Harus Seizin Tentara: Meliput Konflik #4

0
20

Aku mendapat tugas untuk liputan pengungsi konflik ke dua lokasi, Aceh Selatan dan Aceh Jaya. Media tempatku menulis, acehkita.com sedang melakukan investigasi kondisi pengungsi akibat konflik di Aceh. Beberapa rekan lainnya mendapat tugas di Aceh Timur dan Aceh Utara.

Saat konflik Aceh, banyak warga terusir dari kampung halaman akibat perang, rumah dibakar atau terpaksa pergi untuk keamanan diri. Harta ditinggal begitu saja, nyawa lebih penting. Aceh dalam darurat perang, sampai perdamaian hadir pada 15 Agustus 2005.

Awal Desember 2004, setelah koordinasi dengan redaksi di Jakarta, aku berangkat seorang diri menumpang mobil angkutan umum. Lokasi pengungsi di Lhok Bengkuang, Aceh Selatan tujuan pertama. Berulangkali Pemimpin Redaksi, Dandhy Dwi Laksono memastikan kesiapanku, terutama identitas dan keuangan.

Aku tak membawa identitas acehkita.com, karena mustahil mengaku menulis untuk media itu jika berhadapan dengan aparat pemerintah. Media tersebut dinilai mendukung musuh mereka, Gerakan Aceh Merdaka (GAM), padahal tidak. Baca: Petuah Para Senior: Meliput Konflik #1

Identitas yang kubawa adalah kartu pers Tabloid Lacak, media yang dikelola J Kamal Farza atau @jkfarza di Jakarta, yang juga petinggi acehkita. Tabloid itu tak tersebar di Aceh, terbitnya pun kadang-kadang.

Sumber: http://www.acehkita.com/menghindar-untuk-melawan/

Berangkat pagi dari Banda Aceh, aku tiba di Kota Tapak Tuan malam harinya. Aku menginap di rumah seorang kawan dekat di sana. Malam itu, aku keliling kota Tapak Tuan dan menyisir lokasi pengungsi yang terletak dua kilomater dari pusat kota. Sebelum tidur, aku menyiapkan segala seuatu keperluan liputan, buku notes, pulpen, rekaman dan kamera.

Esok pagi, 10 Desember 2004, aku berangkat ke camp pengungsi meminjam motor kawanku. Di tempat pengungsian yang dihuni hampir seribuan orang, tak diperkenankan masuk. “Izinnya harus ke Kodim, kalau tidak ada izin dari sana, tidak bolek masuk,” kata Lukman, koordinator pengungsi di posko depan.

Tak menunggu lama, aku ke Kodim Aceh Selatan bersama salah seorang pengungsi yang ditunjuk Lukman untuk menemani. Setelah menjelaskan di pos penjagaan Kodim, aku diterima oleh Kepala Staf Kodim (Kasdim), Mayor Ahmad Yani. Mengenalkan diri sebagai wartawan dan izin untuk liputan.

Kasdim menanyakan identitas ku. “Dari Lacak pak,” ujar ku sambil meletakkan identitas di meja. Saya bersikap setenang mungkin. Jawabannya tak saya sangka sama sekali, “Oh iya, saya tahu Lacak, oke gak apa-apa, silakan meliput saya izinkan,” ujarnya. Saya beruntung, tak perlu berbicara lebih banyak.

Selanjutnya basa-basi sambil membeberkan kondisi Aceh Selatan pada umumnya. Saya cepat minta izin, agar dia tak berubah pikiran. Tapi Mayor Ahmad menahan, meminta saya minum dulu sambil menyodorkan dua bungkus kepada saya. “Nggak apa-apa pak,” saya menolak.

“Sudah ambil saja, nggak ada maksud apa-apa,” ujar Mayor Ahmad setengah memaksa. Aku mengambilnya, khawatir izin masuk ke lokasi dicabut. Lalu mohon diri dan langsung ke lokasi bersama kawan pengungsi.

Mendapat izin dari Kasdim, membuat aku bebas melenggang di area pengungsian. Betah di sana seharian, mengumpulkan kisah-kisah mereka yang terusir. Memotret anak-anak, ibu-ibu dan kegiatan mereka sehari-hari di bawah tenda-tenda darurat.

Sore harinya, Ahmad Yani memantau ke sana, aku sedang wawancara di sebuah pondok. Khawatir tentu ada, jangan-jangan aku dijemput untuk dan disuruh keluar dari sana. “Saya memantau saja, mudah-mudahan liputannya lancar,” tegurnya. Akh, aku aman.

Aku kembali ke rumah kawan menjelang Magrib, untuk mandi dan berganti pakaian. Malam harinya, aku masuk lagi ke tempat itu untuk merekam kondisi malam harinya. Salah satunya anak-anak pengungsi melakukan aktivitas rutinnya, mengaji di bawah lampu yang buram.

arsip acehkita.com

[Dokumen foto-fotoku di sana hilang saat tsunami mengobrak-abrik komputer dan tempat tinggal ku di Banda Aceh, 26 Desember 2004. Hanya dua pekan setelah mengunjungi mereka]

Saat ke Lhok Bengkuang, kucatat ada sebanyak 30 barak yang dihuni oleh 697 jiwa atau 240 KK. Mereka umumnya mengungsi sejak Juni 2003 dan mengaku belum berani kembali ke tempat asal mereka masing-masing dengan alasan keamanan, kampung mereka telah berubah menjadi medan perang. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here