Menenteng Tiga Pucuk Senjata: Meliput Konflik #7

0
53
[Dok Pribadi, Feb 2005]

Aku pernah bebas menenteng 3 pucuk senjata, berkeliaran mondar-mandir seharian di sepanjang jalan kawasan Jeulingke Banda Aceh, pengalaman yang tak pernah ku dapat lagi sampai kapanpun. Begini kisahnya.

Aku tinggal di Jeulingke Banda Aceh saat tsunami datang, 26 Desember 2004. Lantai satu ruko rental komputer Arwa tempat kami tinggal tenggelam. Aku keluar cepat saat gempa dan tak tersentuh tsunami, hanya barang-barang dan dokumen penting yang lenyap.

Aku kembali ke sana, saat air mulai surut. Korban bergelimpangan, dengan beberapa warga mencoba mengangkat korban ke tempat yang lebih tinggi agar tak terendam. Hampir tiba di ruko, bertemu Budhin, seorang kawan polisi kesatuan Brimob yang bermarkas di Jeulingke (sekarang Markas Polda Aceh). Dia sering bermain ke ruko kami.

Dia menitip dua senjata, M 16 kepada ku. “Kutitip ini sebentar, aku harus mencari anggota, banyak yang hilang,” katanya. Aku lalu menentengnya, tak mungkin menyimpannya di ruko. Aku menemukan sebuah sepatu PDL polisi di ruko, memakainya untuk melindungi kaki dari sampah tsunami yang berserakan. Tak ada yang perduli apalagi menegur, semua sibuk mencari anggota keluarganya yang hilang.

Dengan menenteng M 16 dan berambut gondrong melewati bahu, aku menyusuri sepanjang jalan dari Prada ke Simpang Mesra. Pikiran yang kacau, terenyuh dan depresi melihat kondisi membuat saya tak tahu berbuat apa, hanya mengangkat mayat-mayat semampunya dari dalam lumpur.

Tiba-tiba, seorang anggota brimob dengan senjata yang masih berbaju seragam mendekati dengan mata merah, mungkin usai menangis. “Bang, saya titip ini satu lagi ya, keluarga saya hilang dan saya harus mencarinya,” ujarnya sambil menyerahkan satu pucuk AK. Tanpa banyak komentar aku mengambilnya lalu menenteng tiga senjata.

Aku lebih tenang saat tsunami terjadi, keluarga inti tinggal di wilayah aman. Adik kandungku yang tinggal di Alue Naga, sempat terseret arus tapi selamat, tapi satu sepupu kami yang tinggal bersamanya meninggal. Kawan-kawan yang tinggal di ruko, semuanya selamat.

[Arwa Komputer, Ruko tempat tinggal, 5 hari setelah tsunami]
Sampai menjelang malam, Budhin tak nampak batang hidungnya. Aku khawatir harus membawa ke mana. Maklum, konflik masih menghantui Aceh kala itu. Saran kawan ku Maimun, yang sama-sama tinggal di ruko itu, agar menyimpannya di lantai dua yang tak tersentuh air. Senjata itu kemudian saya tutupi dengan baju-baju dan kertas-kertas di lantai dua.

Saya bertemu Budhin setelah tiga hari pascatsunami. Dia mungkin sudah lupa soal senjata itu. Saya mengingatkannya dan kemudian mengambilnya di ruko, syukur masih ada. “Kok ada tiga, yang kutitip kan dua,” tanyanya. “Ada satu lagi dikasih sama anggota brimob, tapi aku tak kenal,” jelas saya.

“Mungkin dikirannya kau intel, kau memang lebih mirip intel daripada wartawan,” celoteh Budhin. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here