Penyair Itu, Setelah 14 Tahun tak Bersua

0
101

Sebuah pesan masuk ke handphone, awal Agustus lalu, seorang kawan lama yang mengabarkan akan ke Banda Aceh untuk agenda yang berhubungan dengan statusnya sebagai penyair atau sastrawan.

Pada Selasa pagi, 7 Agustus 2018, dia tiba di bandara Sultan Iskandar Muda dan aku menjemputnya ke sana. Setelah beberapa menit, dia keluar dari bandara, seorang diri. Kelihatan binggung, aku mendekati sambil memanggil namanya, “Mbak Hilda… Hilda.” Bagiku, tak sulit menandainya, penampilan tak berubah seperti hampir 14 tahun lalu, kala terakhir kami bertemu.

Dia mencari suara, aku mendekat hampir berdampingan sambil menebar senyum. “Ini siapa?” katanya binggung. “Aku Adi mbak, gak tanda lagi ya?”

“Walah si gondrong,” katanya tertawa menepuk bahuku.

Kami terakhir bertemu kisaran Februari 2005, aku tak ingat persis. Yang pasti, saat itu beberapa relawan tsunami yang datang ke Banda Aceh untuk membantu pada gelombang pertama pamit untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Kami masih sering komunikasi lewat handphone.

Dia datang ke Aceh tepat empat hari setelah bencana tsunami 26 Desember 2004 menghantam pesisir Aceh dan membuat 200 ribu lebih warga menjadi korban. Hilda datang bersama Nurul Arifin dan Ria Irawan, bergabung bersama kami yang mendirikan posko awal bersama beberapa aktivis di kantor Forum LSM Aceh, lokasinya di Lambhuk, Banda Aceh.

Saat itu, rambutku ikal melewati bahu. Hilda dan beberapa beberapa relawan gelombang pertama yang datang dari Jakarta, memanggilku gondrong. Di posko, Hilda mendapat peran sebagai Komandan Dapur yang bertugas memastikan segala makanan tersaji bagi setiap relawan yang bolak-balik bekerja di lapangan.

Pantas saja Mbak Hilda tak mengenalku, setelah hampir 14 tahun tak bertemu. “Kita ngopi dulu sebelum ke hotel,” ajaknya sambil menyalakan sebatang rokok surya. Persis seperti dulu.

Bersama Hilda Winar, 7 Agustus 2018

Lalu kami bergerak ke Warung Cut Nun, ngopi sambil bercerita tentang acaranya nanti siang. Dia hadir kembali ke Aceh untuk peluncuran dua buku kumpulan puisi yang diterbitkannya bersama penyair asal Rusia, Victor Pongadaev. Acara yang difasilitasi penyair Aceh D. Kemalawati dan kawan-kawannya bertempat di Museum Aceh, mengambil bagian dalam kemeriahan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7.

Dia bercerita tentang kondisinya selama ini. Tentang mau pensiun dari menulis puisi, tentang karyanya bahkan tentang merintis usaha di bekas rumahnya di Cijantung. Juga tentang stroke yang diderita enam tahun lalu membuatnya lumpuh dan Tuhan menyembuhkannya kembali. Tentang itu, kubaca pada salah satu karyanya dalam buku yang dihadiahkan kepadaku.

Kami bicara sambil bercanda, saling berbagi kisah. “Kau masih jurnalis?” tanyanya. “Masih mbak,” jawabku.

“Jurnalis itu pornografi, beda dengan penulis puisi.” Aku tertawa saja sambil menanyakan maksudnya. “Jurnalis itu serba terbuka dan transparan saat menulis, bukankah itu seperti pornografi. Kalau sastra puisi ditulis dengan menyembunyikan dan jangan membuka,” jelasnya, kami melepas tawa.

Saat mengantarkannya ke hotel, dihadiahkan kepadaku dua buku yang diterbitkannya dan mau diluncurkan itu. Ditandanganinya dan dibubuhi nama, Hilda Winar. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here