Mereka yang Merindukan ‘Wali’

0
37


By; Adi Warsidi

Pagi-pagi sekali, Sabtu (11/10) Muklis berangkat dari tempat bermalamnya menuju bandara Sultan Iskandar Muda. Bersama rekan-rekan, Muklis yang tiba dari Bireuen sehari sebelumnya, menginap di Taman Ratu Safiatuddin, tempat massa penunggu ‘Wali’ berkumpul.

Di kalangan mantan Gerakan Aceh Merdeka dan masyarakat Aceh, Tgk Muhammad Hasan Ditiro akrab disebut ‘Wali’, merujuk kepada nama ‘Wali Nanggroe’, yang berarti pemimpin negeri.

“Saya sangat ingin melihat langsung wali dan berjabat tangan dengannya,” ujar Muklis yang simpatisan Partai Aceh. Sebuah partai lokal yang dipelopori oleh mantan anggota GAM.

Hari itu, Hasan Tiro tiba di Aceh menjelang siang. Pagi sudah ramai di bandara oleh mereka yang merindukannya. Nasib baik belum memihak Muklis, dia tak mengantongi kartu (id) khusus untuk tim penjemput. Alhasil, Muklis harus di luar bandara. “Saya tak bisa masuk, saya menunggu di luar saja. Padahal saya sangat rindu Wali,” ujarnya.

Pengamanan memang super ketat di pintu masuk Bandara Sultan Iskandar Muda. Puluhan pengawal khusus Hasan Tiro berjaga dengan pakaian serba hitam dan selempang merah putih hitam, mirip berdera GAM dulunya. Bedanya tanpa gambar bulan bintang.

Pengamanan minim polisi. Komite Peralihan Aceh (KPA) yang jadi panitia menjadi pengawal, umumnya eks Libya. Mereka yang pernah mendapat pendidikan militer di Maktabah Tanzura, Libya.

Muklis di luar pagar, saat pesawat yang membawa Hasan Tiro mendarat. Hasan Tiro dipapah saat menuruni tangga pesawat, senyum ditebarkan sambil melambai tangan. Massa mendongak dari luar pagar bandara. “Tak sempat melihat wali, pesawatnya juga boleh,” ujar Mursalin, seorang warga lainnya.

Lepas dari bandara, ratusan mobil dan sepeda motor berkonvoi mengikuti mobil yang membawa Hasan Tiro ke Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di sana, Hasan Tiro akan menyapa seluruh masyarakat Aceh.

Ribuan massa lainnya sudah menunggu di sana. Umumnya mereka mengusung bendera, Partai Aceh. “Wali tak pulang untuk kepentingan siapa-siapa, termasuk partai Aceh,” kata Juru Bicara KPA, Ibrahim Syamsuddin sebelumnya.

“Wali pulang karena rindu Aceh, ingin melihat kampung halaman. Dia pulang untuk seluruh masyarakat Aceh,” sambungnya.

Di Mesjid Raya Banda Aceh, Arman telah menunggu dari pukul 10.00 WIB. Dia tak datang ke bandara. “Saya merindukan ‘Wali’, begitu juga dengan semua masyarakat Aceh lainnya,” klaimnya.

Arman sudah dua hari sebelumnya datang ke Banda Aceh dari Aceh Timur bersama rekan-rekannya. “Kami berharap, ‘Wali’ bisa tinggal di Aceh selamanya.”

Dia memang tak sempat menjabat tangan ‘Wali’, karena massa berebut menyapa dari dekat panggung yang bertengger tiga meter dari tangga mesjid. Kendati begitu, kerinduannya sedikit terobati, dengan melihat dari dekat. “Selama ini kami hanya melihat foto-fotonya saja di media.”

Kerinduan juga dirasakan oleh Istri (Alm) Muhammad Usman Lampoh Awe, Pocut Sariwati binti Tgk Mahmud. Dia mendapat kehormatan mengalungkan bunga kepada Hasan Tiro. Suami Pocut Sari adalah Mantan Menteri Keuangan GAM dan juga sepupu Hasan Tiro. Tgk Usman meninggal pada 3 Oktober 2008 lalu, delapan hari sebelum ‘Wali’ pulang.

Pocut Sari menyebut bangga dapat mengalungkan bunga langsung kepada Hasan Tiro. “Saya dan mendiang suami saya dulu sangat merindukan dia pulang,” ujarnya.

Ribuan massa kembali ke daerah masing-masing menjelang sore hari. Rindu mereka sedikit terobati, kendati tak sempat berjabat tangan dengan yang mereka namanya ‘Wali’, Hasan Tiro. [*]

Koran Tempo, 12 Oktober 2008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here