Kerinduan

0
43

By : Adi Warsidi

Kerinduan-ku bertaut pada angin yang membawa kabar dari empat penjurunya, bahwa telah tergali sumur-sumur untuk pelepas dahaga penduduk sejagad. Anggap saja jagad itu adalah Aceh, tempat lakon cerita ini kita mainkan.

Rekan telah melakukan itu pada setiap meter tanah target. Lalu dalam kerinduanku, rekan kirimkan pesan, ‘Semuanya telah tergali, tinggal menunggu petunjuk lanjut’.

Kusampaikan pesan itu pada panglima, bahwa perintah telah dijalankan sesuai perintah, jelas yang menurutku jelas, dan terbuka yang menurutku terbuka. Panglima keluarkan petuntuk, ‘hubungkan sumur-sumur itu hingga membentuk alur, dari hulu ke hilir’. Ku-teriakkan itu melalui angin dan mulailah lagi kawan-kawan pada tekadnya.

Sampai di sini, dalam kerinduan-ku, kabar muncul lagi. Ada yang ragu, menghubungkan sumur dengan laut tanpa menanam pohon-pohon pada tanah yang telanjur gersang, akan membawa wabah pada warga se-jagad, sumur-sumur akan asin. Laut terlalu sombong dengan airnya yang biru dan tak pernah kering. Dengan ombaknya, dengan luasnya yang mampu menaklukkan tanah-tanah yang telah digali.

Dalam kerinduan-ku, kawan-kawan berujar mari bahwa menanam pohon dulu, baru menghubungkan sumur dari hulu ke laut. Kusampaikan lagi ke panglima, dan aku terjaga dalam mimpi kerinduanku.

‘Keriduan sesungguhnya adalah kuman kematian’. Mungkin tak berlaku umum, karena itu tak datang dari Kitab Suci. Hanya sepotong catatan yang ditulis Leonardo da Vinci, pelukis terkenal itu pada ujung abad ke-15. Da Vinci menulis, ”…manusia, dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru, dan bulan-bulan yang baru selamanya… tak sadar bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”

Sebuah pandangan yang muram mungkin, tapi Da Vinci tak hendak membuyarkan kerinduan kita pada sesuatu. Pelukis zaman renaissance itu kemudian menyitir, kita tak harus menyesali, justru harus menyambut, nasib yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah sampai.

Karena, ‘Kerinduan’ itulah, kata Da Vinci, sebagai ‘sifat dasar kehidupan’. Dan manusia adalah sebuah tauladan, minimal bagi dirinya sendiri.

Kerinduan bukan lah narsisme. Memang kadang ketika kita memandang ke dunia, yang kita temukan adalah wajah sendiri, kawan-kawan kita dan rekan-rekan kita. Lalu kita mengaguminya, tapi bukan berarti –selamanya- kawan adalah kita dan kita adalah kawan.

Ada batasan-batasan yang tak pernah bisa diungkapkan, karena manusia di jagad ini adalah ukuran segala-galanya. Karena juga kami sering menulis semua ‘Manusia’ dengan ‘M’, bukan ‘manusia’ dengan ‘m’. Minimal dalam kerinduan-ku sendiri, yang mungkin ikut membawa kuman untuk kematian-ku sendiri.

Banda Aceh, 11 Juli 2008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here