Gua Lhoong, Perekam Jejak Tsunami

0
67

Adi Warsidi

Terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai, mulut gua itu mengangga selebar satu kali gawang sepak bola, dengan tinggi mencapai 15 meter. Di sampingnya beberapa pohon dan semak belukar tumbuh. Sedikit ke dalam, semakin lebar.

Gua yang jarang dijamah mendadak terkenal, setelah para peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) menemukan jejak tsunami purba di dalamnya. Gua yang terletak sekitar 60 kilometer dari Banda Aceh, berada dalam kawasan Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong. Warga setempat menyebutnya dengan nama Gua Ek Gleuntie (kotoran kelelawar).

Mulut gua itu tak menghadap laut, tapi menyamping. Area menuju ke mulut gua telah dipagari oleh pemilik lahan, Syamaun (60 tahun). Lahan ditanami kelapa dan pohon jeruk. “Saya baru memagarinya, untuk memanfaatkan lahan ini,” ujarnya.

Lahan baru dipagarinya pada pertengahan 2012, agar tanamannya tak diganggu hewan ternak. Syamaun tahu tentang penelitian di gua itu. Saat kami datang, Februari 2014, dengan senang hati dia mengawal memasuki gua.

Sebelum tsunami 2004, jalan lintas Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya) berada di antara Gua dan laut. Saat rekontruksi Aceh, jalan utama tersebut dipindahkan sekitar 500-an meter menjauh dari garis pantai.

Saya menuju ke lokasi itu ditemani dua pemandu, Fachrul dan Fauzi, mahasiswa semester akhir Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang ikut membantu tim peneliti, sambil belajar. Sampai di mulut gua, dengan lampu yang kami siapkan sebelumnya, dengan sigap Facrul berjalan di depan, memandu kami.

Semakin ke dalam, gua horizontal tersebut semakin lebar hampir tiga kali lapangan volley. Tingginya beragam, antara 10 – 20 meter. Semakin jauh, gua berletel L semakin gelap. Kelelawar yang terusik terbang lalu-lalang. “Di sini kami menggali, ada beberapa titik,” ujar Fachrul menunjuk, setelah kami masuk sekitar 20 meter.

Lubang yang digali telah ditutup rapi kembali, hanya ditandai kayu-kayu. “Peneliti tak mau merusak isi dalam gua, jadi setelah digali ditutup lagi,” kata Fauzi memberi keterangan. Yang terlihat hanya bekas tanah bercampur guano yang lembik saat dipijak.

Fauzi lalu menunjuk sebuah bagian gua yang seperti terowongan, yang harus menunduk jika ingin masuk. Bagian itu akan menuju ke sebuah ruangan besar yang di atasnya ada lubang yang dapat dimasuki cahaya. “Tapi tidak ada penggalian di dalam sana.”

***
Kepala Peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Nazli Ismail, Ph.D, mengatakan penelitian merekam jejak tsunami purba pada gua adalah kerjasama antara Earth Observatory of Singapore (EOS) dan Unsyiah. Survey gua dan proses awal penelitian telah dilakukan sejak 2010.

Beberapa gua pernah mereka masuki di sekitar daerah pantai barat Aceh untuk mencari sedimen yang bagus agar bisa diketahui keberadaan tsunami masa lampau di Aceh. Terakhir ditemukanlah Gua Lhoong yang dinilai bagus untuk hasil penelitian.

Proses penggalian di dalam gua mendapatkan hasil sedimen yang dapat menunjukkan kejadian tsunami masa lalu. Beberapa materi dibawa untuk diteliti umurnya melalui analisa radiokarbon di laboratorium.

Pada 2013 tim fokus untuk menulis laporan dan mempelajari materi yang didapat pada setiap sedimen. “Penggalian dilakukan beberapa kali dan bertahap. Sampai sekarang, kami masih menyempurnakan hasil,” kata Nazli.

Di dalam gua, tim tak hanya menggali satu lubang, tetapi ada beberapa titik untuk menemukan lapisan yang paling sempurna. Sebagian tak dapat digali lebih dalam. Hanya ada satu titik penggalian yang mencapai dua meter dan dinilai paling sempurna merekam sedimen jejak tsunami purba sampai tsunami sembilan tahun lalu.

Menurut Nazli, tim fokus pada satu titik tersebut. “Ada sekitar 7 sampai 11 lapisan yang terlihat,” ujar Ketua Jurusan MIPA Fisika Unsyiah itu. Sedimen berupa endapan pasir di dasar laut yang tersapu ke dalam gua ribuan tahun lalu, kemudian tertutup guano (kotoran kelelawar) dan tampak seperti kue lapis.

Kalau tsunami datang lagi, materi dasar laut termasuk kulit-kulit kerang tertumpuk lagi dan tertutup kemudian dengan guano. Begitulah terjadi berulang kali hingga mengeras di dasar gua. “Memberi bukti ada sekitar 11 tsunami telah terjadi di Aceh sejak 7.500 tahun lalu.”

