Hadiah Puisi dari “Presiden”

0
35

Saat menikmati kopi pada siang tadi, aku tak menduga didatangi “presiden” dan dia menghadiahkan sebuah puisi. “Terserah kau mau menulis di mana,” katanya usai mengeja karyanya.

“Ya, nanti aku menulisnya di steemit,” kataku sekenanya sambil mencatat di handphone.

Dia bukanlah presiden sesungguhnya. Namanya Hasbi Burman, seorang penyair tua yang dikenal oleh banyak orang di Aceh terutama generasi sebayaku sampai generasi sebayanya. Julukannya “Presiden Rex” mengambil nama sebuah tempat nongkrong di kawasan Peunayong, Banda Aceh.

Nama Presiden Rex disandangnya usai sebuah media nasional menulis profilnya, sebagai penyair jalanan jago merangkai kata secara otodidak, tahun 1991. Lelaki kelahiran Lhok Buya, Calang, Aceh Jaya, tahun 1944 silam, awalnya berprofesi tukang parkir di kawasan Rex Peunayong. Kini usianya sudah tua, nyaman saja dengan gelar itu.

“Presiden sudah 74 tahun, masih sehat, hanya sedikit asam urat,” katanya kepadaku.

Aku dekat dengannya sejak pascatsunami melanda Aceh. Saat aku mengelola sebuah media lokal pada 2008 silam, puisinya selalu mendapat tempat saban Ahad. Uniknya, dia tak mengirimnya melalui email tapi datang pada Sabtu ke kantor redaksi. Menulisnya pada kertas untuk kami ketik kembali.

Jika alpa ke kantor, aku kerap menghubunginya menanyakan karya. Tak sempat ke kantor, maka puisi dkirimnya melalui pesan pendek lewat handphone merek nokia model lama. Belum berbasis android, bayangkan ribetnya karena satu pesan hanya mampu menampung 160 karakter. Kadang puisi panjang pula. Redaksi selalu membayar karyanya.

Hasbi pandai bergaul dengan siapa saja, bahkan para pejabat. Dia pernah menulis khusus puisinya untuk dipersembahkan kepada Marlinda Poernomo, istri mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh. Saat ini Marlinda anggota DPR RI di Senayan.

Pada Mei 2007 silam, dia pernah dinobatkan kembali sebagai Presiden Rex oleh para pekerja di Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh–Nias. Hasbi bak raja, diagungkan dengan kemeriahan yang dihadiri banyak orang penting. Sebanyak 20 puisinya dibaca bergantian oleh para seniman dan pejabat daerah. Setelahnya, dia kerap diundang dalam pentas budaya di Banda Aceh untuk membacakan karyanya.

Malam Ini, Presiden Rex Baca Puisi di Taman Budaya

 

Hasbi selalu tampil nyentrik sampai kini. Memakai sandal jepit, dia masih kuat berjalan dan bahkan merokok. Aku tak pernah bertanya apa aktivitasnya kini, yang pasti Hasbi masih mahir melafalkan puisi.

Simak saja karyanya yang dihadiahkan kepadaku, “Jangan lupa judulnya DHUAFA. Ini tentang nasib orang miskin,” katanya seperti perintah.

DHUAFA

Di bawah pohon rindang,

duduk bersimpuh,

menikmati kuliner angin.

Hasbi Burman, 28 Juni 2018

Puisi itu, katanya sebagai potret sosial orang dhufa di Aceh. Aku tak berani memaknainya, sila tafsirkan sendiri. Kau masih Tuan “Presiden”. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here