Nikmatnya Kuah Cue Gunung Kulu, Tapi…

0
129

Usai menikmati kopi di Meulaboh, Aceh Barat, Sabtu lalu, aku dan dua kawan bergerak kembali ke Banda Aceh. Sepanjang perjalanan, kami bicara tentang nikmatnya Kuah Cue dan cocok untuk menu makan siang. Dan pilihannya adalah warung-warung di kaki Gunung Kulu.

Usai azan zuhur berkumandang, tibalah kami di kaki Gunung Kulu, Gampong Cot Juempa, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, sekitar 43 kilometer dari Banda Aceh. Lokasinya nyaman, dengan pemandangan perbukitan di seberang dan kebun kelapa.

Ada beberapa warung dan kami memilih salah satunya, di plang depan tertulis “Rumah Makan Gulee Pliek” selanjutnya “Menyediakan Kuah Cue” dan beberapa lainnya. Tulisan Gulee Pliek dan Kuah Cue tertulis besar, sehingga dari jauh akan terbaca “Gulee Pliek Kuah Cue”.

Gulee Pliek adalah kuliner warisan leluhur Aceh yang sudah ada sejak masa kesultanan. Gulai ini mencampur aneka sayur mayur yang dimasak bersama dengan Pliek U (Patarana), konon masakan ini hanya ada di Aceh.

Di rumah makan itu, Gulee Pliek inilah yang dipadu dengan tambahan Cue atau Faunus Ater, sejenis siput yang hidup di muara sungai dan pinggir laut yang ditumbuhi hutan bakau. Banyak ditemukan sepanjang pesisir Aceh.

“Silakan ambil sendiri,” kata seorang pelayan. Kami bertiga menaruh nasi sendiri dan mengambil menu ikan mujair. Lalu kami memesan satu piring Kuah Cue, yang diantar khusus dari dapur di belakang.

Kami menikmatinya bersama sampai habis, menghirup isi Cue dari tempurungnya. “Ini kaya protein dan menyehatkan,” kata kawanku seperti ahli gizi.

Pelanggan terus-menerus datang ke sana, juga mobil-mobil penumpang yang melintas di jalur Banda Aceh – Meulaboh singgah rehat. Kuliner ini memang nikmat, di Banda Aceh ada beberapa warung yang menyediakan Kuah Cue, seperti di Lampaseh Kota dan sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Hanya saja, tak mendapatkan suasana alam dengan semilir angin lembah.

Tapi ada kabar tak mengenakkan di balik nikmatnya Kuah Cue. Sebuah artikel tak sengaja saya baca saat mencari nama latin untuk hewan siput itu, jurnal ilmiah yang ditulis oleh Rahmi Agustina dan kawan-kawannya untuk seminar Nasional Pascasarjana (SNP) Unsyiah Banda Aceh 2017. Judulnya “Akumulasi Logam Berat pada Siput (Faunus Ater) dan Struktur Populasinya di Daerah Aliran Sungai Krueng Reuleng, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar”.

Kesimpulannya, siput Cue atau Faunus Ater yang ditemukan di aliran sungai Leupung, kecamatan tetangga Lhoong terakumulasi logam berat Timbal (Pb) dan Seng (Zn), masing-masing 0,9 sampai 9,651 mg/kg dan 16,421 sampai 147,90 mg/kg. Ini artinya, bisa membahayakan kesehatan karena batas aman konsumsi hanya dengan kandungan logam 2 ppm (mg/kg). Di aliran sungai tersebut dibuang limbah rumah tangga, limbah industry dan ada beberapa aktivitas pertambangan di sekitarnya.

Photos: Adi Warsidi

Hanya saja, aku tak bisa memastikan darimana asal habitat Cue yang diolah bersama Gulee Pliek di rumah makan kaki Gunung Kulu. Yang jelas, Kuah Cue selalu mengundang selera. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here