Masuk ke Kampung Front: Meliput Konflik #8

0
389
Markas Persatuan Perlawanan Rakyat Merah Putih (PPRMP), Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Agustus 2005 | Dok. Adi Warsidi

Bener Meriah, 24 Agustus 2005, Sembilan hari setelah kesepakatan damai ditandatangani oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia. Aku mendapat tugas meliput konsidi di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Dua wilayah di dataran tinggi Gayo itu dikenal sebagai cikal bakal lahirnya Front Pembela Tanah Air, sebuah gerakan perlawanan sipil terhadap GAM.

“Coba cek ke sana, bagaimana kondisi front dan masyarakat di sana. Siapkah mereka menerima perdamaian dan menerima anggota GAM,” kata Nezar Patria memberi penugasan. Saat itu, dia masih sebagai redaktur di Majalah Tempo.

Aku berangkat ke sana bersama Imran, jurnalis satu media yang berdomisili di Lhokseumawe, plus seorang sopir. Tiba di sana, kami tak langsung turun ke lapangan, kunilai suasana kurang kondusif. Lalu aku menghubungi Misriadi alias Adijan, petinggi Front di sana.

“Bang, aku mau masuk ke Bener Meriah, mau liputan,” kataku menghubunginya lewat ponsel. “Waduh, saya sedang jalan ke luar wilayah. Silakan ke gudang saya, nanti saya minta dikawani sama pengawal,” katanya.

Kami bergerak ke gudang kopi seperti petunjuknya. Setelah melapor di sana, kami dipersilakan menunggu di sebuah bale. Tak lama kemudian seorang pria, kutaksir umurnya 40-an tahun menghampiri.

Penampilannya sungguh tak nyaman, berewokan dengan jenggot lebat dan tegap. Kami bersalaman sambil memperkenalkan diri. Menolak menyebut nama asli, “Panggil saja saya Pak Militer,” katanya singkat.

Pos jaga di Bener Meriah, Agustus 2005 | Dok. Adi Warsidi

Aku mencoba menghindar agar dia tak ikut bersamaku. Merasa tak nyaman kerjaan dimata-matai. Tapi katanya, dia harus menjamin keamanan setiap tamu yang datang ke sana. Aku mengalah, di satu sisi akan lebih mudah untuk menjumpai siapa saja dengan keberadaannya.

Dari Gudang Kopi, kami bergerak menuju rumah Sutrisno, Wakil Ketua Front Bener Meriah. Aku duduk bersama Pak MIliter di bagian belakang mobil, Imran bersama sopir di depan. Sepanjang perjalanan, aku terus coba bercanda untuk memancingnya tersenyum. Dari politik sampai kebun kopi yang tumbuh subur di Bener Meriah, tapi dia menjawab seperlunya saja tanpa menebar senyum.

“Sialan, ini orang sungguh sangar dan tak ramah,” kataku dalam hati.

Dalam perjalanan melewati kampung-kampung, aku meminta sopir menghentikan mobil tepat di sebuah pos jaga. Kuminta Pak Militer untuk menyapa mereka dan memberitahukan keinginan kami untuk wawancara mereka. Pandangan warga yang semula seperti menaruh curiga berubah, saat Pak MIliter membuka bicara dalam bahasa Gayo. Sebagian bahkan mengenalnya.

Tugu Perlawanan di Kampung Kresek, Bukit, Bener Meriah, Agustus 2005 | Dok. Adi Warsidi

Setelah itu, kami bergerak lagi ke Kampung Kresek, Kecamatan Bukit, menuju rumahnya Sutrisno. Aku terus berusaha untuk mengajaknya bercanda, sampai kudapatkan sebuah jurus paling ampuh, tentang perempuan. “Aku belum nikah Pak, sepertinya aku tergoda dengan kecantikan dan fisik cewek-cewek di sini. Andai Pak Militer bersedia mencarikan untuk ku.”

Tak kusangka, dia tersenyum pertama kali setelah berjam-jam kami bersama. Aku menang dan cairlah suasana. Soal perempuan seterusnya menjadi isi pembicaraan kami seisi mobil, setelah Imran dan Sopir ikut nimbrung. Banyak petuah tentang penaklukan hati perempuan yang kudapatkan dari Pak Militer, sebaiknya pembicaraan ini kurahasiakan.

Aku terakhir bertemu Pak Militer saat beliau ikut aksi demo warga Aceh Tengah dan Bener Meriah ke Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh pada 2007 silam. Dalam aksi menuntut keadilan itu, aku sempat berbicara dengannya. Belakangan, seorang koordinator demo sempat kutanya tentang Pak Militer. “Dia orang sakti dan kebal,” katanya. Sampai kini, aku tak tahu nama aslinya. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here