Pancu, The Lost City

0
22

Oleh : Adi Warsidi

Bekas kota kuno Indrapurwa tak terlihat lagi kasat mata dari tubir pantai Ujong Pancu. Tapi para pemancing dan nelayan mengetahuinya, ada bekas-bekas makam dan tapak-tapak bangunan lama.

Jika air surut, lokasi sekitar satu kilometer dari darat terlihat dangkal. Tak jauh dari sana, ada Pulau Tuan yang diselilingnya kaya terumbu karang. Konon dulunya, Ujung Pancu masih bersatu dengan pulau itu. Tiga bencana tsunami menggerusnya, memaksa pemukiman mendekat bukit.

Tsunami Desember 2004 membuat sebagian daratan tenggelam. Akhir 2014 lalu, Lukman, nelayan setempat berkisah, sebelum tsunami tahun 2004, daerah itu masih dihuni warga. Banyak makam kuno berada di perkampungan sebagai bukti peradaban lama. Di sekitarnya ada banyak tapak sejarah, “salah satunya Masjid Indrapurwa yang awalnya adalah sebuah Pura Hindu.” Keberadaannya dulu persis Masjid di Indrapuri.

Masjid itu lenyap setelah tsunami dan dibangun kembali dengan mengeser menjauh pantai, meninggakan lokasi lama yang tergerus. Tapi, di sekitarnya masih banyak bukti sejarah keberadaan Indrapurwa, yang dulunya dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai.

Keberadaan Pancu menarik E. Edwards McKinnon, peneliti di Research Associate, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, untuk menjajakinya. Dalam journalnya tentang “Sejarah Aceh Sebelum Kesultanan” dia menulis kerap mengunjungi tempat itu sejak 1975. Menurutnya, sebelum 2004 masih ada kuala sungai yang terkenal sebagai Kuala Bieng atau Kuala Kepiting, ada juga semacam pematang pasir di pinggir laut yang mulai dikuras oleh ombak pasang-surut. Di sana ada makam-makam yang terendam.

Di wilayah itu juga ada sawah yang bernama Blang Pandemas, di sekitar wilayah Desa Lamguron sekarang. Kabarnya masyarakat seringkali menemukan mata uang kuno, mata cincin dan sisa perhiasan dari emas. Ada juga pecahan keramik dan sampah tua yang muncul di pasir sepanjang pantai Lambaro Neujid itu. Yang paling tua adalah keramik Cina dari masa Song Selatan, maupun dari masa Yuan, Ming dan Qing. Ada juga pecahan keramik dari Burma, Muang Thai dan Vietnam maupun transfer ware dari Europa (Inggris maupun Belanda), dan pecahan botol kaca dari abad ke19.

Edwards meyakini, bahwa Ujong Pancu dulu adalah pelabuhan Fansur yang terkenal mengekspor kapur yang bersumber dari Barus, di wilayah Dairi Pakpak. Membuka teori baru tentang keberadaan pelabuhan Fansur yang selama ini diyakini berada di sekitar wilayah Singkil sana. Bahwa Fansur adalah Pancu, yang tenggelam setelah bencana-bencana.

Setidaknya dua bencana tsunami pernah terjadi sekitar 600 tahun lalu di daratan Aceh, yang berpengaruh pada perpindahan pemukiman, maupun wilayah yang ditinggalkan. Pertama tahun 1390-an dan kedua pada 1450-an.

Itu juga yang disampaikan Ahmad Ibnu Majid dalam laporan perjalanannya bersama Vasco Da Gama, pelaut ulung Portugis pada abad ke-15. Dalam laporannya (ditulis 1462) yang dikutip Tibbets G.R (1979) dan kemudian dirilis kembali Edwards menunjukkan pantai Aceh Besar telah dihancurkan oleh gempa bumi yang besar maupun oleh dua buah tsunami raksasa, yaitu pada tahun 1390 dan 1450. Pada waktu itulah Pancu sudah menghilang atau masih dalam keadaan yang memprihatinkan.

***
Tsunami kerap menghilangkan sebuah kota. Begitu setidaknya yang ditemukan Nazli Ismail, Ph.D dari MIPA Unsyiah yang meneliti keberadaan tsunami masa lalu di Aceh. Kepada majalah ini, dia menunjukkan presentasi makalah yang sedang disusunnya. “Ujong Pancu terjadi tiga kali tsunami dan tiga kali hijrah.”

