hanya duduk berpangku tangan. Karang yang berisi tiram kerap dipecahkannya sambil menjaga bayinya. “Ibu dan ayah saya yang mencari tiram, saya hanya membantu memecahkan. Mungkin bulan depan, saya sudah bisa bekerja kembali,” sebutnya.

    Dia mengakui, penghasilan yang mereka dapatkan belum menutupi kebutuhan keluarga dan bayinya. Ayah dan ibunya juga masih menggantung hidup mencari tiram. Satu-satunya boat milik mereka raib ditelan tsunami. Nursiah tak mampu membeli susu untuk bayinya. Kalau sudah begitu, si kecil pun hanya diberi pisang. “Mungkin akan beda kalau saya masih punya suami,” sebutnya.

    Itu sebabnya, Nursiah berharap pemerintah membantu susu bayi. “Tolong sampaikan ke pemerintah, berikan bantuan untuk kami, untuk bayi kami. Tak ada bantuan susu untuk bayi, saya juga tak sempat beristirahat setelah melahirkan,” Nursiah lirih.

    Basyariah, ibu Nursiah, membenarkan sulitnya hidup yang mereka jalani. Menjelang Nursiah melahirkan dan setelahnya, dia terpaksa bekerja keras setiap hari untuk menutup kebutuhan tambahan bagi cucunya. “Bisa dibayangkan, berapa penghasilan dari mencari tiram?” sebutnya. Bantuan modal yang diharapkan tak kunjung datang.

    Meski sulit, hidup tetap harus dijalani. Perempuan-perempuan pencari tiram masih harus terus-menerus berendam di air asin. Saban hari, tak pernah henti. []

    Note: Laporan pernah tayang di Koran Aceh Kita, edisi September 2005.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here