Ie Beuna, Sebuah Kearifan tentang Bencana

0
256

Hidup di wilayah bencana gempa dan tsunami, masyarakat pesisir Aceh punya kearifan lokal sejak dulu dalam mengenal karakter gempa. Selain menuturkan juga menulisnya dalam kitab tafsir gempa untuk diwariskan.

Kitab kuno ramalan pascagempa pernah dipamerkan saat ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, pertengahan Agustus 2018 lalu yang menarik perhatian banyak pengunjung. Kitab itu milik Pemerhati Budaya Aceh, Tarmizi A Hamid yang juga kolektor kitab kuno Aceh. “Pendahulu kita telah mengenal gempa dan tsunami dan mencatatnya, kita saja yang lupa menjaga warisan kearifan lokal,” kata Tarmizi kepada saya, 14 November 2018.

Menurutnya, kitab tak terdeteksi siapa penulisnya. Tapi diyakini karya ulama dan pemikir sufi abad ke-18, sesuai watermark di kertas naskah. Ada juga kisah tentang tsunami dikenal dengan Ie Beuna. Bahkan gempa yang disusul Tsunami Aceh pada Minggu 26 Desember 2004 silam pada waktu Dhuha (pagi) juga cocok dengan yang tertera di kitab tersebut. ” Jika pada ketika Dhuha alamat bala akan datang kepadanya Ie Beuna,” tulis salah satu naskah dalam kitab.

Seringnya bencana gempa dan tsunami masa lalu di Aceh menjadikan bahan bagi pemikir mengumpulkan fakta-fakta dan menyusunnya dalam sebuah tulisan. Selain diceritakan turun-temurun, sesuai kondisi dan kemampuan leluhur pada saat itu. Mereka menulis, mewariskan pengetahuan dalam manuskrip dan juga bertutur sesuai dengan geografis wilayah di Aceh.

Ie Beuna di Aceh dikenal hampir di semua pesisir, terutama di Banda Aceh dan Aceh Besar sebagai pusat kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Sepengetahuan Tarmizi, semasa Kesultanan Aceh tercatat empat kali gempa besar yang menimbulkan Ie Beuna, yaitu pada tahun 1797, tahun 1833, tahun 1861 dan tahun 1906. Terakhir adalah yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004.

Sebelumnya berdasarkan hasil beberapa penelitian, ada dua bencana tsunami pernah terjadi sekitar 600 tahun lalu di daratan Aceh, yang berpengaruh pada perpindahan pemukiman, tahun 1390-an dan kedua pada 1450-an.

Tarmizi A Hamid

Dulunya, budaya tutur tentang bencana sangat kental diwariskan di Aceh secara turun-temurun. Setelah bencana tsunami Aceh 1906, kisah tentang gempa dan Ie Beuna semakin jarang diceritakan. Hal ini kemungkinan dipicu faktor sosial budaya Banda Aceh dan Aceh Besar yang semakin maju dengan multietnis dan melupakan cerita-cerita rakyat yang berkembang.

Faktor paling kuat adalah konflik di Aceh yang berkepanjangan, dimulai dari perang dengan Belanda, DI/TII sampai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berakhir damai pada Agustus 2005, setelah tsunami Desember 2004 menggulung Aceh. “Masa konflik, sibuk berperang maupun menyelamatkan diri, tidak terlalu peduli dengan kisah-kisah mitigasi bencana. Karena sedang bencana konflik,” kata Tarmizi.

Usai konflik Aceh, kearifal lokal itu mulai dibangkitkan kembali dengan cara berbeda, kendati belum maksimal mengingat pengaruh global dan perkembangan teknologi yang pesat. “Dulu tidak ada media dan sirine. Saat ini dengan teknologi modern, kita tidak boleh serta merta melupakan kearifan lokal masa lalu.”

Dia berharap, sepatutnya masyarakat dapat memadukan dua keilmuan sehingga dapat menambah pengetahuan dan kesiap-siagaan terhadap bencana di sekitarnya. []

Note: Sebagian naskah ini dimuat di Koran Tempo Edisi 17 November 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here