Menyamar di Penjara Perempuan: Meliput Konflik #6

0
129

Sebuah investigasi meliput para perempuan yang ditahan karena tersangkut kasus makar terhadap negara, aku lakukan sepanjang Juni sampai Agustus 2004 di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Lhoknga, Aceh Besar. LP itu, kini tak berbekas setelah dihempas tsunami 26 Desember 2004 silam.

Aku masuk ke penjara dengan Cut Asmaul Husna, sepupu Cut Nur Asyikin yang ditahan di sana. Cut Nur sebagai ‘Singa Podium’ Aceh saat gerakan menuntut referendum. Dinilai sebagai anggota GAM, beliau ditangkap, disidang dan ditahan dengan vonis 11 tahun penjara.

Karena masuk saban akhir pekan, aku dikenal di dalam LP sebagai kerabat Cut Nur. Aku kerap seharian di penjara, berkawan dengan para penghuni, dan juga dengan penjaga dari aparat BKO Brimob. Saya masih ingat nama komandan jaganya sampai sekarang, karena unik: Praka Sunge.

Keterangan-keterangan ku kumpulkan, tentang Cut Nur yang menjadi ibu bagi para tahanan, tentang Meutia yang melahirkan saat masih berstatus tahanan yang dipenjara hanya kerena suaminya GAM.

Alm Cut Nur Asyikin | Foto Dok Pribadi

Juga tentang Elit Baleno alias Salbiah yang tak bisa bahasa Aceh tapi dituduh sebagai Panglima Inong Balee GAM dengan vonis paling tinggi, 16 tahun. Ada banyak lainnya kisah perempuan yang dipaksa GAM ikut latihan militer, sebagai penggerek bendera saat Milad GAM, tetapi kemudian ditangkap.

Laporan investigasi tayang di Majalah Acehkita edisi November 2004. Aku kembali ke penjara itu bersama kawan wartawan karena janji kepada penghuninya yang meminta majalah tersebut jika sudah terbit. Aku membawa lima eksemplar setelah mendapat kiriman dari Jakarta.

Tak kuduga, beberapa menit setelah majalah di tangan para tahanan, salah satunya diambil sipir untuk diberikan kepada Kepala LP. Saya dipanggil ke dalam, majalah dilempar ke hadapan saya. “Apa ini kau tulis, macam gak ada kerja saja kau,” katanya dengan muka memerah.

Saya bergeming sambil berkata, “ada yang salah?” Kepala LP menunjuk satu bagian tulisan yang mengisahkan tentang Meutia yang melahirkan di penjara. “Meutia ini melahirkan di rumah saya, bukan di penjara. Setelah melahirkan dan normal, dia dikembalikan ke penjara,” katanya. Hanya itu, lainnya tak ada bantahan apapun darinya.

Aku berjanji memperbaikinya khusus di website acehkita.com, lalu meninggalkan ruangan tanpa mendengarkan lagi ocehannya, meminta izin untuk pulang bersama kawan-kawan. Setelahnya, menghubungi redaksi di Jakarta dan meminta klarifikasi tentang keberadaan Meutia, dan tak lama kemudian tayang di website. Tapi masalah belum selesai.

Dua hari kemudian, aku mendapat telepon dari seorang aparat polisi yang kukenal dekat saat liputan ke sana. Dia meminta, aku tidak ke Lhoknga untuk sementara waktu, karena dicari aparat dari kesatuan lain setelah mendapat laporan dari Kepala LP. Saya menurutinya dan tak lagi ke sana. Lebih sebulan kemudian, tsunami menggada Aceh, persoalan itu terpendam bersama meninggalnya sebagian besar penghuni LP. [Semoga almarhumah Cut Nur Asyikin dan para almarhumah lainnya mendapat tempat di sisi Allah]

Salah satu narasumber yang pernah ku wawancarai, Meutia selamat karena bebas dari penjara sebelum tsunami datang. Dia kini tinggal di Kabupaten Pidie Jaya dan beberapa kali pernah kuhubungi setelah beberapa tahun melacak kontaknya.

Meutia dan anaknya Raja, saat di penjara

Awal 2018 lalu, secara tak sengaja bertemu dengan salah seorang yang mengaku pernah menghuni penjara Lhok Nga dan selamat kala tsunami, namanya Hayati dan kini tinggal di sebuah kawasan Aceh Besar. Dia adik salah seorang tokoh GAM Aceh Rayeuk dulunya.

Hayati mengaku tak terlalu mengenalku saat meliput di penjara dulunya. Sempat kuhubungi Meutia lewat handphone dan memintanya bicara berdua, kudengar mereka akrab dan saling berjanji untuk bertemu. Lalu kubagi nomor kontak Meutia.

Kata Hayati, ada delapan orang yang lolos saat tsunami menggada LP Lhok Nga termasuk dirinya. Artinya ditambah Meutia, ada sembilan orang yang punya kenangan tentang penjara itu.

Saat aku menyamar di sana, tercatat sebanyak 51 tahanan perempuan dengan berbagai kasus. Sebanyak 40 orang di antaranya dituduh terkait GAM, dari Inong Balee (pasukan GAM) sampai memberikan sepiring nasi untuk kombatan. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here