Makam Pejuang tak Pernah Sepi: Syahid Lapan

0
18

Tak banyak makam pejuang kemerdekaan terurus di negeri ini, apalagi beruntung selalu dikunjungi dengan lantunan doa pengunjung. Tapi pusara pahlawan ini tak pernah sepi.

Satu mobil berhenti tak jauh di depan ‘Makam Syahid Lapan’, seorang penumpang turun memasukkan lembaran uang ke dalam sebuah wadah yang tersedia di sana. Dua pengemis tengadah tangan di pagar makam itu.

Aku singgah di sana 13 Juni lalu saat mudik ke kampung halaman. Pemandangan itu adalah keseharian yang berlangsung saban menit di makam tempat bersemayam jasad delapan pahlawan yang syahid setelah melawan Belanda. Letaknya di jalur lintas Jalan Nasional Banda Aceh – Medan kilometer 184, atau di Gampong Tambue, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. Di depan makam, sebuah masjid juga ramai disinggahi pelintas jalan.

Masjid di depan Makam Syahid Lapan

Bahkan seorang pengemudi mobil penumpang, Bang Min mengaku selalu singgah di sana untuk bersedekah, sambil melafalkan doa untuk syuhada. “Juga berdoa kepada Allah untuk diberi keselamatan dan kemudahan rezeki,” katanya ketika kutanya. Itu sudah menjadi kebiasaan di kalangan mereka.

Dana itu dipakai pengurus untuk memakmurkan masjid dan merawat makam, hingga terlihat asri dan rapi. Tak jauh dari tempat itu, beberapa kios yang menjajakan aneka minuman dan makanan menjadi tempat singgah para pengguna jalan kelelahan.

“Makam Syahid Lapan” berisi delapan jenazah pejuang Aceh yang gugur dalam melawan Belanda. Nama-nama mereka diukir dalam sebuah prasasti beserta sekilas peristiwa syahidnya mereka. Para pejuang itu adalah Teungku Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Teungku Muda Lem Mamplam, Teungku Nyak Balee Ishak, Teungku Meureudu Tambue, Teungku Balee Tambue, Apa Syeh Lancok Mamplam, Muhammad Sabi, dan Nyak Ben Matang Salem.


Mereka adalah pejuang yang ikut melawan Belanda mempertahankan Bumi Samalanga. Membangun pusat perlawanan di Benteng Batee Iliek, mereka ikut menggagalkan beberapa kali upaya penjajah masuk ke sana. Bahkan Gubernur Militer Belanda di Aceh, Van Heutsz sendiri pernah memimpin ekspedisi ke sana pada 3 Februari 1901, tepat saat ulang tahunnya ke-50.

Sesuai Catatan Paul Van’t Veer dalam De Atjeh Oorlog (Perang Belanda di Aceh), saat itu banyak pejuang Aceh dan prajurit Belanda yang menjadi korban. Tapi, perlawanan tak dapat dipatahkan dan terus terjadi setelahnya.

Awal tahun 1902, delapan pejuang Aceh yang dipimpin Teungku Panglima Prang Rayeuk menghadang marsose Belanda yang patroli di kawasan Simpang Mamplam. Bersenjatakan parang dengan taktik penguasaan wilayah, berhasil membunuh 24 pasukan Belanda lalu berusaha mengumpulkan senjata api milik lawan.

Tiba-tiba bala bantuan datang tanpa mereka sadari, mereka dikepung dan kalah jumlah. Para pejuang itu syahid setelah memberikan perlawanan terakhir. Beberapa bagian tubuh mereka dicincang oleh prajurit Belanda yang marah karena kawannya mati. Mereka ditinggalkan di sana, warga kemudian datang menguburkan mereka dalam satu liang.

Kisah heroik ini kemudian diceritakan turun temurun oleh warga dari generasi ke generasi. Mereka telah tiada, tapi pusaranya tak pernah sepi. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here