Perawat Seudati Aceh

0
51

Tangannya menghentak tegas, kakinya melangkah mundur dan maju. Dengan sedikit berjingkrat, dua telapak tangan menepuk bagian bawah dada. ‘Puk…’ bunyi terdengar serentak dari beberapa anak-anak sanggar yang sedang berlatih.

Abdullah Abdul Rahman, pelatih itu lalu memberikan aba-aba. Ibu jari beradu jari tengahnya. Bunyi ‘tik’ terdengar jelas, diikuti serentak oleh delapan muridnya. Berirama dengan lantunan yang keluar dari mulutnya, syair-syair nasehat. Jika ada yang tak serentak, Abdullah akan membimbing lagi para muridnya.

“Besok, saya akan membawa anak-anak ini untuk mengikuti pagelaran seni Expo 2010 di Shanghai Cina,” ujarnya saat ditemui di Kota Langsa.

Begitulah lakon Abdullah atau lebih dikenal sebagai Syeh Lah Geunta saat melatih Tari Seudati, sebuah tarian khas Aceh yang telah dikenal sejak masa raja-raja. Seudati khas karena gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, gerak tangan dan keutep jaroe (petik jari), pukulan dada dengan iringan pantun atau syair. Jumlah penari biasanya delapan orang. juga ditambah dua orang pelantun syair. Seudati juga bisa dimainkan oleh perempuan (seudati inong). Hanya saja, tepukan dada diganti dengan menepuk pinggul.

Di Aceh, Syeh Lah Geunta adalah maestro seudati, yang didapat dari Kementrian Budaya dan Parawisata pada 2007 lalu. Umurnya sudah 64 tahun, tapi fisiknya masih terlihat segar. Namanya dikenal hampir di semua wilayah Aceh. Banyak murid yang lahir dari didikannya. ”Saya tidak menghitung berapa anak didik, tapi cukup banyak karena ada di seluruh aceh,” ujar pria kelahiran Bireuen itu.

Tari Seudati sudah menjadi bagian hidupnya. Syeh Lah sadar benar bahwa Seudati adalah sebuah identitas Aceh yang unik dan menakjubkan. Apalagi Seudati tidak terlepas dari budaya Islam. Seudati berasal dari kata Syahadaten dan Syahati yang artinya suatu pengakuan.

Aktivitasnya melatih seudati telah dilakukan ke seluruh penjuru Aceh, sebagai cara menurunkan ilmunya untuk generasi muda agar Tari Seudati tak sampai punah. Rumahnya di Idi Rayeuk pun dipakai sebagai tempat latihan. Sejumlah sanggar tari menjadi langganannya, seperti Komunitas Seudati Geunta Aceh, kemudian beberapa sanggar di kabupaten Aceh Utara dan Bireuen, Langsa dan penjuru Aceh lainnya.

Syeh Lah Geunta mulai belajar seudati sejak tahun 1960 setelah menonton penampilan Nurdin Daud, seorang penari sudati terbaik Aceh kala itu. ”Gerakannya indah sekali, keras tegas dan kemudian lembut gemulai,” ujarnya mengenang.

Saat itu, Syeh Lah kecil masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Rakyat (SR). Dia berlatih terus seudati bersama rekan-rekannya, sampai kemudian manggung dan menjadi terkenal.

Karena sudati pula, Syeh Lah kerap di undang ke luar Aceh dan bahkan ke luar negeri. Misalnya tampil pentas di Medan, Jakarta dan Jogjakarta. Kemudian juga sempat pentas di Tokyo (Jepang), Amerika, Kuala Lumpur, Singapura, Spanyol. Saat laporan ini ditulis, dia sedang membawa rombongan tari ke Shanghai, Cina.

Kendati maestro di bidangnya, kehidupan Syeh Lah sangat sederhana. Bersama istrinya Syafiah dan beberapa anak, dia tinggal di sebuah rumah kayu di Desa Seunebok Rambong, Idi Rayeuk, Aceh Timur. Dia mempunyai enam anak dan 10 cucu. Anaknya sudah besar dan hidup mandiri, hanya satu yang masih dalam tanggungannya. Salah satu anaknya adalah Asnawi Abdullah, penari dan koreografer yang juga asisten dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Syeh lah menggantungkan hidup dari seudati dan honor mengajar di sanggar. Lainnya, penghasilan didapat dari hasil sawah sekitar satu hektar di desanya.”Dari sana saya dapatkan penghasilan, dan setelah saya di nobatkan jadi Maestro, ada bantuan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia,” ujarnya.

Dalam menjalankan misi kaderisasinya, Syeh Lah tidak memiliki anggaran atau biaya khusus, dia menggunakan biaya sendiri dan biaya sanggar bila diundang untuk pementasan. Untuk pengembangan Tari Seudati, tidak ada anggaran khusus dari pemerintah. “Yang ada hanya sedikit bantuan untuk sanggar,” tambahnya.

