Kisah dari Markas Front: Meliput Konflik #9

0
100

Pak Militer membawa kami ke rumah Sutrisno, Wakil Ketua Front Bener Meriah. Tuan rumah mempersilakan dan berbincanglah kami tentang kondisi para anggota Front Pembela Tanah Air di sana, saat perdamaian Aceh baru berumur sembilan hari.

Aku ke wilayah tersebut pada 24 Agustus 2005, meliput keberadaan para anggota Front, sebuah perkumpulan rakyat yang anti terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Siapkah mereka menerima lawan mereka sebelumnya? Lihat tulisan: Masuk ke Kampung Front: Meliput Konflik #8

Trisno berkisah, malam sehari sebelum kami bersua. Dia baru saja didatangi para peronda malam dari desanya, Kampung Kresek, Kecamatan Bukit, Bener Meriah. Mereka mengabarkan kalau Panglima GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima dan pasukannya telah berada tak jauh dari rumah Sutrisno.

Kabar itu jelas membuatnya kaget, juga seisi kampung. Kendati Pemerintah Indonesia dan GAM telah sepakat berdamai pada 15 Agustus 2005, tetapi kondisi di lapangan tak bisa ditebak. Lalu, Trisno mengungsikan anggota keluarganya ke rumah kerabatnya.

Trisno mengambil handphone dan mengirim pesan ke salah seorang kelompok GAM, tak ada balasan. Sampai pagi, pasukan GAM yang dimaksud tak muncul. Pengakuannya, pada 20 Agustus 2005, dia telah menghubungi Khalidin, Panglima GAM Daerah III Bener Meriah, tangan kanan Fauzan. Hubungan ponsel berlangsung akrab, maklum sudah damai. Lagi pula, Fauzan dan Khalidin adalah adik kelasnya.

Trino sempat meminta ke Khalidin untuk turun gunung dan Front menerima dengan terbuka. Tapi saat itu, Khalidin mengatakan akan turun setelah 30 Agustus 2005, saat amnesty kepada mereka diumumkan oleh Pemerintah Indonesia.

Merah Putih di perbukitan Bener Meriah, Agustus 2005

Kampung Kresek punya sejarah kelam perseteruan GAM dan Front atau di Bener Meriah dikenal dengan nama Persatuan Perlawanan Rakyat Merah Putih (PPRMP). Sama dengan gerakan perlawanan terhadap GAM lainnya. Hanya saja di kampung itulah cikal bakal dari Front berdiri.

“Itu tugu sebagai buktinya,” kata Sutrisno mengantarkan kami ke persimpangan tak jauh dari rumahnya. Tugu itu bergambar lima warga, salah satunya anak-anak, yang menjadi korban setelah perang antara warga dan GAM, pada 5 Juni 2001. Sebagian rumah ikut dibakar.

Trisno masih menjabat sebagai kepala desa di sana. Kekacauan terus terjadi, sebagian warga -anak dan perempuan- mengungsi sesudahnya. “Rumah saya dibakar dulunya, pak cik saya ditembak,” sebutnya.

Pascainsiden itu, warga berusaha melindungi diri dengan merakit senjata. “Untuk bertahan dari gangguan, bukan untuk menyerang,” jelas Trisno. Saat aku meminta diperlihatkan senjata rakitan yang kuduga masih dimilikinya, dia tersenyum menolak. Senjata rakitan umumnya telah diserahkan kepada aparat TNI setelah damai Aceh.

Apakah Front menerima GAM? Trisno menjelaskan kepada kami, selama sembilan hari setelah damai, dia dan rekannya terus melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk menerima GAM nantinya. Selain itu, juga terus mengajak GAM turun gunung.

Begitulah damai Aceh, diterima semua pihak dan menghapus kekhawatiran. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here