Jejak Sang Bendahara

0
42

Majalah TEMPO
Senin, 06 Februari 2012

Desa Meunasah Lueng, 42 kilometer ke arah barat dari Bireuen, ibu kota Kabupaten Bireuen, mendadak ramai pada 9 Desember lalu. Tamu dari sejumlah negara datang ke sana dengan berbagai jenis mobil. Rombongan peserta seminar Tun Sri Lanang itu melintasi puluhan desa sebelum tiba di Kemukiman Kuta Blang di tengah desa tersebut. Di kiri dan kanan jalan terhampar sawah yang luas. Tampak pula sebuah masjid peninggalan Tengku Syekh Abdul Jalil, putra ulama besar Aceh, Tengku Chik Awe Geutah Peusangan.

Sebelum sampai jalan memasuki area masjid, berjarak 300 meter di antara kawasan persawahan, ada jalan selebar 3 meter yang terlihat baru diaspal. “Ini dulu dikenal dengan Jalan Raja,” kata Anwar, 58 tahun, penduduk setempat.

Setelah melewati perkampungan, mereka bertemu dengan pekuburan berpagar beton cat kuning di sebuah persimpangan jalan. Tak jauh dari sana, berdiri tegak sebuah rumah panggung besar yang di depannya tumbuh pohon mangga besar. Di sisi kanan rumah ada deretan bangunan beton dan di hadapannya sebuah balai kecil. Di sinilah rombongan itu berhenti dan berziarah ke makam Tun Sri Lanang, yang dulu bermukim di rumah tersebut.

Kompleks kuburan itu milik Ampon Chik Muhammad Ali Basyah, Uleebalang Samalanga dan keturunan keenam Tun Sri Lanang. Di tengahnya ada nisan yang sangat berbeda dengan nisan lain. Nisan yang diyakini sebagai kuburan Tun Sri Lanang itu panjang, berwarna cokelat, dan berukir-ukir dengan pucuk nisan mengerucut menyerupai kubah masjid.

Makam itu nyaris tak dikenal selama puluhan tahun sebelum keturunan Tun Sri Lanang melacak dengan sungguh-sungguh keberadaannya. Pencarian berawal saat Teuku Hamid Azwar, putra Chik Muhammad Ali Basyah, berwasiat kepada anak-cucunya untuk mencari jejak leluhur menjelang wafatnya pada 1996. “Saya meneruskan wasiat Bapak. Bapak saya selalu mengatakan, ’Tidak akan bahagia hidupmu bila tidak menelusuri jejak leluhurmu’,” kata Pocut Haslinda Muda Dalam Azwar, 66 tahun.

Pocut Haslinda menuturkan, sebelum ayahnya meninggal, U stad A. Yakobi, sahabat Hamid dan penulis buku Aceh dalam Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI, mampir ke rumahnya untuk meminta izin kepada Hamid buat menulis riwayatnya. Dari perbincangan mereka, muncullah cerita tentang Tun Sri Lanang.

Setelah ayahnya wafat, Pocut Haslinda dan keluarganya mulai melacak jejak leluhurnya. Soal makamnya, semula ada kabar bahwa kuburan Tun Sri Lanang berada di Desa Lancok. Namun, setelah menelaah dan menghadirkan keturunan Tun Sri Lanang dari Malaysia, mereka tidak yakin karena kuburan itu tidak punya ciri yang meyakinkan. Informasi yang ada menggiring mereka ke Samalanga dan menemukan sebuah makam di Desa Meunasah Lueng. Mereka yakin makam itu kuburan Tun Sri Lanang setelah menemukan kecocokan dengan nisan kerabat Tun Sri Lanang di Malaysia.

Salah seorang akademikus yang melacak jejak Tun Sri Lanang di Aceh adalah M. Adli Abdullah, pengajar di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Aceh. Saat mengambil master di bidang perbandingan hukum di Universitas Islam Internasional Malaysia, ia mulai tertarik kepada Tun Sri Lanang. Sewaktu pulang ke Aceh pada 1993, ia mulai menelusuri dokumen-dokumen lama mengenai Bendahara Johor pada abad ke-17 itu.

