Kepingan ‘Surga’ dari Puncak Geurutee

0
16

“Kita berhenti di depan lagi, pemandangannya sempurna,” Zuhri memberi aba-aba. Sampai di tempat yang dimaksud, aku memarkir mobil ke tepi merapat di tebing Geurutee.

Kami sepuluh orang dengan dua mobil, turun memilih sebuah pondok yang menjajakan minuman dan makanan. Ada banyak pondok di tubir jurang yang dibangun khusus oleh warga sebagai tempat rehat bagi pengguna jalan yang ingin menikmati pesona laut, menikmati sunset dari atas Geurutee.

Muhajir (@muhajir.juli) membawa tentengan kepiting yang dibelinya dalam perjalanan. Kami lalu meminta pelayan café untuk membuat mie serta menyiapkan minuman. Rekan @zul.masry, @nasir83 dan sebagian lainnya memilih kelapa muda, aku memilih kopi.

[Photos: @abuarkan]

Memandang ke bawah, kepingan ‘surga’ mungkin telah jatuh di sana. Aku hanya menamsilkan dalam dugaan, karena tak pernah melihat surga sesungguhnya. Sungguh pesona yang sulit dilukis kata, tersaji  paduan pegunungan terjal, pantai, hamparan sawah, laut, teluk, lembah, pulau dan hutan. Jika sore hari, pemandangan makin eksotis ditemani matahari terbenam di ujung laut Samudera Hindia.

Geurutee adalah sebuah gunung yang menjadi batas kawasan Aceh Besar dan Aceh Jaya atau sekitar 75 kilometer dari Banda Aceh. Jalan berkelok sempit membuat kenderaan bermotor tak bisa melaju kencang, mesti hati-hati jika tak ingin menabrak tebing atau terjun ke jurang. Kalau hujan, membuatnya semakin rawan.

Siapapun yang singgah di kawasan ini tak alpa memotret atau sekadar selfie dengan latar keindahan alam asri tak terkira. Garis pantai dengan pasir putih ditemani Pulau Kluang tanpa penghuni. Nelayan kerap singgah di pulau yang kerap disinggahi penyu serta burung walet yang mengisi sudut-sudut tebing di sana.

Di balik keindahannya, Kawasan Geurutee menyimpan banyak sejarah semasa konflik Aceh. Jalan yang mengintari gunung itu kerap menjadi lokasi penghadangan tentara pemerintah oleh kombatan. Belakangan, TNI membangun pos di atas puncak Geurutee untuk memastikan keamanan dalam pergerakan pasukan.

Saat tsunami 26 Desember 2004, aku sempat mendengar cerita beberapa tentara yang bermarkas di sana menyaksikan langsung ombak raksasa menggempur kawasan di bawahnya. Pesisir dan kampung-kampung rata tanah.


Kini kondisi telah pulih kembali. Pesona Geurutee merindukan siapa saja yang pernah ke sana untuk kembali melihatnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here