Syeh Lah mengakui, melahirkan pemain Seudati handal tidaklah mudah, karena dalam bermain Sedati harus memiliki roh dan menjiwai. Dibutuhkan proses penjiwaian dan ketekunan dalam berlatih. “Untuk mencari generasi yang bertaraf sangatlah sulit, tapi kita tetap berusaha, jangan untuk punah, pudar pun jangan, maka semua kita harus peduli.”

***
“Syeh Lah wajar bergelar maestro untuk Tari Seudati,” ujar Ayi Sarjev, pengamat seni dan budaya tradisional Aceh.

Pengakuannya, Syeh Lah telah memberikan totalitas hidupnya kepada tari tradisional itu. Kendati ada, tapi tak sebanyak yang seperti dia. Kata Sarjev, kelihaiannya juga tak diragukan lagi dalam menari seudati. “Badanya sangat melentur, kadang keras dan tegas. Gerakan-gerakannya sangat menarik dalam memimpin seudati,” ujarnya.

Dia mengakui, Tari Seudati saat ini kurang populer di Aceh. Bahkan dikalahkan oleh Tari Saman. Padahal dulunya, Seudati adalah roh masyarakat Aceh dalam berbagai even maupun pentas seni tari.

Menonton seudati kadang membutuhkan waktu berjam-jam. Berbeda dengan tari saman yang bisa selesai dalam 15 menit. Selain itu, Tari Seudati sepertinya kurang mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat secara umum.

Menurut Ayi Sarjev, Seudati juga kurang didukung oleh fasilitas infrastruktur semacam gedung untuk pementasan. Harusnya seiring perkembangan zaman, pemerintah di Aceh harus menyiapkan gedung akuistik untuk menariknya sebuah pementasan tari. “Kalau di Aceh menonton seudati tidak asyik, karena tidak ada gedung akuistik. Lebih asyik nonton di Jakarta seperti di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Gedung Kesenian Jakarta,” ujarnya.

Alasannya adalah, Tari Seudati adalah tarian yang menampilkan musik Aceh dengan membunyikan organ tubuh. Sangat bagus bila ditampilkan pada sebuah gedung kesenian yang dirancang khusus.

Bukan hanya seudati yang kurang berkambang, tapi juga banyak seni tari yang lain. Bahkan ada yang menjurus ke kepunahan. Misalnya, Geureudam Pasee, Rapai Pasee, Tari Ale Tunjang dan Musik Rhimpeng (perkusi Aceh). Kata Sarjev, tari tradisional ini tergeser perlahan oleh kelompok musik kontemporer. Masyarakat juga sepertinya tidak terlalu perduli.

Dulunya, tari-tarian trasisional berkembang karena menjadi tontonan hiburan bagi masyarakat di desa-desa. Arus informasi dan tontonan hiburan yang banyak disaksikan masyarakat melalui televisi, membuat tari tradisional yang menghibur kurang diminati masyarakat.

“Perlu kerjasama semua pihak untuk mengembangkan kembali seni tari. Itu adalah identitas dan kekayaaan suatu daerah. Janganlah sampai punah,” ujarnya.

Kepala Dinas Parawisata dan Budaya Aceh, Marwan Sufi mengatakan tari seudati masih tetap eksis dan hidup di Aceh. Hanya saja kurang berkembang secara kaderisasi, tidak seperti dulu. “Itulah yang menjadi tugas kami sekarang, untuk menjaga warisan budaya tidak punah,” ujarnya.

Pengakuannya, seudati selalu mendapat tempat dalam lomba-lomba, festival seni dan budaya dan even kesenian lainnya, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta di Aceh. Kabupaten/kota di Aceh juga terus diarahkan untuk merawat seni tradisional dengan melakukan kaderisasi sebagai upaya menjaga budaya dan menarik wisatawan di kemudian hari.

Marwan mengatakan, tidak ada tarian yang punah di Aceh. Tetapi yang kurang berkembang banyak, misalnya seperti Seni Ratoh Talo di Aceh Besar.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan verifikasi seluruh seni tradisional di Aceh. Setelah itu akan dipatenkan seperti yang telah dilakukan terhadap Tari Saman. “Tari itu telah diusulkan ke UNESCO oleh pihak kementrian terkait untuk dipatenkan,” sebutnya.

Kemungkinan besar dalam waktu dekat, Dinas Parawisata dan Budaya Aceh akan mengusulkan Tari Seudati ke pihak kementrian agar dapat dipatenkan oleh UNESCO. “Juga banyak tari-tari lain.”

Marwan menyebutkan pihaknya sangat peduli dengan kelestarian seni dan budaya tradisional Aceh. Tidak ada kendala yang berarti selama ini, mengingat perdamaian di Aceh pun sudah tercapai sejak lima tahun lalu. Even-even seni terus diadakan untuk merangsang kepedulian masyarakat dalam menjaga tradisi. ***

Adi Warsidi | Imran MA
Majalah TEMPO, 2 Agustus 2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here