“Ini Bukan Novel Sejarah”: Kura-kura Berjanggut #2

0
131

“Ini bukan novel sejarah,” kata Azhari berulangkali saat aku menjumpainya suatu malam usai tarawih awal Juni lalu. Kami sedang membahas karya besarnya, sebuah novel “Kura-Kura Berjanggut”.

Plot yang ditulisnya dalam novel itu adalah peristiwa yang umum terjadi di Aceh pada masa silam. Ini ditemuinya berdasarkan banyak bacaan sejarah pada buku-buku penulis lawas seperti catatan Tom Pires, Ibnu Batutah dan juga Marcopolo. Kondisi saat kolonialisme baru mekar meramaikan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan rempah-rempah.

Jalur tak hanya dilewati para pedagang dari Asia seperti Turki, India dan Cina, tapi juga pedagang kulit putih dari Portugis, Belanda dan Eropa lainnya mulai menebar pengaruh di kawasan tersebut. “Setingan waktu di Novel, saat globalisasi baru saja dimulai sekitar satu abad,” jelas Azhari.

Novelnya punya tiga bagian, Azhari menyebutnya sebagai premis berlapis. Pertama memuat catatan Si Ujud yang hidup abad ke-17, saat Sultan Lamuri Nurriddin alias anak haram berkuasa penuh. Dia bersahabat baik dengan Sultan Lamuri. Tapi, Si Ujud sebenarnya adalah musuh dalam selimut.

Selanjutnya bagian kedua, buku harian Tobias Fuller yang berkisah tentang kondisi waktu abad ke-20. Bagian selanjutnya mempertemukan kedua setingan tersebut dalam bagian: Lubang Cacing.

Bagian Catatan Tobias, diakui Azhari ditulisnya lebih cepat. Dia menulisnya selama lima bulan saat berada di Belanda sekitar tahun 2010. Kerjanya di sana hanya menulis dan mengunjungi beberapa museum yang menyimpan kisah di nusantara, untuk referensi imajinasinya. “Mungkin lebih fokus saja saat menulis,” katanya.

Foto: Muhajir

Bagian ini banyak dipengaruhi pengetahuan sejarah tentang Pemerintah Belanda saat itu di Aceh yang mengutus seorang dokter jiwa RA Kern untuk meneliti perilaku orang Aceh yang banyak membunuh kaum mereka atau dikenal dengan istilah ‘Atjeh Mooden’.

Di novel Kura-kura Berjanggut, Tobias diutus pemerintahnya untuk menyelidiki perilaku pembunuhan orang-orang Lamuri terhadap bangsa kulit putih yang menguasai perdagangan rempah di Selat Malaka. Tobias yang tak percaya takhyul, menulis catatan berdasarkan pengakuan para pembunuh, misalnya karena dirasuki buku Si Ujud.

Bagian paling lama ditulis Azhari adalah plot kisah Si Ujud di bagian pertama. Bagian ini menjadi roh novel, membangun karakter yang kuat para tokoh cerita. Jika gagal di sini, maka gagallah melahirkan karyanya. Dia sempat berpikir untuk mengurungkan novelnya setelah bertahun-tahun tak kelar. Bagian ini ditulisnya di Aceh, di sela-sela kesibukan lainnya.

Bagian terakhir, Lubang Cacing diakui Azhari paling sulit. Bab ini harus ditulis hati-hati untuk menghubungkan kisah Buku Si Ujud dan Buku Tobias, yang dipisahkan settingan waktu selama tiga abad. Novel ini akhirnya kelar Mei 2018 lalu dan beredar luas di Aceh.

Kendati berlatar kisah hampir mirip sejarah Aceh, Azhari menolak Kura-kura Berjanggut sebagai novel sejarah. Lakon para tokoh novelnya umum ditemui dalam pada masa dulu, tak hanya di Aceh, tapi juga di Banten, Mindanau, juga Gujarat di India. Semua pedagang membangun kongsinya, termasuk pemimpin seperti Sultan yang ikut berdagang.

Di dunia nyata juga dalam novel, Buku Si Ujud dan Buku Harian Tobias Fuller tak pernah ditemukan. Karya Si Ujud dibakar kolonial yang menguasai Lamuri kemudian, sementara Catatan Tobias hilang entah kemana. Azhari kemudian menulis kembali dalam imajinasinya. Penasaran terhadap bukunya, silakan pesan. [Tamat]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here