Memek dan Gutel, Rasanya Seunik Nama

0
6924

Jangan bayangkan apa-apa saat menyebut Memek, karena begitulah nama yang dilakapkan oleh para leluhur kita di Pulau Simeulu untuk menyebut kuliner lezat ini. Nama daerah yang khas dengan rasa khas pula.

Memek hanyalah makanan terbuat dari beras ketan gongseng bercampur pisang dan santan yang telah dipanaskan. Lalu ditaruh sedikit gula dan garam. Waktu pemasakannya sekitar satu jam, sneak disantap dalam kondisi dingin dan hangat.

Di Banda Aceh, makanan ini sedang menjadi buah bibir oleh pera pengunjung di arena Pekan Kebudayaan Aceh ke-7, setidaknya sampai 15 Agustus 2018 mendatang. Memek menjadi menu yang ditawarkan di anjungan Kabupaten Simeulu, yang terletak di Taman Ratu Safiatuddin. Satu porsinya dijual Rp 5.000 dalam cup plastik.

Makanan ini diburu karena namanya yang unik. Begitu pengakuan yang disampaikan penjaga stand Simeulue, Almawati. Sejak hari pertama pameran di anjungan tersebut dibuka enam hari lalu, pengunjung menyerbu tempat tersebut, ingin mencicipinya. Bisik-bisik dan humor kemudian meluncur dari mulut mereka mengabarkan kepada rekan-rekannya. “Sudah coba memek Simeulu, kalau belum coba aja ke sana.”

Bahkan ada pengunjung dari luar Aceh yang memesan lebih untuk dibawa pulang ke daerahnya. Dorongan nama yang khas, serta rasanya yang memang menggugah selera.

Foto-foto: Pusat Informasi Sekretariat PKA ke-7

Bukan karena kecorobohan menamakan makanan ini Memek. Tapi nama itu disematkan sesuai bahasa daerah Simeulu, yang berasal dari kata ‘Mamemek’ yang berarti mengunyah dan menggigit. Belakangan namanya mudah disebutkan oleh masyarakat sebagai Memak saja. Di daerah asalnya, Memek mudah dijumpai saat bulan suci Ramadan.

Aceh kaya dengan kuliner khasnya. Hampir semua wilayah kabupaten/kota yang berjumlah 23, memamerkan kuliner khas masing-masing wilayahnya di arena PKA ke-7, sebuah perhelatan budaya terbesar di Aceh lima tahunan.

Selain Memek ada juga yang unik lainnya, Gutel, makanan khas dari dataran tinggi Gayo, yang dipamerkan di anjungan Kabupaten Gayo Lues.

Gutel terbuat dari tepung beras yang dipadu campur dengan kelapa, gula dan air. Pembuatannya dengan cara mencampur semua bahan tersebut dan diaduk kemudian membentuknya bulat lonjong sebesar telur ayam, digumpalkan dengan kekuatan tangan. Sekilas terlihat sederhana, tapi bagi yang belum ahli meraciknya, dijamin rasanya akan hambar.

Makanan ini kemudian dibungkus dengan daun pandan, yang bisa tahan selama tiga hari. Kuliner ini di daerah asalnya, kerap menjadi bekal bagi warga yang akan berladang maupun berburu ke hutan. Dulu menjadi makanan cadangan bagi para gerilyawan saat melawan penjajah.

Makanan yang enak dimakan sambil menikmati secangkit Kopi Gayo yang nikmat, semakin jarang dibuat. Biasanya disiapkan saat ada perayaan hari pbesar agama, maupun dalam pesta-pesta pernikahan di Gayo Lues.

Ragam makanan khas daerah Aceh dapat dijumpai di berbagai anjungan dalam arena PKA. Selain Memek dan Gutel, ada Adee dari Pidie Jaya, Kerupuk Mulieng dari Pidie, Kerupuk Tripang dari Singkil, Sie Reboh dari Aceh Besar dan Sate Gurita dari Sabang. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here