Kuliner Aneka Daun, Khas Aceh Warisan Koki Sultan

0
54
Penjual Lambai di Pasar Ulee Kareng

Zuhur baru saja usai, pasar Ulee Kareng mulai ramai saat aku memasuki lorong-lorong mencari kuliner kesukaan, Senin 11 Juni 2018. Sepanjang Ramadan tahun ini, aku belum merasakan menu dari aneka daun yang diwarisi para koki Sultan Aceh abad ke-16.

Kucari lapak di bagian belakang pasar, bertemu dua nenek menggelar lapak di sana. Di meja aneka resep makanan tradisional dijajakan. Aku memilih Lambai (sebagian menyebut Sambai), kuliner terbuat dari puluhan jenis daun. Tak dimasak, tapi dimakan mentah-mentah. Punya khasiat untuk melawan berbagai penyakit.

Penjual Lambai bernama Nek Mah, begitu pedagang sekitar memanggilnya. Lengkapnya Fatimah, kutaksir berumur hampir 70 tahun, giginya tak sempurna lagi dengan kulit keriput. Dia ramah selalu menebar senyum melayani pembeli.

Satu buah mangkuk kecilnya di depannya telah terisi Lambai, berdampingan dengan aneka daun yang telah digulung rapi terikat karet. Jika ada lagi pemesan, maka akan dirajang kembali untuk ditaruh di mangkuk.

“Berapa satu Nek,” kataku. Nek Mah menjawab dalam bahasa Aceh “sepuluh ribu.” Aku memintanya untuk membungkus satu. Kukasih uang lebih, tapi dia menolak dengan menambahkan sedikit lagi Lambai.

Dalam riwayatnya, sampai bisa bisa dimakan terbuat dari 44 jenis daun dan bahan lainnya. Doniman adalah daun peugaga (pegagan). Selanjutnya daun meulinjo, daun sigeuntot, daun lawah (jarak), daun jeruk perut, daun mengkudu, bunga rebung kala dan aneka lainnya. Saat ini susah mendapatkan beberapa jenis daun, tapi sebagiannya saja sudah memadai. Semua daun punya khasiat sendiri menjaga tubuh tetap sehat.

Daun-daun itu dikumpulkan, lalu dibersihkan dengan air. Setelahnya digulung bersama dan dicincang halus. Perlu penambahan beberapa bahan lainnya agar enak dimakan. Nek Mah berpesan, harus ditambahkan beberapa bahan yang disiapkan sendiri di rumah.

Beberapa tambahan adalah, kelapa gongseng, bawang merah, cabai kecil, asam sunti dan kemiri sebagai bumbu. Menjelang berbuka puasa Senin sore, kusiapkan bumbu dengan menggilingnya sendiri di rumah, memakai batu giling. Setelah halus, kuaduk rata dengan dedaunan cincang yang dari Nek Mah, jadilah Lambai Daun.

Saat berbuka, kumakan dan memuaskan dengan aneka rasa yang unik; asam, manis, pedas, pahit dan hambar daun bercampur menjadi satu. Kusisakan sedikit untuk sahur, aku ketagihan.

Lambai Daun, pernah dikisahkan oleh Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Badruzzaman Ismail adalah makanan khas Aceh yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh. Dulunya, di taman kerajaan ada ragam jenis tanaman obat-obatan, sengaja ditanam untuk menjadi contoh bagi warga.

Oleh koki Sultan, aneka daun kemudian diambil dan dirajang halus kemudian meracik bumbu sendiri dengan beberapa kali uji coba. Jadilah resep Lambai Daun, dapat dinikmati sampai saat ini. Ingin mencoba? Kuliner ini mudah dijumpai saat Ramadan di Aceh, umumnya diracik oleh perempuan berusia lanjut.

@abuarkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here