Menulis Bukan Bakat, Tapi…

0
54
Bersama Ketua Dewan Pers Indonesia, Stanley Adi Prasetyo dalam peluncuran bukunya | Foto: Chaideer M

“Saya tak punya bakat menulis.” begitu kalimat kerap ku dengar saat bertemu beberapa kawan, para aktivis, pegawai, mahasiswa dan siswa, dalam berbagai kesempatan. Paling sering, ketika mengajar penulisan kepada mereka. Bahkan kalimat nyaris sama, disampaikan anakku sendiri saat memintanya menulis.

Menghadapi pernyataan seperti itu, aku santai saja, sudah sering. Gampang kuyakinkan mereka, bahwa keahlian menulis itu bukan bakat, tapi ketrampilan yang didapat dari latihan-latihan dan rajin membaca.

Bakat disebut sebagai kemampuan dasar seseorang yang dimilikinya sejak lahir. Dia mampu belajar cepat dari orang lain dengan hasil yang bagus, ini potensi bawaan yang dimiliki misalnya oleh pemain musik, pelukis maupun pemain bola. Tak heran, banyak pelatih hebat mampu membaca para pemain bola berbakat sejak awal dan merekrutnya. Latihan hanya mengasah bakat itu.

Sementara ketrampilan adalah kemampuan yang diperoleh lewat latihan maupun kerja keras berulang-ulang. Meraihnya harus dengan aktivitas lainnya seperti belajar kepada guru, alam, membaca maupun meniru mereka yang telah mahir.

Ikut belajar bersama Prof Janet Steele dari George Washington University | Foto: Dok AJI Banda Aceh

Karena menulis adalah ketrampilan, maka tak ada alasan siapapun untuk berdalih mereka tak berbakat seperti kata para pemalas. Aku mengalami dan menjalaninya sendiri, menjadi jurnalis ataupun penulis lebih dari 15 tahun lamanya. Mutlak untuk menjadi penulis harus kerja keras dan terus belajar seperti kata orang bijak; keberhasilan berasal dari 99 persen kerja keras dan satu persen bakat.

Sejatinya menulis bisa dilakukan siapa saja, tanpa batas pekerjaan dan profesi. Menguasai ketrampilan menulis punya nilai lebih dengan apapun latar anda. Misalnya pegawai negeri maupun swasta yang bisa menulis, akan mendapat apresisasi besar dari pimpinan karena karyanya. Pangkat dan jabatan mudah saja didapat.

Profesi anda dokter tapi jagoan menulis, maka ilmu yang anda punya bisa dengan mudah disampaikan kepada masyarakat agar mengerti tentang penyakit misalnya. Bahasa kedokteran yang tak dipahami semua orang, dapat dengan mudah dicari padanannya untuk kemudian dimengerti semua orang. Begitu juga dengan perawat, insiyur, pedagang bahkan atlet sekalipun.

Berbagi pengalaman dalam acara KontraS Aceh | Dok. KontraS

Penulis juga profesi sejak lama. Para penulis kitab-kitab kuno di Indonesia dan belahan dunia lainnya telah meninggalkan pelajaran, bahwa karya mereka tak pernah mati setelah ratusan tahun. Sebut saja misalnya Mpu Tantular pengarang Kitab Sutasoma masa Kerajaan Majapahit. Di Aceh ada Hamzah Fansuri dan Nuruddin Ar Raniry. Di level internasional ada Plato, Aristoteles maupun bapak kedokteran Ibnu Sina.

Menulis tak terikat waktu, tapi perlu ide-ide yang didapat dari rajin membaca dan belajar pada guru maupun lingkungan sekitar. Punya ketrampilan menulis, maka tak perlu khawatir. Orang bisa hidup layak hanya dengan itu, misalnya menjadi jurnalis, penulis buku dan penulis artikel lainnya. Wadahnya sudah banyak, ribuan media massa dan media sosial telah memberikan imbalan bagi penulis, blog dan steemit misalnya.

Hakikatnya, semua kita adalah penulis handal hanya tak sadar atau terlalu cepat menyerah. Pahadal semuanya bisa diraih dengan belajar dan berlatih. Maka, jangan kudengar lagi para blogger dan steemians mengeluh, “saya tak berbakat menulis.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here