Mr Jali, Penunggu Jalur Leuser

0
21

“Pakai feeling babi saja kalau mendaki, aku tak percaya kompas. Pernah ikuti GPS, nyasar,” kata Mr Jali sambil tertawa lepas kepada kami. Dia adalah jagoan soal jalur ke puncak Leuser, kerap menjadi guide untuk para pendaki gunung tertinggi di Aceh.

Feeling babi adalah istilahnya, dimaksud sebagai perkiraannya dalam membaca jalur pendakian melalui tanda-tanda alam. Gunung Leuser telah berulang kali dijelajahinya, bahkan sejak kecil dan telah hafal semua jalur ke puncak.

Aku bersama beberapa jurnalis dan aktivis lingkungan bertemu dengan Mr Jali pada 12 April 2016 lalu. Kami tiba di rumahnya menjelang sore, di Desa Keudah, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues. Setelah jamuan teh hangat dan kisah soal pengalamannya sejenak, kami diantar ke pondoknya yang menjadi titik awal pendakian ke puncak Leuser.

Bersama Mr Jali | Photos: dokuman pribadi

Kami tak berencana mendaki, hanya menginap semalam di sana. Dari rumahnya, kami berangkat dengan dua mobil untuk tiba di jalan terakhir yang bisa dilewati, lalu memarkir kenderaan di rumah warga. Selanjutnya menempuh jalan setapak sekitar 2 kilometer untuk sampai ke tempat yang dituju.

“Saya nanti malam ke sana,” kata Mr Jali. Kami dipandu anaknya Rabudin Mudawali sambil membawa perlengkapan makan malam. Berjalan ke sana melelahkan juga. Karena tak terbiasa, sebagian dari kami ngo-ngosan.

Sudah gelap, saat kami tiba di sana, ada sekitar lima pondok, empat untuk tempat menginap dan satunya tempat memasak dan nongkrong. Tak ada aliran listrik. Rabudin menghidupkan genset untuk penerangan, selanjutnya dia memasak nasi dan indomie untuk kami.

Kami bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan diri, hawa sejuk menyengat. Suara ragam binatang hutan terdengar nyaring, laiknya menyambut kedatangan kami.

Mr Jali tiba di sana bersama seorang rekannya, usai kami menyantap makan malam. Dia berbagi cerita tentang suka-dukanya menjadi guide Gunung Leuser sejak 1980. Mr Jali muda yang tak tamat Sekolah Dasar itu kerap masuk hutan untuk mencari titik menuju puncak. Pergi seminggu dan kemudian pulang minggu depannya. “Saya baru menikmati pada tahun 1987,” katanya.

Sejak itu, dia mulai membawa tamu untuk menikmati pesona pendakian. Sekali naik dan pulang biasanya memakan waktu hampir sebulan. “Banyak tamu dari mancanegara, karenanya saya paham bahasa Inggris dikit-dikit,” katanya.

Menjaga kawasan itu, dia juga mendidik 25 warga kampung dan anaknya untuk menjadi guide. Saat ini, anaknya Rabudin sudah mewarisi ilmu sang ayah dalam mengenal jalur ke puncak. Jika ada tamu yang ingin mendaki, pemuda yang telah dilatih menjadi pemandu. Mr Jali sebagai pemimpin sebagai koordinator mereka.

Pengalamannya padat, juga perhargaan dari berbagai lembaga. Hampir semua pendaki Gunung Leuser telah ditemaninya. Mr Jali juga menjadi pemandu saat ekspedisi Satuan TNI Kopassus pada 2011 silam.

Kawasan Gunung Leuser yang mempunyai dua puncak, mempunyai ketinggian 3.404 di atas permukaan laut. Kawasan itu masuk dalam Taman Nasional dan daftar warisan dunia UNESCO sebagai hutan hujan tropis Sumatera, yang ditetapkan sejak 2004 silam.

Pekerjaannya sebagai guide disebut sebagai cara menjaga hutan Leuser tetap ada, selain meningkatkan ekonomi masyarakat. Kepada kami Mr Jali berpesan untuk menyampaikan kepada pemerintah agar membantu prasarana jalan ke pondoknya, sehingga selain pendaki, masyarakat juga dapat berwisata ke sana.

Jika jalan bagus, sungai di samping pondoknya dapat dikelola menjadi jalur arung jeram, juga river cubing untuk bermain anak-anak. Jalurnya bisa dimanfaatkan sampai satu kilometer lebih sampai ke perkampungan warga. “Ini akan meningkatkan ekonomi warga di sini,” kata Mr Jali.

Pesannya pernah kusampaikan kepada orang penting di Dinas Pariwisata Aceh dulunya, yang juga mengenal Mr Jali. Tapi sampai kini, harapannya belum terkabul. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here