Kisah Penulis tentang Karyanya: Kura-kura Berjanggut #1

0
22

Aku baru menyelesaikan halaman ke 826 dari novel setebal 960 halaman itu. Aku mungkin terlambat menamatkannya, setelah mendapatkan buku itu langsung dari penulisnya, Azhari Aiyub pada sebuah malam usai tarawih, awal Juni 2018 silam.

Saat kami bertemu, aku tertarik mengetahui bagaimana dia menyelesaikan novel setebal bantal itu, yang telah bertahun-tahun disiapkan, seperti kisah yang kudengar langsung dulu. Saban kami bersua. Novel ini memang menggoda, tak habis dilahap dalam sehari. Butuh waktu membaca kisah-kisah yang tak berani kita loncati apalagi mengabaikan beberapa halaman. Setiap lembar berisi lakon yang meledak, tak terduga.

Judul “Kura-kura Berjanggut” didapat Azhari dari kata yang disampaikan senior kami Nezar Patria, dalam sebuah diskusi dibangun melalui pesan singkat handphone pertengahan 2006 silam. Dia berkisah, saat itu konflik baru saja pergi dari Aceh ditandai dengan penandatangan kesepakatan damai atau dikenal MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Setahun kemudian, kabar kepulangan Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Hasan Di Tiro semakin santer terdengar. Banyak aktivis membahasnya di Aceh, termasuk pertanyaan bagaimana gerakan selanjutnya.

Tanya itu juga yang disampaikan Azhari kepada Nezar. Bagi kami di Aceh, dia adalah tempat bertanya jika sebuah keraguan muncul dalam membaca gerakan-gerakan perubahan. “Bagaimana prospek gerakan kemerdekaan?” tanya Azhari. Nezar membalas dengan pesan disertai simbol senyuman, “Kapreh Baneng meujanggut.”

Bersama Nezar (tengah) dan Anang

Dalam bahasa Indonesia berarti “Tunggu Kura-kura berjanggut.” Secara filosofi gerakan kemerdekaan Aceh sudah padam dengan perdamaian, tak ada lagi minimal untuk sementara. Ke depan, hanya Tuhan yang tahu.

Kata itu direkam Azhari dalam pikirannya, kebetulan saat itu dia sedang merancang plot sebuah novelnya. Nama “kura-kura Berjanggut” kemudian cocok ditasbihkan menjadi gelar sebuah komplotan dalam karyanya, komplotan yang menjadi musuh utama Sultan Nurruddin atau Anak Haram yang memimpin Lamuri.

Novel itu disiapkan 12 tahun oleh Azhari, yang menulisnya perlahan. “Ini bukan novel sejarah, saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak ke situ. Ini murni fiksi dalam imajinasi saya.”

Soal beberapa kemiripan nama tempat semisal Lamuri, itu hanya pinjaman saja. Lamuri merujuk pada sebuah kerajaan Aceh masa silam yang hidup dalam dua kebudayaan, Hindu dan Islam. Setting novelnya diambil abad ke-17, Lamuri dan Aceh dalam pengaruh Islam yang berkembang.

Lamuri dalam “Kura-kura Berjanggut” digambarkan sebagai kota pelabuhan yang ramai pada muara sungai. Tempat strategis bagi jalur di Selat Malaka, tempat kapal-kapal dagang berlabuh. Jadilah Lamuri negeri yang makmur dikuasai banyak kongsi dagang, saling menebar pengaruh dalam latar cerita yang fokus ke laut. [bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here