Parodi Politik: Riuh tak Ricuh

0
60

Kurang tiga bulan lagi pesta demokrasi dimulai, spanduk-spanduk para Calon Anggota Legislatif (Caleg) dan Calon Presiden bertebaran pada setiap sudut desa dan kota. Hampir tak ada ruang kosong untuk mata di sepanjang jalan, disuguhkan dengan slogan-slogan: demi rakyat, untuk rakyat dan atas nama rakyat. Pemilu 2019.

Di tempatku berdiam, Banda Aceh, kampanye juga bergerak dari jalan ke warung-warung kopi. Negeri di ujung Sumatera dikenal dengan nama lain “1001 Warung” yang memanjakan pengunjungnya dengan cita rasa robusta dan arabika.

Di meja-meja kopi, para Caleg kerap ceramah tentang janji jika terpilih, optimis dan tak sedikit yang pesimis. Banyak juga yang kelewat percaya diri, menyebut “calon jadi”.

Uniknya, tak sulit menemukan para Caleg yang bersaing di satu Daerah Pemilihan (Dapil) saling canda, saling melempar pengaruh lalu tertawa penuh makna. Pada ujungnya mereka sepakat, di dewan nanti kita harus sepaham.

Kunikmati selalu keakraban seperti ini. Apalagi kelucuan pendengar -bukan Caleg- yang selalu membesarkan hati mereka, demi perkawanan tak retak. Bahkan tak segan, pendengar membual akan memilih mereka semua. Jika ada dua atau tiga calon pada Dapil sama, mereka akan mencoblos semuanya. Rusak suara tentunya dan hahahaha… riuh menggema.

Pada sisi lain, debat lanjut ke pilihan Capres yang hanya dua calon. Kalau tak 01 maka 02, dan ini membuatnya lebih seru. Banyak kisah di bagian ini.

Misalnya, kusaksikan sendiri empat orang kawan yang terpaksa keluar dari WhatsApp (WA) Group -aku salah satu adminnya- karena tak tahan debat saling memuji calon disukai dan mencaci calon sebelah. Debat bisa berjam-jam, tanpa simpulan.

Mereka keluar dengan pesan akhir di WA Group, “setelah Pemilu 2019, tolong masukkan kami lagi”.

Di media sosial Facebook dengan kebebasan berekspresi luar biasa, perkawanan juga dipengaruhi Pemilu 2019. Kawan baru tiba-tiba menjadi dekat, kawan lama tetiba jauh, beda pilihan. Ini kurasa maklum dalam kehidupan sosial.

Tapi yang menyakitkan adalah perasaan saat renung, persis seperti kata seorang karib tadi pagi, saat kami menunggu di bandara. “Aku telah unfriend beberapa karena politik ini. Ketika memikir, aku nyesal. Ngapain pulak.”

Pengakuannya terbawa emosi saat rekan menyebar caci maki di media sosial terhadap calon pemimpin tak disukainya. Dia mencoba bela si calon itu, sambil mengingatkan sang kawan. Lalu debat panjang di laman Facebook, tambah ruwet dengan peran kawan lainnya sebagai ‘provokator’. Alhasil delete pertemanan adalah solusi. Aneh kan.

Biasanya laku seperti itu gampang saja teratasi alias cair di meja kopi. Jika bertemu, tegur sapa pasti hangat lagi setelah Pemilu. Riuh memang, tapi tak Ricuh. Begitulah lakon parodi politik negeri kami. Hiduplah Indonesia Raya. []

BTJ – CGK, 22 Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here