Mengingat Tsunami di Kapal Apung

0
14

Satu persatu pengunjung memasuki pelataran objek wisata tsunami kapal apung, bergantian dengan orang lainnya yang beranjak pergi. Di pintu masuk, Gibran mengawasi dan kerap memanggil para tamu, Sabtu sore 14 April 2012 lalu.

“Jangan lupa diisi buku tamunya, nama dan dari mana,” ujar Gibran, pemandu di area itu. Wisatawan pun mengisi dan memberikan kesannya.

Menurutnya, wisata kapal apung itu baru dibuka kembali untuk umum setelah dipugar dan dibuat pagar sejak 4 April 2012. Rehab lokasi itu dilakukan mulai Juli 2011 silam dengan dana dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Peresmian saat pembukaan kembali dilakukan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Raden Sukhyar, didampingi Pj Walikota Banda Aceh T Saifuddin. “Kami berharap monumen ini dapat dijaga dan dikelola dengan baik. Kami juga sangat berterima kasih kepada Kementerian ESDM atas dukungan dan bantuannya. Semoga monumen ini bisa menjadi pusat edukasi tsunami dan tujuan wisata di kota ini,” kata Saifuddin saat itu.

Kata Gibran, sejak dibuka pengunjung terus bertambah. “Saat ini ada seratus orang pengunjung perhari, kalau hari Sabtu dan Minggu bisa lebih lagi,” ujarnya kepada Tempo.

Di sisi kiri pintu masuk, sebuah monumen pengingat tsunami berdiri. Di sana bertulis nama-nama korban tsunami dari Desa Punge Blang Cut, tempat kapal apung itu bertengger. Kapal itu terdampar di sana saat tsunami menggada Aceh, 26 Desember 2004 silam.

Gibran yang warga setempat menyebut, kapal itu sebagai bukti kedasyatan tsunami. Saat tsunami datang, kapal yang difungsikan sebagai pembangkit listrik di lepas pantai, digiring ombak raya ke tengah pemukiman warga. Alhasil, berlabuhlah kapal berbobot mati 2.600 ton dengan panjang 63 meter ke darat. Bergeser sekitar 5 kilometer dari tempat seharusnya kapal itu berada.

Kini, kapal itu telah berubah fungsi. Oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, kapal dimasukan sebagai salah satu objek wisata tsunami di ibukota provinsi. Para pengunjung pun ramai datang, melihat dekat sisa tsunami dan membayangkan besarnya bencana yang datang enam tahun lima bulan lalu. “Pengelolaan dilakukan oleh kementrian ESDM dan Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Gibran.

Menjaga kapal dan objek wisata itu dilakukan oleh pemuda setempat. “Untuk sekarang tidak dipungut biaya apapun.”

Berada di atas kapal, sebuah pemandangan tersaji. Pengunjung akan tahu, berapa jauh kapal itu terseret arus tsunami, karena dari geladak setinggi 20 meter lebih akan terlihat laut dan dermaga Ulee Lheu. Sebagian kota juga terpampang dari atas sana.

Mesin pembangkit listrik tak ada lagi di dalam kapal, telah dipindahkan sejak akhir 2010 silam. Saat malam, lampu-lampu dihidupkan dengan memakai arus listrik, sama seperti fasilitas penerangan ke rumah-rumah warga.

Para pengunjung tak meninggalkan kesempatan untuk berpose pada kapal apung itu. “Saya baru melihat sendiri bukti dahsyatnya tsunami Aceh. Dulunya saya hanya melihat foto-foto,” kata Desi, yang mengaku berasal dari Sumatera Selatan.

Tempat wisata itu dibuka saban hari sejak pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 21.00 WIB. Malam akhir pekan, jadwalnya bisa bergeser lebih larut. Ingin ke Banda Aceh, jangan lupa singgah ke kapal apung, untuk sekadar mengingat tsunami. [tempo.co/travel, April 2012]

Adi Warsidi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here