Mengejar Target Imunisasi MR setelah Fatwa MPU

0
19
Rapat terkait Imunisasi MR | Foto: Humas Pemerintah Aceh

Imunisasi Measles (Campak) dan Rubella (MR) di Aceh yang sempat tertunda akhirnya mendapat kejelasan setelah rapat tertutup yang dihadiri oleh Plt Guberbur Aceh, Nova Iriansyah, unsur Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Dinas Kesehatan Aceh, unsur Forkopimda Aceh dan instansi terkait lainnya, pada Rabu 19 September 2018.

Ketua MPU Aceh, Tgk Muslim Ibrahim mengatakan pihaknya memperbolehkan vaksin Measles Rubella digunakan di Aceh, jika dalam kondisi darurat. Rujukan sama dengan fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia sebelumnya pada 20 Agustus 2018 lalu.

Hanya saja, kata Tgk Muslim, informasi terkait vaksin harus diketahui masyarakat. Vaksin itu diproduksi Serum Institute India yang dalam prosesnya menggunakan unsur dari babi, binatang yang diharampak oleh agama Islam.

“Terkait vaksin rubela ini, kita sepakat vaksin itu haram karena mengandung babi, namun dalam kondisi terpaksa penggunaan vaksin ini diperbolehkan,” ujar Tgk Muslim.

Poin Fatwa MUI terkait Vaksin Rubella

Sejauh ini, MPU belum melakukan penelitian terhadap kandungan vaksin itu. Segala keputusan yang diambil berpedoman pada Fatwa MUI sebelumnya. MPU merekomendasikan agar pemerintah secepatnya mencari maupun membuat vaksi yang halal dan suci sesuai agama Islam, agar tidak muncul lagi polemik di kemudian hari.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah sepakat sepenuhnya kepada keputusan MPU. Lewat Juru Bicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata menekankan selama ini pihaknya bersikap hati-hati ketika memutuskan suatu masalah yang sensitif dalam keterkaitan dengan agama. Lagi pula, Aceh mempunyai MPU yang patut ditunggu fatwanya terkait vaksin tersebut.

“Pemerintah Aceh harus menunggu fatwa MPU. Penjelasan dari Prof Musim tadi tentu telah mencerahkan kita dan menjadi pijakan terkait kebijakan vaksinasi MR,” kata Wira.

Setelah adanya kejelasan tersebut, Dinas Kesehatan Aceh langsung menyusun SOP untuk menjalankan kembali imunisasi yang sempat tertunda sesaat. Beberapa poin penting sesuai arahan pimpinan adalah, tidak memaksa masyarakat jika ada yang menolak anaknya untuk disuntik vaksin MR.

Target 95 persen imunisasi MR masih menjadi rujukan pihak Dinas Kesehatan Aceh, seperti yang disampaikan kepala dinasnya, dr Hanif saat pertemuan tersebut. Kampanye dan sosialisasi terus dilakukan sambal membangun koordinasi dengan Forkopimda sampai ke jajaran paling bawah di gampong-gampong. []

Baca laporan sebelumnya:

Imunisasi Rubella Terhalan Babi

Demi Anak-anak yang Diserang Rubella

Memutus Laju Cirus, Campak dan Rubella

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here