Partai Rakyat Aceh (PRA): Partai Lokal #4

0
128
Anak muda penggagas PRA, Fabruari 2007 | Dok. Pribadi

Januari 2008. Dua bendera tergantung pada toko lantai tiga di kawasan Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Bendera yang satu merah putih dan satu lagi merah menyala, dengan bintang kuning di tengahnya dengan garis hitan di sisi atas dan bawah. “Ini lah lambang dan bendera partai kami,” kata Thamrin Ananda, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Aceh (PRA) kala itu.

Baca postingan sebelumnya:
Prediksi Kondisi 2008: Partai Lokal #3
Cita Revolusi Aceh 2005: Partai Lokal #2
Sebuah Awal Mula, Partai Lokal #1

Lambang punya arti sendiri. Bintang kuning diartikan cita-cita yang tinggi dan mulia untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Aceh. Garis hitam di sisinya, pertanda Aceh masih berada dalam penindasan. Sementara latar belakang merah adalah makna keberanian dalam memperjuangkan cita-cita kemakmuran rakyat.

PRA ini dideklarasikan sebagai sebuah partai politik lokal berdasarkan Kongres Pertama Komite Persiapan Partai Rakyat Aceh (KP-PRA) pada Maret 2007. Setelah itu, PRA resmi dinyatakan berdiri. Inilah partai yang pertama sekali gaungnya muncul ke publik Aceh. Komite persiapannya telah ada sejak awal 2006.

Kehadiran PRA, kata Thamrin, bukanlah secara tiba-tiba. Ini adalah kelanjutan perjuangan dari banyak tokoh sosial dan politik yang sudah sejak lama terlibat dalam berbagai gerakan perubahan. Sejarah PRA dapat dirunut dari sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap penindasan sejak 1998 dan sebelumnya. Para aktivis mahasiswa, kaum intelektual Aceh, kaum agamawan, aktivis perempuan, kelompok petani dan nelayan serta rakyat korban pelanggaran HAM, adalah motor atau elemen utama lahirnya PRA. Sederhananya mereka inilah rahimnya PRA.

Laporan tentang PRA di media

PRA yang didominasi kaum muda ini berlandaskan Islam dengan motto Islam adalah Agamaku. Kemudian demokrasi adalah sistem politikku, ekonomi pro-rakyat miskin sebagai sistem ekonomiku.

Menurut Thamrin, perjuangan rakyat Aceh belum selesai dan belum merdeka secara hakiki. Merdeka dalam makna membebaskan Aceh dari keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan berbagai bentuk penindasan. “Jadi landasan perjuangan yang belum selesai, serta percaya Aceh yang lebih baik, yang mandiri dan modern bisa diwujudkan dalam landasan pembentukan partai.’

Memperkuat jaringan dan kekuatan partai, hingga saat ini PRA telah memiliki 19 pengurus di kabupaten/kota dan 172 Kecamatan. “Kami belum hitung jumlah desa, tetapi sudah ada ribuan desa. Dan ini terus berubah, karena setiap saat jumlahnya bertambah,” kata Thamrin.

Mereka belum memasang target pada Pemilu Legislatif 2009. Pentingnya, semua kader bisa bekerja untuk umat dan rakyat. Thamrin menyebutkan mereka tak hanya hadir saat mau Pemilu saja, akan terus bekerja untuk Aceh. Begitu juga dengan kekuasaan, bukan lah sebuah target. “Kekuasaan merupakan konsekuensi dari kerja Partai terhadap rakyat.”

Thamrin Ananda, Januari 2008

9 April 2009, pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) anggota Legislatif pada berbagai tingkatan serentak digelar di Indonesia. Pemilu diikuti oleh 44 Partai, enam di antaranya adalah Partai Lokal, hanya berhak meramaikan demokrasi di Aceh.

PRA berhasil lolos dalam verifikasi sebelumnya dan menjadi peserta Pemilu 2009 di Aceh. Daftar Pemilih di Aceh saat itu tercatat sebanyak 3.009.965 orang.

1 Mei 2009, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh mengumumkan hasil pleno rekapitulasi suara untuk 44 Partai Politik yang ikut Pemilu di Aceh. Untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dari 3.009.965 pemilih, sebanyak 2.266.713 memberikan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sebanyak 2.146.140 suara dinyatakan sah, sementara 120.573 suara terhitung tidak sah.

PRA hanya mendapatkan sebanyak 36.574 suara atau sekitar 1,70 persen. Mereka tidak berhasil menempatkan satu orang pun wakil di DPRA, kendati ada beberapa kadernya yang sukses menjadi anggota dewan di Kabupaten/Kota.

Partai lokal itu perlahan memudar bintangnya. Mereka tidak lagi berada dalam daftar Pemilu Legislatif selanjutnya di Aceh. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here