Sisa peralatan kuno masih dapat ditemukan di wilayah yang tergerus laut. Ada banyak keramik kuno, makam-makam kuno dan bekas pertapak bangunan. Tapi di Ujong Pancu, banyak bukti sejarah yang bercampur dari tahun-ketahun karena tergerus laut, bukan tertimbun pasir ataupun tanah. “Ada bukti peninggalan Jepang tahun 1940-an juga ditemukan di sana,” kata Nazli.

“Kami menyebutnya the lost city,” sambungnya tentang penemuan kota tenggelam di Pancu. Ada dua kali perpindahan pemukiman warga di sekitar Ujong Pancu, sebelum tsunami 2004 yang menunjukkan tahun 1390-an dan 1450-an. Artinya, wilayah pantai tersebut tergerus gelombong raya.

Bukti bencana terekam jelas di situs Lamreh, Aceh Besar. Tepatnya di pertapakan Kerajaan Lamuri, benteng Indrapatra dan benteng Malahayati. Dari hasil penggalian ditemukan dua lapisan pasir laut yang dibawa gelombang besar ke daratan. Membuktikan adanya rekam sisa tsunami 1390 dan 1450 pada bekas-bekas keramik di sekitar pondasi benteng dan bangunan.

Selain dua tempat itu, jejak tsunami yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu juga diteliti di wilayah Kampung Pande, Banda Aceh. Di sana juga ditemukan banyak jejak kehancuran kota yang diduga berhubungan dengan tsunami masa lalu. Bukti diperkuat penemuan koin emas di Kampung Pande pada Akhir 2013 silam. Tsunami yang terjadi di masa itu diduga ikut mempengaruhi sejarah perpindahan pusat kerajaan masa lampau.

Menurutnya, penelitian masih terus dilakukan untuk melengkapi data-data tentang tsunami yang pernah melanda Aceh. Penelitian yang terpisah pada beberapa tempat saling melengkapi untuk kesempurnaan rekam jejak sejarah. “Sebenarnya Aceh adalah museum terbesar tentang tsunami. Kami terus mencari bukti untuk pembelajaran dan transfer pengetahuan ke masyarakat,” kata Nazli.

Mencari jejak kota hilang di Aceh, juga dilakukan Tim Bencana Katastropik Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, tahun 2012.

Dirilis dari viva.co.id pada Februari 2012, anggota tim Ahli Genpa dari LIPI Danny Hilman mengatakan tim ini terbentuk untuk mengetahui siklus bencana, yang juga terjadi di masa lalu. Tim peneliti ini juga melakukan penelitian terhadap peradaban kuno, yang diduga banyak yang ikut terhempas bencana. “Peradaban berkembang pelan-pelan. Tapi kemudian ada yang dihajar bencana,” ucap Danny Hilman.

Dia mengatakan Misalnya peristiwa tsunami yang terjadi di sekitar tahun 1390-an dan 1450-an yang melanda Aceh. “Saat itu ada istilah ‘Ieu Beuna’ yang berarti air bah besar. Mungkin juga bencana ini yang menyebabkan terputusnya sejarah Pasai dan Kerajaan (pimpinan) Iskandar Muda,” ucap Danny Hilman.

Danny melanjutkan, di Aceh pun belum diketahui mengenai hilangnya kerajaan kuno dari masa Pra-Islam. Tim Bencana Katastropik Purba itu percaya bahwa peradaban Indonesia di masa lalu terbilang tinggi. Seperti kata Thomas Raffles, warga negara Inggris yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811. “Masyarakat Sumatra, seperti halnya di Jawa, sedang mengalami kemunduran yang terus menerus dari masa kejayaan para leluhurnya yang gilang gemilang.”

E. Edwards McKinnon dalam kesimpulan penelitiannya berharap Pemerintah Aceh agar memberikan perhatiannya untuk melestarikan peninggalan-peninggalan purba maupun budaya yang ada. “Demi mendukung perkembangan pendidikan dan ekonomi masyarakat maupun perkembangan parawisata budaya di wilayah ini.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here