Museum Aceh, Seabad Lebih

0
76

Wisata sambil belajar sejarah Aceh, komplek Museum Aceh tempat yang tepat. Ajaklah anak-anak di hari libur ke sana untuk memahami kisah-kisah negeri ini.

Komplek Museum tak jauh dari Masjid Raya Banda Aceh, bersisian dengan Pendopo Gubernur. Banyak objek yang bisa dilihat di sana untuk paham sejarah dulunya. Di komplek itu ada Rumoh Aceh (rumah adat) yang indah, lonceng Cakra Donya, dan makam-makan Sultan Aceh dulunya.

Awalnya Museum Aceh hanya bangunan Rumoh Aceh. Keberadaan bangunan ini telah ada sejak 1914, dibangun Pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pameran barang-barang asal Aceh, yang diadakan di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

[Foto diambil saat pameren 100 tahun Museum Aceh]
Usai pameran, Rumoh Aceh itu dibawa ke Aceh untuk dijadikan Museum. Kurator pertamanya adalah FW Stammeshaus. Peresmian dilakukan Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal HNA Swart bertanggal 31 Juli 1915. Artinya telah beumur 103 tahun. Lokasi saat itu ada di bagian timur Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Indonesia merdeka, museum dikelola pemerintah. Pemindahannya ke tempat sekarang dilakukan pada tahun 1969, atas inisiatif Panglima Kodam I, Brigjen Teuku Hamzah Bendahara. Pada tanun 1974, Museum direhabilitasi besar-besaran, dididikan sejumlah bangunan pendukung lainnya seperti gedung pameran, perpustakaan, ruang pertemuan dan lainnya. Setahun kemudian, museum dikelola Depertemen Kebudayaan dan Pendidikan. Terhitung 28 Mei 1979, statusnya menjadi Museum Negeri Aceh. [Seperti diceritakan oleh Nurdin AR, mantan Kepala Museum Aceh]

Banyak area bersejarah di komplek Museum. Ada Lonceng Cakra Donya yang dipajang di bagian luar. ukuran tinggi 1,25 meter dengan lebar 0,75 meter. Lonceng itu adalah hadiah persahabatan Kaisar Tiongkok kepada Sultan Samudera Pasai, yang dibawa Laksamana Cheng Ho, tahun 1414. Berdasarkan tulisan yang tertera, lonceng dibuat tahun 1409.

Koleksi Museum banyak ragam, misalnya ada stempel kerajaan Aceh, ribuan naskah kuno juga uang kerajaan Aceh dulunya. Sebagian naskah hanya bisa dinikmati saat pameran. Banyak juga makam kuno di sekitar komplek itu.

Pameran batu nisan kuno Aceh, 9 Mei 2017.

Lokasi ini ramai dikunjungi saban akhir pekan. Di hari kerja, para siswa kerap diajak gurunya untuk belajar tentang sejarah Aceh masa silam. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here