Membangkitkan Seni Rapai, Indentitas Aceh

0
60

Oleh: Adi Warsidi

Usai ustad menutup doa pembukaan acara, satu persatu penari dan penabuh raik menjejak ke atas panggung utama. Di tangannya aneka rapai, besar kecil. Ada 150 orang akan menampilkan sebuah karya “Sa”.

Barisan dibentuk rapi geleng di depan, rapai pasee yang besar digantung pada rangka besi di kiri dan kanan panggung, penabuhnya berdiri. Ada juga penabuh rapai tuha lainnya yang duduk di tengah-tengah. Selanjutnya paling belakang, ada alat musik modern, drummer dan gitar.

Leader Musik, Mahrizal Rubi masuk ke arena, dia berdiri paling depan. Tangannya memulai laiknya komponis memimpin sebuah oskestra. Dua tangannya diangkat ke atas, lalu turun pelan ke bawah, seiring penabuh memukul rapai. Dum… dum… irama pelan.

Makin lama, tangan Mahrizal makin cepat turun naik dan begitu juga suara rapai yang menggetarkan arena Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Tempat digelarnya pembukaan Aceh International Rapai Festival 2016, Jumat malam 28 Agustus 2016.

Usai mengatur irama, Mahrizal bergeser ke bagian belakang. Posisinya digantikan Nazaruddin yang tampil dengan sebilah parang. Dia pamer keahliannya bermain debus dengan bantuan irama rapai. Dengan doa-doa, irama rapai mengandung mistik yang membuat kulit tak tembus senjata tajam.

Selanjutnya, Joel Pasee tampil bernyanyi dengan diiringi Rapai. Tabuhan semakin berirama. Seribuan lebih penonton dan undangan bertepuk tangan, menyaksikan penampilan para pemusik tradisional itu.

Karya “Sa” yang ditampilkan 150 orang, menggabungkan beberapa alat musik tradisional Aceh dan musik modern, yang dikalaborasikan menjadi satu kesatuan musik. Unsurnya didominasi rapai, terdiri dari Rapai Pasee (Uroh Dong), Rapai Uroh Duek, Rapai Geleng, Rapai Pulot Krimpeng, lalu ada alat musik modern seperti bass, gitar, keyboard, terompet dan drum.

Mereka berasal dari ragam komunitas seni seluruh Aceh. “Untuk penampilan ini, kami berlatih bersama selama 3 hari. Kalau latihan sendiri-sendiri sudah selama sepekan lebih,” kata Imam Juaini, Direktur Komunitas Saleum, yang ikut bergabung.

Tak hanya dari lokal yang tampil di malam pembukaan Festival Rapai, tapi juga dari Palito Nyalo dari Sumatera Barat dan Absolutely dari Thailand. Kontingen dari Sumatera Barat tampil dengan rapai khas mereka sendiri, yang ditabuh bersamaan dengn pertunjukan silat.

Sementara kontingen dari Thailand, tampil membawakan Klong Yaw, tarian pergaulan muda mudi Thailand, dengan menggunakan alat musik perkusi. Selain itu para penari juga ikut menyanyi untuk menambah semarak performa mereka saat di atas pentas. Klow Yaw berarti long drum.

Begitulah semarak malam pembukaan Rapai Festival di Banda Aceh. Even budaya yang berkelas internasional ini, masih akan berlangsung sampai 30 Agustus mendatang dan terbuka untuk umum. Masyarakat Aceh dalam even ini tidak saja disuguhkan penampilan group kesenian dan budaya dari Aceh saja, tapi juga ada dari beberapa provinsi dan kontingen dari lima negara.

Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi mengatakan kontingen dari negara yang negara adalah Ogawa Daisuke (Jepang), Absolutely Thai (Thailand), Miladomus (China), Pejman, Mohammad Reza, Jahanara (Iran) dan Fieldflyer (Malaysia). “Mereka yang akan menunjukkan talentnya di Aceh sebagai wakil perkusi dunia.”

Dari Aceh sendiri, sekitar 30 komunitas seni rapai akan tampil menghibur selama empat hari ke depan. Panggung tak hanya di Taman Ratu Safiatuddin, tapi juga di Museum Tsunami dan Taman Seni Budaya. Festival juga dimeriahkan oleh para artis nasional dan internasional, seperti Daood Debu, Rafli Kande, Tompi, Gilang Ramadhan, Moritza Taher dan Steve Thornton. Saban tampil, rapai akan mengiringi vokal mereka.

***
Di Aceh, Rapai adalah bagian dari identas. Reza Pahlevi menyebut perhelatan yang digelar pertama kali tersebut dibantu oleh Kementerian Pariwisata Indonesia untuk membangkitkan dan melestarikan kesenian tradisi yang berkesinambungan. “Karena rapai adalah bagian jati kebudayaan dan identitas Aceh,” ujarnya.

Rapai adaalah alat musik perkusi tradisional Aceh yang termasuk dalam keluarga frame drum, yang dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan tanpa menggunakan stick. Rapai sering digunakan pada upacara-upacara adat di Aceh seperti upacara perkawinan. Secara filosifi dan kultural, rapai tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.

Rapai disebut masuk ke Aceh sekitar abad ke-11, dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad bernama Syeh Rapi (ada yang menyebut Syeh Rifai) dan dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifak (sekarang Gampong Pandee, Banda Aceh). Beliau menyebarkan Islam dengan syair-syair yang diiringi rapai.

Sekretaris Daerah Aceh, Dermawan dalam menyebutkan Aceh merupakan wilayah yang memiliki ragam kesenian. Aktifitas berkesenian bahkan tak lekang meski Aceh dilanda perang yang panjang. Bahkan, isu sosial diangkat oleh seniman sebagai tema dalam berkarya. “Tidak heran jika banyak tarian dan nyanyian di Aceh yang menggambarkan tentang perang dan kehidupan,” ujar Sekda

Begitu juga rapai. Ragam tari-tarian dan nyanyian yang dimainkan di Aceh biasanya diiringi dengan tabuhan alat musik itu. “Dengan event ini kami ingin mendekatkan masyarakat dunia kepada alat musik ini (rapai),” katanya.

Rapai juga berfungsi sebagai pemersatu. “Rapai bisa menyatukan orang-orang, bisa menghibur dan melupakan konflik-konflik,” kata pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid.

Katanya, festival semacam ini mampu membawa marwah Aceh ke dunia internasional. Hal ini dengan sendirinya membuat generasi muda akan ikut serta dan mencari tahu lebih jauh tentang rapai yang mulai pudar di Aceh.

Perhelatan Aceh International Rapai Festival 2016 masih berlangsung sampai 30 Agustus. Panggung-panggung tak pernah sepi dari pengunjung. Harapannya, Festival rapai akan menjadi agenda even tahunan di Aceh.

“Malam ini kita menyaksikan rapai di Aceh dan kami di Kementerian Pariwisata menginginkan tahun depan acara ini dilakukan di Jakarta. Ini adalah budaya yang harus kita lestarikan,” kata Reseno Arya, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata. [Koran Tempo, 31 Agustus 2016]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here