“Saya diuntungkan sempat berjumpa dengan beberapa orang tua di Samalanga, termasuk Kepala Mukim Masjid Raya, Idris; Cut Maimunah Batee Iliek; dan Cut Sakdiyah. Dari merekalah muncul titik terang bahwa Tun Sri Lanang pernah ada di Samalanga dengan gelar Dato’ Bendahara Sri Paduka Tun Seberang,” kata putra Teungku Abdullah, pemimpin pondok pesantren Darus Syariah di Kuta Blang, Samalanga, itu. Selama kuliah, dia tinggal di rumah Dato’ Sri Abdul Wahid Wan Hasan, penasihat Sultan Pahang dan Ketua Persatuan Sejarah Malaysia Wilayah Pahang, yang sangat tertarik pada hubungan Aceh-Pahang, khususnya sejarah Tun Sri Lanang.

Adli juga melacak makam sang Bendahara hingga menemukannya di Meunasah Lueng pada 2000. “Di situ ada rumah lama dan kuburan tak diurus yang berada di tengah semak belukar. Tak ada pihak yang tertarik dan peduli,” katanya.

Sejak itu, Adli sering diundang untuk mempertahankan temuan dia di depan para sejarawan Melayu, yang pada awalnya tak yakin Tun Sri Lanang wafat di Aceh. Pertemuan yang pernah dia hadiri adalah seminar di Johor, Kelantan, Universitas Syiah Kuala di Aceh, dan Universiti Sains Malaysia.

Anwar, 58 tahun, warga Meunasah Lueng, menyatakan sebelumnya kompleks kuburan itu disebut oleh warga sebagai Lampoh Reumoh Kreueng atau Kebun Rumah Kreueng milik Ampon Chik Muhammad Ali Basyah. Di depan kompleks itu terpasang papan jalan dengan tulisan “Jl. Pocut Firdaus”. Pocut Firdaus adalah keturunan Ampon Chik Muhammad Ali Basyah yang meninggal saat menunaikan ibadah haji di Mekah.

Semasa kecilnya, para sesepuh kampung, seperti Teungku Imam Yusuf, Teungku Muhammad Dahlan, dan Teungku Muhammad Ali, sempat mengisahkan soal adanya kuburan orang Malaysia di kawasan tersebut. “Namun yang mana kami juga tidak tahu saat itu,” ujar Anwar.

Imam desa waktu itu, kata Anwar, juga pernah bercerita bahwa Tun Sri Lanang bertubuh tinggi dengan warna kulit putih kemerahan. “Kitab Sulalatus Salatin kalau tidak salah dulu ada sama Teungku Dahlan, namun sekarang tidak ada yang tahu di mana dia menyimpannya. Tapi saya waktu itu masih kecil dan daerah ini kan konflik terus, kapan sempat orang ingat hal kek gituan,” kata Anwar, yang sempat merantau ke Malaysia pada masa konflik terjadi di Aceh.

Nasir, 50 tahun, warga lainnya, menuturkan, pada 1960-an, di kuburan tersebut ada seekor harimau yang selalu berjalan dari kuburan di Reumoh Kreung, melintasi kuburan Syekh Abdul Jalil di sekitar Masjid Desa Meunasah Lueng, ke Masjid Kuta Blang, yang total berjarak sekitar 600 meter. “Itu harimau teungku (’harimau ulama’), tapi dia tidak mengganggu masyarakat,” kata Nasir. Asnawi, kepala desa setempat, dan beberapa warga lain membenarkan cerita tersebut.

Pocut Naimah, 67 tahun, warga Kampung Baro, Samalanga, mengatakan Teuku Hamid Azwar masih saudara satu kakek dengannya. Pada 1980, Reumoh Kreueng sempat dibersihkan oleh Teuku Hamid Azwar dan dijadikan balai pengajian serta tempat perempuan desa belajar menjahit. “Saya tidak ingat entah berapa lama kegiatan itu bertahan,” kata perempuan yang dipanggil Nyak oleh masyarakat di sana itu.

Kini Reumoh Kreueng telah berubah. Semak dan pepohonan sudah tak ada lagi. Yang tersisa hanya pohon mangga besar di halaman. Pada 2006, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh membangun pagar di sekeliling kuburan itu. Masyarakat juga membersihkan kompleks itu sebelum tamu peserta seminar Tun Sri Lanang berdatangan.

Imran M.A., Adi Warsidi, Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here