Materi sedimen di gua yang masih terus diselidiki tim menandakan jangka waktu antar tsunami yang tidak pasti. Kata Nazli, sebelum Desember 2004, tsunami terjadi sekitar 2.800 tahun lalu, namun ada empat tsunami yang terjadi dalam periode 500 tahun sebelum itu.

Sementara, peneliti mengetahui bahwa tsunami pernah melanda Banda Aceh dan Aceh Besar pada sekitar tahun 1393 dan 1450. “Yang ini, sementara belum nampak di materi sedimen, mungkin ada tapi belum ditemukan,” kata Nazli. Kemudian juga ada tsunami besar pada 1907 yang berpusat di Kepulauan Simeulu, yang belum ditemukan rekamannya di Gua Lhoong.

Keberadaan tsunami pada tahun-tahun tersebut ditemukan buktinya di tempat lain dalam penelitian yang berbeda, yang juga melibatkan Nazli. Dia mengatakan sebuah tsunami besar bisa saja menyapu bukti adanya bencana lain melalui erosi, sehingga bekas tsunami 1393 dan 1450 luput terekam di Gua Lhoong.

Gua Lhoong dapat melengkapi data-data tentang tsunami yang sudah pernah didapat para peneliti sebelumnya. “Dengan mempelajari tipe tsunami yang terjadi di masa lalu, mungkin kami dapat merencanakan mitigasi untuk tsunami berikutnya,” ujar Nazli.

Dia berharap, gua tersebut dapat dijadikan museum perekam jejak tsunami di Aceh. Perkiraannya, banyak sekali gua-gua di sepenjang pantai barat Aceh yang belum diekplorasi peneliti, yang memungkinkan adanya rekam jejak tsunami purba. Juga banyak wilayah rawa-rawa di sekitar wilayah Kecamatan Lhoong, Kecamatan Leupung (Aceh Besar) dan Kecamatan Lamno (Aceh Jaya) yang merekam jejak itu.

Di Gua Lhoong, peneliti tak dapat merekam bagaimana kondisi kehidupan Aceh di masa lalu. Yang terekam hanya jejak tsunami dan kondisi hutan bakau di sekitar lokasi itu. Misalnya adanya temuan satu lapisan yang terdiri dari arang kayu, yang menandakan wilayah itu dulunya terdiri dari hutan bakau.

Dalam sebuah dokumen penelitian yang ditunjukkan Nazli, terlihat gambar sedimen detil dengan label perkiraan masa terjadinya tsunami purba. “Dokumen penelitian belum bisa saya berikan, karena masih belum lengkap. Nanti kalau sudah dipublikasi, akan kami berikan,” jelas Nazli.

***
Di luar gua, Nazli telah menemukan bukti kedasyatan tsunami yang berkaitan dengan kehidupan masa lalu Aceh. Misalnya di situs Lamreh, Aceh Besar, di pertapakan Kerajaan Lamuri, benteng Indrapatra dan benteng Malahayati. Di sana ditemukan rekaman sisa tsunami 1393 dan 1450 pada bekas-bekas keramik yang menjadi pondasi benteng dan bangunan.

Tsunami yang terjadi di masa itu diduga ikut mempengaruhi sejarah perpindahan pusat kerajaan masa lampau. Saat penggalian, ada keramik yang diperkirakan keberadaannya sekitar tahun-tahun tersebut. Pada bagian-bagian keramik, banyak ditemukan sisa pasir tsunami yang dapat diteliti umurnya.

Kemudian, tim peneliti MIPA Unsyiah juga pernah melakukan penelitian di situs bekas pusat kerajaan Indrapurwa, yang terletak di Ujong Pancu, Aceh Besar. Pusat kerajaan lampau yang pernah digerus tsunami lalu, saat ini berada di laut. Jika air surut, wilayah itu menjadi dangkal dan dengan sedikit menyelam dapat melihat banyaknya batu nisan dan bekas-bekas pondasi bangunan dan keramik-keramik. “Kami menyebutnya the lost city.”

Ada dua kali perpindahan pemukiman warga di sekitar Ujong Pancu, yang juga meninunjukkan pada tahun 1390-an dan 1450-an. Artinya, wilayah pantai tersebut tergerus oleh gelmbong raya. Pembuktian itu semakin kuat dengan tsunami 2014 lalu, sebagian wilayah Ujong Pancu tergerus kembali dan pemukiman warga semakin bergeser ke darat. Di sekitar Ujong Pancu, pihaknya juga pernah menggali untuk meneliti sedimen tsunami. Tetapi tidak ditemukan sedimen yang dapat merekam jejak itu.

Selain di tempat itu, jejak tsunami yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu juga diteliti di wilayah Kampung Pande, Banda Aceh. Di sana juga ditemukan banyak jejak kehancuran kota yang diduga berhubungan dengan tsunami masa lalu.

Menurutnya, penelitian terus dilakukan untuk melengkapi data-data tentang tsunami yang pernah melanda Aceh. Penelitian yang terpisah pada beberapa tempat saling melengkapi untuk kesempurnaan rekam jejak. “Sebenarnya Aceh adalah museum terbesar tentang tsunami. Kami terus mencari bukti untuk pembelajaran dan transfer pengetahuan ke masyarakat.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here